Saya bersama puluhan anak muda para aktivist Greenpeace Indonesia hari ini kami mengunjungi Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Tujuan kami datang ke kementerian ini untuk menyampaikan tuntutan kami kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Bapak Sharif Cicip Sutardjo agar ia  tidak mengeluarkan ijin bagi pengalihgunaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Pantai Ujungnegoro-Roban, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah untuk menjadi lokasi pembangunan PLTU Batubara.

Batang, adalah sebuah kota pesisir yang terletak di jalur pantai utara Jawa Tengah.  Pertengahan tahun 2011, pemerintah menetapkan konsorsium PT. Bhimasena Power Indonesia (BPI), yang terdiri dari tiga perusahaan yaitu Adaro Power, J-Power, dan Itochu Corporation, sebagai pihak yang memenangkan tender proyek pembangunan PLTU Batubara di Jawa Tengah. Konsorsium ini kemudian memilih Batang sebagai lokasi pembangunan PLTU Batubara yang diklaim akan menjadi PLTU yang terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai proyek lebih dari Rp. 30 Triliun.

Konsorsium PT. BPI dan pemerintah Kabupaten Batang, akhirnya memutuskan pesisir pantai Ujungnegoro, sebagai lokasi yang dipilih sebagai tempat pembangunan PLTU. Lima desa akan terkena imbas dari megaproyek ini, antara lain Desa Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso, dan Roban.  Proyek raksasa ini akan menyita lahan seluas 370 sampai 700 hektar, memangsa lahan pertanian produktif , sawah beririgasi teknis seluas ratusan hektar, perkebunan melati seluas puluhan hektar, sawah tadah hujan seluas 152 hektar, dan yang paling parah PLTU Batubara ini akan dibangun di Kawasan Konservasi Laut Daerah yang membentang dari Pantai Ujungnegoro hingga desa Roban, kawasan yang selama ini merupakan daerah tangkapan ikan nelayan Pantura.

Saya dan beberapa anak muda sesama pencinta lingkungan di Greenpeace, telah beberapa kali mengunjungi lokasi-lokasi dimana PLTU Batubara dengan angkuhnya berdiri, kami menjadi saksi bagaimana masyakat yang tinggal di sekitar PLTU Cirebon, Cilacap, Jepara, dan Rembang harus menghadapi ancaman yang merusak kehidupan  dan mengganggu kesehatan mereka. Kami juga telah beberapa kali mengunjungi desa-desa yang dipilih  oleh PT.BPI sebagai lokasi pembangunan PLTU di Batang, kami berdialog dengan masyarakat, kami menyaksikan bagaimana masyarakat desa-desa tersebut sangat menggantungkan penghidupan mereka terhadap lahan yang sekarang diincar oleh megaproyek tersebut.

Kami tidak ingin masyarakat lima desa di Batang, harus menghadapi nasib buruk serupa yang dialami nelayan di Cirebon dan petani di Jepara. Kami tidak ingin Indonesia semakin tergantung terhadap Batubara, bahan bakar terkotor di planet ini.  Negeri ini sudah menghadapi dampak-dampak terburuk dari perubahan iklim, seperti banjir dan kekeringan, Indonesia tidak perlu menambah cepat laju perubahan iklim di negeri ini dengan terus membangun PLTU Batubara. Penyumbang terbesar gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Saat ini ribuan masyarakat yang tinggal di Desa Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso dan Roban sedang dalam keadaan resah,gundah, dan cemas menghadapi kecongkakan perusahaan dan ketidakpedulian pemerintah terhadap aspirasi mereka. Masyarakat Batang tidak ingin hal yang muluk-muluk, mereka hanya tidak ingin PLTU Batubara dibangun di tanah mereka, tempat mereka menggantungkan penghidupan dari hari ke hari, mereka hanya tidak ingin  harus menghadapi nasib buruk seperti masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU Cilacap dan Cirebon.

Uniknya, tidak ada satupun dari kami yang berasal dari Batang, saya menetap di Jakarta, sementara puluhan teman saya yang lain datang dari berbagai daerah, sebagian merupakan anak muda dan mahasiswa yang datang dari Bandung, sebagian lagi merupakan anak muda dan mahasiswa yang berasal dari berbagai sekolah dan kampus di Jakarta, Bekasi, Depok, Semarang, dan kota-kota lain di negeri ini.

Hari ini kami menyampaikan sikap kami ke Kementerian Kelautan dan Perikanan, kami meminta Menteri Kelautan dan Perikanan menggunakan otoritas yang ia miliki untuk menyelamatkan ribuan masyarakat Batang dari ancaman PLTU Batubara. Kami memang bukan orang Batang, tapi kami peduli dengan Batang, karena kita tinggal di satu negeri yang bernama Indonesia, karena kita menempati satu planet yang sama yang bernama Planet Bumi.