Ketika kami bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Jakarta tahun lalu, Saya berharap kata-kata yang diucapkannya : “kita ada diatas perahu yang sama”, yang mengekspresikan komitmen Beliau menjaga dan melindungi alam Indonesia, akan bertahan seiring berjalannya waktu. Saya senang karena hal itu terbukti benar adanya.

 7 Juni 2013, Presiden Indonesia Mengunjungi Rainbow Warrior © Ardiles Rante / Greenpeace

Beberapa hari lalu, kami bertemu dengan Presiden lagi tepat di tanggal yang sama 7 Juni, kali ini di atas kapal Rainbow Warrior yang berlayar selama satu bulan melintasi perairan Indonesia untuk menjadi saksi dan menyampaikan pesan perlindungan hutan dan laut Indonesia kepada seluruh dunia. Presiden mengunjungi kapal bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono, menantu perempuan, cucunya dan beberapa menteri kabinet termasuk Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kehutanan, Menteri Perikanan, Menteri Luar Negeri, Sekretaris Kabinet, Kepala Angkatan Laut Indonesia, Angkatan Bersenjata dan Polisi. Sebuah pengakuan luar biasa atas kerja dan upaya kami di Indonesia dan tentu saja pengesahan atas

Puncaknya adalah saat Presiden, Ibu Negara dan cucu mereka berdiri bersama saya di kapal dekat sebuah spanduk yang berbunyi : “Laut Kita, Hutan Kita, Masa Depan Kita!” Dan sebuah kejutan yang menyenangkan terjadi ketika keluarga Presiden bergabung dengan kru kapal untuk menyanyikan sebuah lagu berbahasa Indonesia secara spontan di hadapan media.

Namun dengan sebuah pengakuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari seorang kepala negara sebuah negara strategis yang merupakan bagian dari negara-negara G20,  muncul keperluan untuk terus menjaga keteguhan kami sebagai organisasi independen yang menyampaikan kebenaran kepada pihak-pihak yang berkuasa. Sementara kunjungan Presiden dan rangkaian acara sepanjang akhir pekan di Jakarta akan memberikan kesempatan untuk bersuara, kami menyadari bahwa momentum dan tantangan di depan mengharuskan kami untuk terus kritis, melakukan konfrontasi, memberikan solusi dan menghargai proses.

Mengacu pada niat untuk terus bermitra dengan kami, Presiden meminta Greenpeace untuk terus bersikap kritis dan memberikan kritik saat dibutuhkan dan berharap kami juga memberikan solusi bagi setiap permasalahan  dan mengenali serta berkomunikasi ketika kami melihat kemajuan dan perubahan. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia yang sedang bangkit secara ekonomi, ini adalah sebuah kata-kata yang menjanjikan. Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga merupakan penolakan yang keras bagi suara-sauara yang ingin membatasi organisasi-organisasi masyarakat sipil di Indonesia seperti Greenpeace.

"Saya ajak Greenpeace untuk tetap jadi partner dengan tugas mengingatkan, mengkritik Indonesia apabila ada hal-hal yang perlu kami perbaiki. .” Demikian pernyataan yang diberikan Presiden.

Niat politis semacam ini sangat disambut baik dan kami menghargai kunjungan Presiden. Beliau layak mendapatkan ucapan selamat atas kemajuan yang telah diupayakan oleh pemerintahaannya untuk perlindungan hutan sejak pertemuan pertama kami tahun lalu. Dengan memperpanjang moratorium hutan, Beliau telah menciptakan ruang untuk mendorong reformasi yang lebih kuat bagi perlindungan hutan di Indonesia.

Tapi sayangnya, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan alam dan lingkungan yang paling rapuh dan terancam.

Selama beberapa bulan terakhir, Rainbow Warrior telah mengarungi perairan dunia yang memiliki kandungan keanekaragaman hayati paling kaya di dunia, serta melintasi pulau-pulau dengan hutan yang dipenuhi spesies langka yang jarang dijumpai

Dengan kurang lebih 10% hutan hujan dunia yang berlokasi di Indonesia, negara ini dipenuhi kekayaan alam. Tapi ada kepentingan ekonomi yang ingin mengalihkan laut dan hutan Indonesia menjadi komoditas bagi konsumsi global. Lima puluh tahun lalu, 82% Indonesia tertutup hutan tapi satu dekade terakhir, jumlah ini turun hingga 48% akibat deforestasi tiada henti untuk industri bubur kertas dan kertas, perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Laut Indonesia juga satu dari begitu banyak titik keaneka ragaman hayati yang terancam resiko penangkapan ikan berlebih, polusi serta perubahan iklim.

Hari ini adalah hari yang khusus bagi Greenpeace, teman-teman NGO serta seluruh pendukung kami di Indonesia dan di seluruh dunia. Semoga pertemuan ini juga akan menjadi inspirasi bagi pemimpin di masa depan untuk melanjutkan warisan kepedulian lingkungan yang telah dimulai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari dulu kita tahu dunia membutuhkan lebih dari sekedar kata-kata manis.