MINYAK YANG BERSAHABAT

Sebuah solusi atas perkebunan kelapa
sawit berskala industri

Praktik perkebunan sawit yang bertanggungjawab yang dilakukan warga Desa Dosan, Kabupaten Siak, Provinsi Riau telah menarik minat Menteri Pertanian Indonesia, Suswono untuk berkunjung. Pada 10 Januari 2013, Menteri Suswono berkunjung ke Dosan untuk menyaksikan bagaimana masyarakat di sana menerapkan praktik baik perkebunan sawit yang mengutamakan peningkatan produktifitas lahan daripada melakukan ekspansi ke kawasan hutan. Masyarakat Dosan juga telah berkomitmen untuk tidak menebang sisa hutan di desanya. Setelah menjadi saksi inisiatif tersebut dan berbincang di perkebunan sawitnya, Menteri Suswono memberikan apresiasi positif atas apa yang dilakukan masyarakat dan dukungan LSM seperti Perkumpulan Elang, Jikalahari dan Greenpeace yang mendukung inisiatif tersebut.

Menteri Pertanian Indonesia, Suswono "Beberapa bulan lalu, saya berjanji pada Greenpeace untuk mengunjungi contoh praktik baik kepala sawit. Proyek ini membuktikan bahwa kelapa sawit berkelanjutan itu mungkin dan kita akan bersama-sama menghadapi citra negatif sektor industri kelapa sawit Indonesia di beberapa negara pengimpor."

Bupati Siak, Riau, Syamsuar "Kami berharap ini bisa menjadi contoh di Riau dan Indonesia, bagaimana membangun kelapa sawit bagi peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga terintegrasi dengan sistem yang ramah lingkungan. Sehingga pemanfaatan lahan gambut ini tidak hanya bisa diamanfaatkan oleh masyarakat tetapi juga penting untuk pemeliharaan alam secara berkelanjutan.”


Mengapa penting melindungi hutan?

Kerusakan dan degradasi hutan menyebabkan perubahan iklim dengan dua cara. Pertama, menggunduli dan membakar hutan melepaskan karbondioksida ke atmosfir dan kedua, wilayah hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon berkurang. Peran mereka dalam mengatur iklim sangat penting sehingga jika kita terus menghancurkan hutan tropis, maka kita akan kalah dalam memerangi perubahan iklim. Hutan adalah rumah bagi keanekaragaman hayati dunia -- jutaan binatang dan tumbuhan. Terlebih lagi, jutaan masyarakat asli hutan bergantung kepada hutan sebagai sumber kehidupan mereka.


Bertani
kelapa sawit yang
bertanggung jawab

Di awal tahun 2000-an, Pemerintah Kabupaten Siak bersama-sama dengan perusahaan sawit milik negara, merancang sebuah skema untuk petani sawit skala kecil yang hasilnya adalah pengelolaan perkebunan diserahkan kepada beberapa koperasi masyarakat lokal. Sejak tahun 2008, penduduk Desa Dosan telah mengelola perkebunan secara mandiri, keuntungannya dapat diperoleh kembali oleh desa mereka, serta menyediakan juga lapangan pekerjaan bagi penduduk Dosan. Dengan dukungan LSM lokal Elang, perbaikan praktik pengelolaan telah meningkatkan produksi panen dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Skema perbaikan pengelolaan ini terbilang sukses sehingga bisa menjadi acuan untuk pengelolaan lahan gambut di Indonesia.


Panorama

Drag the image horzontally to explore in 360˚

Apa yang sangat penting dari lahan gambut di Indonesia?

Gambut terbentuk ketika genangan air menghambat pembusukan bahan organik - kebanyakan vegetasi - dan terkumpul selama ribuan tahun. Secara global, gambut menyerap 25-30% emisi karbondioksida setiap tahunnya dan tanahnya mengandung 1.200 kali lebih banyak karbon dibandingkan pepohonan.

Ketika gambut dikeringkan, cadangan karbon bereaksi dengan oksigen di atmosfir. Lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar, memiliki resiko yang tinggi dan api yang terus membara di dalam tanah akan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Lahan gambut Indonesia, menutupi permukaan bumi sebesar 0,1 persen, namun dengan mengeringkan lahan gambut dan membakarnya telah menyumbang 4 persen emisi global per tahun, menjadikan Indonesia menjadi negara ketiga terbesar penyumbang emisi.

