Anak-anak yang berusia lebih kecil atau sama dengan 14 tahun di Indonesia diperkirakan telah melebihi 70 juta pada tahun 2013, atau hampir mencapai 29% dari total penduduk Indonesia. Populasi begitu besar ini mendorong tingginya permintaan terhadap pakaian anak-anak.

Penggunaan bahan kimia berbahaya dalam proses pembuatan baju anak-anak dapat meninggalkan sisa bahan kimia berbahaya pada produk jadi nya, yang berpotensi mengakibatkan dampak kesehatan pada anak melalui berbagai jalur paparan. Bahan-bahan kimia berbahaya tersebut dapat terlepas ke dalam lingkungan saat proses produksi dan juga pada saat produk pakaian tersebut dicuci  di rumah-rumah, yang pada akhirnya dapat mengancam kesehatan manusia.

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak lebih rentan dan dapat lebih sensitif terhadap beberapa efek dari bahan kimia berbahaya tertentu. Beberapa bahan kimia penggangu sistem endokrin  mempunyai kemampuan untuk menggangu fungsi hormon anak dan mempengaruhi perkembangan dari sistem genital, sistem imun, dan saraf.

Penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya pada produk seperti mainan anak, pakaian, dan produk lain akan meningkatkan pelepasannya ke dalam lingkungan, baik pada saat produksi ataupun dari produk tersebut secara langsung. Dalam beberapa kasus, mungkin saja terdapat potensi resiko jalur paparan tambahan bahan kimia berbahaya terhadap anak-anak.

Baru-baru ini Greenpeace meluncurkan sebuah laporan:  A Little Story About a Monstrous Messyang menginvestigasi sisa-sisa bahan kimia berbahaya pada 85 pakaian anak-anak di Cina yang diproduksi juga di Cina. Temuan-temuan kunci dari laporan tersebut diantaranya:

  • 26 sampel ditemukan positif mengandung NPEs dengan konsentrasi kandungan tertinggi mencapai 1,800 mg/kg
  • 2 sampel ditemukan positif mengandung phthalates dengan konsentrasi diatas 1,000 mg/kg dan yang tertinggi mencapai 1,700 mg/kg

85 pakaian tersebut diproduksi di Zhili town dan Shishi City di Cina dimana 40% dari total produksi pakaian anak dari Cina berasal, yang saat ini telah melakukan ekspansi penjualan ke luar negeri. Salah satu kemungkinan tujuannya ke Indonesia. "Data terakhir dari Kementrian Perindustrian tahun[1] 2011, tercatat total import tekstil dari Cina mencapai 2.3 milyar USD;  lebih lanjut sumber lainnya[2] mencatat 2012 total import pakaian bayi dari Cina mencapai lebih dari 2 Juta USD, dan total import pakaian jadi disemua kelompok umur mencapai lebih dari 168 Juta USD."

Produksi dan produk baju anak-anak layak mendapat perhatian khusus, namun seperti di Cina, di Indonesia pun saat ini belum ada peraturan yang cukup kuat untuk secara ketat mengatur penggunaan dan kandungan bahan kimia berbahaya pada produk pakaian anak ataupun produk lain.

Indonesia harus memperkuat peraturan mengenai manajemen bahan kimia berbahayanya  untuk memastikan eliminasi bahan kimia berbahaya tersebut pada sumbernya dan juga peraturan mengenai kandungan bahan kimia berbahaya.

[1] http://kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Rep.rakyat+Cina&jenis=i, diakses 9 Januari 2014

[2] http://wits.worldbank.org/wits/ (search tool), import Indonesia dari Cina untuk HS 2012 kode kelompok  61, 62 dan spesifik 6111 & 6209, diakses 9 Januari 2014