Greenpeace hari ini menyambut keputusan Unilever untuk memberlakukan moratorium kerusakan hutan di Indonesia serta menegaskan bahwa sikap baru ini seharusnya dapat mendorong pemerintah Indonesia untuk segera mengambil tindakan yang lebih agresif untuk menghentikan deforestasi dimulai dengan memberlakukan moratorium pembalakan dan konversi hutan.
Sehari sebelum peringatan 22 tahun kecelakaan nuklir di Chernobyl industri nuklir, dunia diguncang dengan terungkapnya kasus kecelakaan nuklir besar di Spanyol serta penundaan mahal dan defisiensi berkaitan dengan pembangunan yang disebut dengan reaktor nuklir utama renaisans di Prancis dan Finlandia yang terus mempermalukan pihak industri.
Unilever, nama dibalik berbagai merek besar dunia, termasuk sabun Dove, menyumbang perusakan hutan serta lahan gambut Indonesia, ekosistem terakhir di muka bumi yang merupakan cadangan karbon yang besar serta merupakan habitat orangutan serta satwa langka lainnya, menurut organisasi lingkungan hidup Greenpeace.
Greenpeace menyatakaan kepada pemerintah Thailand dan seluruh pemerintah di dunia untuk menggunakan dana pembangunan pada program energy efisien yang menggunakan energi terbarukan dibandingkan memakainya untuk membangun PLTN yang mempunyai resiko tinggi dan biaya sebesar 1.38 trillyun bath.
Setelah 11 hari menghadang penangkapan ikan paus yang di lakukan oleh kapal Jepang Nisshin Maru, aktivis Greenpeace dari kapal Esperanza, berhasil menghadang beberapa saat ketika kapal tersebut melakukan iring-iringan dengan sebuah kapal yang akan mengambil barang yaitu Oriental Bluebrid di Samudra selatan tempat perlindungan Paus.