Perjalanan menuju perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat semakin dekat. Saya tak mengira kami sudah menempuh perjalanan hampir 2500 KM jauhnya. Satu dua motor sudah mulai ‘merengek’ minta diistirahatkan, akibat telah meniti ratusan kilometer perjalanan lintas tiga propinsi, dan menemui berbagai rupa lansekap alam Kalimantan. Satu dua penunggang juga sempat mengalami ‘kecelakaan’ kecil, terjatuh karena medan tempur yang sulit untuk diprediksi.

Namun, tak sedikitpun saya melihat keraguan dan surutnya semangat di wajah Tim Kepak Sayap Enggang Tur Mata Harimau Seri Kalimantan ini. Malah sebaliknya, keyakinan dan semangat mereka dalam misi menyelamatkan hutan yang tersisa, semakin menyala-nyala.

Pagi itu tim telah menyandarkan lelahnya di Nanga Tayap, desa perbatasan Kalimantan Tengah dan Barat. Seperti mimpi yang menjelma menjadi kenyataan, setelah sebelas hari menempuh perjalanan, akhirnya pagi itu kami menyaksikan tujuh ekor enggang gading mengepakkan sayapnya. Rupanya mereka menyambut kehadiran kami disini, membawa sebuah kabar berita bahwa masih ada secercah harapan dan pencerahan akan masa depan hutan hujan Indonesia. Beruntung kami sempat mengabadikan momen tersebut.

Ketika kami memasuki wilayah Lamandau yang terlihat hanya lautan sawit. Dan di Delang kami berhenti untuk menjadi saksi hutan yang baru saja dihancurkan untuk dijadikan kebun sawit. “Mempertahankan hutan yang tersisa adalah penting bagi penyelamatan habitat satwa dilindungi seperti Enggang namun peninjauan kembali izin-izin yang diberikan yang menimbulkan konflik di masyarakat sangat penting,” ujar Zulfahmi, Kepala Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Sepanjang perjalanan ini, banyak hutan yang dulunya menjadi habitat Enggang berubah menjadi perkebunan skala besar dan menggusur burung maskot Kalimantan ini hingga ke pegunungan. “Dan di perbatasan, di pegunungan Muller Suwahner akhirnya kami melihat kehadiran tujuh burung Enggang sesaat tim keluar dari Kalimantan Tengah. Habitat Enggang masih tersisa meski terancam,” ucap Nordin, Direktur Save Our Borneo.

Perjalanan kami berlanjut kepada sebuah daerah bernama Kuala Labai, Ketapang. Dimana lagi-agi kami menyaksikan hutan dan lahan gambut masih terus saja dihancurkan. Dua buah excavator sedang beraksi dengan gagahnya mengeruk kanal di lahan gambut yang menjadi habitat penting bagi orangutan dan enggang. Kesaksian langsung kehancuran ini berada tepat di lokasi konsesi Asia Tani Persada, salah satu pemasok kayu perusahaan kertas raksasa Asia Pulp and Paper.

“Kami ingin melihat APP membuktikan dan menghormati komitmen yang telah mereka umumkan untuk menghentikan perusakan hutan. Perusakan yang kami saksikan hari ini di konsesi suplier mereka jelas bertolak belakang dengan komitmen itu. APP harus mengendalikan suplier mereka jika ingin mendapat kepercayaan dari pasar,” ujar Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

“Moratorium harus mampu meninjau kembali izin-izin seluruh perijinan konsesi yang berada pada kawasan bergambut dan hutan alam. Konflik di sektor kehutanan maupun perkebunan di Kalimantan Barat masih terus terjadi sementara kebijakan moratorium hutan akan berakhir tahun 2013. Kesuksesan moratorium harus berdasarkan capaian seperti tuntasnya konflik lahan dengan masyarakat dan melindungi gambut,” kata Anton P. Wijaya, Direktur WALHI Kalimantan Barat.

Saya teringat satu pepatah yang mungkin bisa menjadi bahan perenungan kita bersama agar lebih menghargai dan mencintai satu-satunya planet tempat hidup kita yang berharga ini. “Alam memiliki cara tersendiri untuk berbicara kepada kita, hanya saja sebagian besar dari kita tidak cukup sabar dan tidak cukup punya waktu untuk mendengarkan cerita mereka.” Perkembangan teknologi dan pembangunan atas nama kemajuan ekonomi telah membuat kita lupa untuk menghargai keindahan sejati yang ditawarkan oleh bumi.

Jadilah bagian dalam mendorong perubahan bersama Mata Harimau, kamu bisa ikut menyelamatkan hutan alam yang tersisa disini www.greenpeace.or.id/mataharimau