Di sebuah kedai kopi  tak berdinding di Pegunungan Muller Swachner, Lamandau, Kalimantan Tengah. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari saat beberapa anak muda sibuk mengedit foto dan video, sebagian memperbaiki motor trail bercorak harimau dan enggang dan yang lainnya tengah menegak kopi panas menyeimbangi udara pegunungan di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat itu.

Di antara mereka ada Robi (33), vokalis dan gitaris grup band Navicula yang berbasis di Bali. Robi bersama tiga personil lainnya, Dangkie (gitar), Made (bass) dan Gembull (drum) ikut dalam tur Mata Harimau yang tahun ini bernama “Kepak Sayap Enggang, Tur Mata Harimau Seri Kalimantan”.

Baru saja tertelap tiga jam, para rocker Bali bergegas memakai konstum “harimau”. Menyusuri pegunungan Muller Swachner di ketinggian 170 meter di atas permukaan laut di subuh hari merupakan pengalaman yang menarik. Lansekap horizon puncak pegunungan tampak hijau yang sebagian terselimuti halimun.

“Di waktu saya ingin istirahat nanti, saya tidak ingin menyesal bahwa saya pernah diberi kesempatan tapi tidak melakukannya. We die trying.  Kalau (kampanye lingkungan) itu gagal, saya bangga mati karena telah berjuang sungguh-sungguh,” kata Robi yang juga turut mengendari motor “harimau” 8 jam perjalanan tanah, aspal, bebatuan dan bergambut.

Tur Mata Harimau tahun ini adalah yang lanjutan dari tur sebelumnya yang dilakukan di hutan-hutan Sumatra tahun 2012. Ini merupakan kampanye penyelamatan hutan Indonesia yang tujuannya mengajak masyarakat nusantara untuk menjadi mata harimau. Mata Harimau itu berarti pengawasan ketat yang awas dari masyarakat dalam menjaga hutan-hutan mereka dari keterancamam investasi, perusakan oleh manusia demi keberlangsungan hidup masyarakat.

Bersama Walhi, Aliansi Masyarakat Adat (AMAN), Greenpeace menyusuri lebih dari 3.500 kilometer perjalanan dari Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Lamandau di Kalimantan Tengah hingga ke Silat Hulu dan Desa Kuala Labai di Kalimantan Barat. Ada hutan alam yang hancur ditebangi untuk pertambangan dan perkebunan sawit. Juga ada habitat Orangutan dan Enggan di lahan gambut kaya karbon yang dihancurkan oleh perusahaan HTI untuk perkebunan akasia.

Kami juga menyaksikan hutan alam yang masih asri yang dilindungi oleh aturan-aturan adat masyarakat setempat seperti di Desa Lahung, Lhoksado, Kalsel, hutan bagus di Desa Lamandau, Kalteng dan Seribuan hektar hutan di Desa Pendaun, Ketapang, Kalbar.  Namun hutan-hutan ini kini terancam oleh investasi perusahaan perkebunan dan pertambangan. Para investor berlomba membujuk masyarakat untuk melepaskan hutan-hutan mereka.

Perjalanan panjang 14 hari itu membuat kami yakin bahwa deforestasi belum berakhir. Bahkan melalui kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, deforestasi menjadi semakin masif. Seperti yang terjadi di hutan gambut habitat satwa dilindungi Orangutan, di Kuala Labai. Perusahaan penyuplai kayu untuk pabrik Asia Pulp and Paper (APP) sedang aktif menghancurkan hutan yang tersisa itu.

Moratorium hutan yang diharapkan dalam dua tahun mampu mengurangi deforestasi ibarat api jauh dari panggang. Konflik lahan dengan konsesi perusahaan masih tumpang tindih. Di akhir pemberhentian kami di di Kota Pontianak, kami mendesak kebijakan moratorium harus dilanjutkan tanpa batas waktu hingga konflik, perusakan hutan berhenti di titik nol dan Orangutan, Enggang, Harimau dan satwa lainnya dapat hidup damai, di rumah mereka sendiri.

Jadilah bagian dalam mendorong perubahan bersama Mata Harimau, kamu bisa ikut menyelamatkan hutan alam yang tersisa disini www.greenpeace.or.id/mataharimau