Bagaimana cadangan karbon bisa menjadi pelepas karbon yang berbahaya

Lahan gambut mengandung 20 persen sumber air tawar dunia, berperan penting dalam mengatasi kekeringan dan pencegahan terhadap banjir. Gambut tropis adalah hunian bagi keanekaragaman hayati, keunikannya (termasuk medannya yang sulit) sering membuat lahan gambut jarang diteliti.

Desa Dosan terletak di ujung wilayah lahan gambut Kampar. Luasnya yang mencapai ribuan hektar dan kedalaman lahan gambutnya bisa mencapai 15 meter, menjadikan Kampar sebagai wilayah lahan gambut yang terbesar dan paling terancam di dunia.

Dampak pembuatan kanal terhadap pengeringan kubah gambut dimodifikasi dari sistem hidrolik Delft, 2006

Situasi alami
Gambut berakmulasi selama ribuan tahun, menyerap karbon dari hutan dan membentuk kubah pengikat air berdiameter 5-50 kilometer. Jalur air terletak dekat dengan permukaan.

Pengeringan
Ketika lahan gambut dikeringkan, permukaan jalur air bawah tanah tersebut menjadi turun, mencegah penyerapan karbon lebih lanjut. Ketika terpapa udara maka gambut akan mulai terurai.

Pengeringan terus menerus
Dengan mengeringkan jalur air gambut mendatangkan resiko tinggi, terdapat api yang terus menyala dalam jangka waktu yang lama.

Tahap akhir
Jika tidak dilakukan pencegahan/mitigasi, karbon akan terus lepas dan lahan gambut akan amblas.

Komunitas yang melindungi
hutannya

Hutan selalu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Dosan, alasan kebutuhan dan prioritas melestarikan hutan menjadi sama pentingnya, karena hutan memberi mereka karet, rotan, makanan dan kayu. Mereka yang dahulunya pernah mengabaikan hutan, saat ini lebih bijaksana dalam mengelola perkebunan kelapa sawit dan buktinya mereka memiliki kualitas hidup yang lebih baik sekarang. Siklus kehidupan mereka telah sempurna. Tidak ada lagi kemiskinan di desa mereka.


Panorama

Drag the image horzontally to explore in 360˚

Cerita dari Desa Dosan


Dimanakah para harimau dan gajah?

Danau Nagasakti merupakan danau di kawasan gambut yang sangat luar biasa jernihnya dengan latar belakang hutan primer. Selain menjadi rumah bagi satwa seperti Harimau Sumatera, wilayah tersebut juga merupakan penyokong kehidupan bagi sejumlah keragaman hayati. Merupakan bagian dari kubah gambut Kampar, wilayah ini dipengaruhi oleh perubahan dalam jalur air gambut dan tutupan hutan. Masyarakat Dosan percaya bahwa danau tersebut suci dan memahami pentingnya menjaga wilayah tersebut --mereka lah penjaga hutan ini.


Panorama

Drag the image horzontally to explore in 360˚


Aksi lokal untuk solusi global

Terdapat solusi lokal di sektor kelapa sawit yang juga mampu melindungi hutan dan memberi keuntungan secara sosial dan ekonomi. Komunitas lokal adalah penjaga hutan dan lingkungan – nasib mereka lah yang dipertaruhkan dan mereka sangat bergantung kepada ekosistem yang berfungsi secara sehat. Di sisi lain, mereka memberi contoh bagaimana menanam kelapa sawit dengan kontrol lokal secara menyeluruh menguntungkan bagi masyarakat dan lingkungan serta membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Dimana lahan gambut telah dikonversi dapat dikelola dengan baik untuk menjaga kualitas dan kuantitas air, mengurangi dampak pada kubah gambut dan mengurangi emisi.


Rusmadya Maharuddin, Jurukampanye Greenpeace menjelaskan proyek perkebunan kelapa sawit masyarakat desa Dosan.

Masa depan Hutan


Greenpeace menyerukan agar:

1. Hentikan deforestasi – terutama agar tidak ada lagi konversi hutan alam menjadi perkebunan, konversi lahan gambut menjadi perkebunan atau lahan bukan hutan, tanpa membakar lahan.

2. Restorasi lahan gambut kritis yang sudah ditebang dan integrasi pengelolaan lahan gambut di kawasan yang sudah ditebang.

3. Pengembangan skema perbaikan pengelolaan petani sawit skala kecil (seperti desa dosan) di lahan yang sudah terdegradasi di seluruh Sumatera dan Indonesia.

4. Dukung komunitas lokal untuk melestarikan dan melindungi hutan mereka, dan mengambil metode ekologi bercocok tanam untuk perbaikan pengelolaan lahan.

Ayo ikut beraksi


greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions greenpeace.org/forestsolutions