Bulan Februari tahun ini, Asia Pulp & Paper (APP) menerbitkan Kebijakan Konservasi Hutan yang terbaru, termasuk didalamnya mengakhiri penebangan hutan hujan di seluruh rantai pasokan di Indonesia. Gerakan ini adalah hasil dari kampanye selama bertahun-tahun yang dilakukan oleh banyak NGO termasuk Greenpeace yang menentang keterlibatan perusahaan ini dalam  deforestasi.

Kebijakan APP yang baru disambut baik namun penuh kehati-hatian oleh banyak organisasi, termasuk Greenpeace. Jika sepenuhnya diimplementasikan, kebijakan ini dapat menghentikan ekspansi hutan hujan lebih jauh dan menghasilkan implementasi langkah-langkah konservasi utama diseluruh rantai pasokan APP.

Namun, ada beberapa catatan penting yang harus digaris bawahi. Pertama, APP terbukti gagal menepati komitmen konservasi yang sebelumnya. Kedua, kebijakan baru ini diambil setelah bertahun-tahun APP melakukan ekspansi hutan hujan dan lahan gambut di seluruh Indonesia.  Hutan hujan, Sumatra, khususnya, harus membayar harga yang tinggi dari warisan APP. Akhirnya muncullah pertanyaan yang masuk akal tentang bagaimana caranya perusahaan ini menebus kesalahan masa lalu?

 Jadi,  sudah lebih dari empat bulan, bagaimana aplikasi di lapangan?

Ada bukti komitmen kuat dari beberapa staff kunci senior APP dan Sinar Mas – pemasok kayu pulp – sebagai upaya untuk menindak lanjuti kebijakan konservasi hutan.  Mereka telah memiliki daftar organisasi yang dapat membantu seperti APCS, Ekologika, dan TFT, yang memiliki program kerja yang luas untuk mengidentifikasi nilai-nilai konservasi di seluruh rantai pasokan APP termasuk semua kawasan hutan hujan yang tersisa.

Terdapat juga peningkatan transparansi/keterbukaan yang cukup signifikan oleh APP. Contohnya, peluncuran situs baru yang menyediakan informasi teknis yang penting tentang operasinya termasuk peta kawasan wilayah konsesi pemasok.

Secara bersamaan, nampaknya terjadi perubahan cara berpikir dalam menemukan solusi terhadap konflik sosial yang cukup besar dengan masyarakat adat di beberapa wilayah konsesi pemasok APP, meskipun sebagian besar pekerjaan dilakukan sebelum kemajuan nyata bisa dikonfirmasi.

Yang paling penting, telah nampak upaya serius untuk mengatasi kritik dan masalah yang berlanjut melalui prosedur keluhan jika dan ketika terdapat bukti-bukti kebijakan baru ini tidak ditepati di lapangan.

Dan akhirnya terdapat perubahan jelas dalam gaya dan istilah dari PR sebelumnya – situs yang memuat banyak kritik tentang ‘realita hutan hujan’ telah ditarik, gaya iklan CNN masa lalu ‘greenwash’ dari masa lalu telah menghilang dari peredaran.

 Jadi apakah ada masalah?

Tes terpenting untuk menjawab pertanyaan apakah APP menepati janji mereka dapat dilihat langsung di hutan.  Nyatanya, terdapat beberapa masalah. Pengumuman APP untuk mengakhiri penebangan hutan dimulai dari tanggal 1 Februari, namun baru-baru ini investigasi NGO menemukan jejak-jejak penebangan hutan – sekitar 70 hektar – di salah satu konsesi pemasok APP di Sumatera.

Kasus semacam ini sewajarnya mengarah pada pertanyaan tentang apakah APP sungguh-sungguh sudah berubah? Apakah ini adalah sungguh-sungguh sebuah kegagalan atau kurangnya keseriusan di lapangan? Bagaimana tanggapan perusahaan ini untuk memastikan hal ini tidak terjadi lagi?

Pandangan kami adalah hal ini baru bisa dinilai secara layak seiring berjalannya waktu. Setiap penebangan hutan tidak bisa diterima. Menanggapi hal ini, APP dan TFT mengakui adanya kesalahan dalam kasus ini, melibatkan persetujuan yang disepakati  sebelumnya bersama masyarakat adat. Laporan keluhan mengkonfirmasi adanya kesalahan dalam proses pengambilan keputusan di lapangan dan sebuah proses telah dibuat untuk memastikan mereka sudah belajar dari kegagalan ini. Tapi, mempertimbangkan catatan perjalanan APP sebelumnya, beberapa pemangku kepentingan masih tetap skeptik.

Bagaimana dengan konsumen kertas, apa yang harus mereka lakukan?

Kekhawatiran dan skeptisisme semakin bertambah dengan adanya gerakan yang jelas di beberapa divisi pemasaran APP yang mengubah komitmen kebijakan konservasi hutan menjadi kontrak-kontrak baru. Mendesak brand untuk memulai kontrak sebelum adanya bukti yang jelas dari lapangan merusak pekerjaan untuk membuktikan bahwa APP sudah berubah.

APP harus berfokus pada penepatan janji. Ketika gagal melakukannya maka sikap LSM akan mengeras dan mengarah pada kesimpulan bahwa pengumuman tentang kebijakan yang baru tidak lebih dari sekedar perubahan kosmetik. Pengumuman komitmen kebijakan yang baru tidak secara ajaib menghapus kerusakan sosial dan lingkungan yang telah dilakukan oleh perusahaan ini, seperti yang disorot oleh banyak kampanye yang dilakukan LSM.

LSM memiliki peran penting untuk memastikan APP memenuhi objektif konservasi dengan mengawasi operasional dan memberikan nasihat dan feedback perihal implementasi komitmen mereka.

Greenpeace, seperti LSM lainnya, mempertahankan posisi dan pendapat bahwa terlalu dini bagi APP mendapatkan penghargaan untuk kebijakan konservasi hutan yang baru. APP harus bisa memastikan mereka dapat menerjemahkan komitmennya menjadi rencana pengelolaan jangka panjang untuk melindungi dan dimana diperlukan merestorasi kawasan konservasi serta tindakan-tindakan yang dapat dipercaya untuk mengatasi banyaknya konflik sosial di seluruh rantai pasokan mereka. Hanya melalui tindakan-tindakan inilah APP dapat membuktikan keseriusan mereka belajar dari masa lalu dan mengatasi dampaknya.

Tapi melewati jalan ini, APP juga harus didorong dan diberikan ruang untuk pengimplementasian kebijakan baru mereka. Itulah mengapa kami menghentikan kampanye menenatng perusahaan ini di awal tahun. Inilah juga mengapa kami sepakat untuk bertemu secara rutin dengan manajemen APP untuk memberikan masukan dan feedback perihal tipe aksi yang harus diambil untuk menunjukan perubahan mereka.                                   

Lalu, apa selanjutnya?

Rencana kami adalah terus memonitor kemajuan yang dibuat APP, dan di waktu bersamaan perhatian kami terarah pada APRIL, pemain utama lainnya di sektor pulp – yang sangat bergantung pada penghancuran hutan hujan untuk memenuhi kebutuhan serat mereka – pada perhitungan terakhir berkisar 60.000 hektar per tahun.

Saat kebakaran yang terjadi di Sumatera membawa asap hingga ke Singapura dan Malaysia, beberapa klaim menyatakan titik api dideteksi berada di sekitar konsesi APP dan pemasok APRIL, serta konsesi kelapa sawit. Banyak perusahaan, termasuk APP dan APRIL membuat pernyataan bahwa mereka memiliki kebijakan ‘tidak membakar’- secara tidak langsung mengatakan mereka tidak bertanggung jawab atas kebakaran yang terjadi akibat deforestasi skala besar dan pengeringan lahan gambut. Tapi menghentikan deforestasi setidaknya membantu mengurangi bencana yang sama yang bisa terjadi di masa depan yang sudah kita alami sekarang.

Jika kita ingin mengurangi arus deforestasi, kita memerlukan lebih banyak lagi perusahaan yang berkomitmen mengambil peran menghentikan deforestasi.  Dan kita harus memastikan perusahaan-perusahaan tersebut sungguh-sungguh menepati komitmen mereka. Saya akan menuliskan lagi pandangan-pandangan kami tentang kemajuan APP di waktu mendatang.

…tetaplah bersama kami.