Saatnya Bertanya Pertanyaan Yang Tepat!

Mungkin sudah banyak masyarakat Indonesia yang tahu bahwa sumber-sumber air kita tercemar oleh limbah kimia berbahaya industri. Sebut saja Sungai Citarum, sumber air bagi puluhan juta manusia. Media massa ramai mengangkat dan masyarakat pinggir sungai pun dapat melihat secara langsung dampak pencemaran industri yang terjadi disana. Namun, sejauh apa kita tahu?

Kita mungkin tahu limbah kimia berbahaya industri mencemari sungai sumber air kita, tapi tahu kah kita apa jenisnya, apa namanya, apa bahayanya, bagaimana pemerintah mengaturnya, dan seterusnya?

Kemudian kita mungkin tahu bahwa industri mencemari sungai sumber air kita, tapi tahu kah kita industri yang mana, siapa namanya, dimana letaknya, apa yang mereka produksi, bahan kimia berbahaya apa yang mereka gunakan, dimana titik buang limbahnya dan seterusnya?

Dan itulah apa yang sekitar tiga puluh aktivis greenpeace lakukan hari jumat yang lalu, 28 september 2012, bertepatan dengan hari Hak Untuk Tahu Sedunia. Mereka berangkat dari lima titik di kota Bandung; dari Alun-alun, Simpang Dago, Dipatiukur, Gedung Sate dan Cihampelas, dengan menggunakan baju hazmat sambil membawa botol sample air Sungai Citarum yang tercemar dan sample limbah industri yang mencemari sumber air bagi puluhan juta orang, menuju BPLHD Jawa Barat untuk mengajak kita semua(mulai) menanyakan pertanyaan yang tepat.

Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan informasi yang berhak publik dapatkan, tidak hanya di daerah aliran Sungai Citarum, tapi dimanapun di Indonesia dimana terdapat ancaman pencemaran limbah kimia berbahaya industri. Informasi tersebut harus diberikan oleh pemerintah dan industri dan harus tersedia bagi publik dengan akses yang mudah.

BPLHD Jabar menyatakan bahwa mereka akan segera menguji sampel yang aktivis greenpeace serahkan kemarin dan akan segera mengumumkannya kepada publik, namun perlu diingatkan kembali bahwa kesebelas sampel tersebut hanya mewakili sangat sedikit dari sekian banyak bagian Citarum dan juga sangat sedikit dari sekian banyak titik pembuangan limbah industri. Informasi atas pertanyaan-pertanyaan di atas lah yang juga harus mereka buka kepada masyarakat.

Provinsi Jawa Barat melalui Gubernurnya, Ahmad Heryawan, baru saja mendapat penghargaan sebagai badan publik terbaik dalam keterbukaan informasi publik di Indonesia. Hal tersebut menjadikan Jawa Barat sebagai contoh bagi provinsi lainnya di Indonesia dan sudah selayaknya hal tersebut juga menjadi momentum untuk mulai menunaikan hak masyarakat atas informasi seputar pengelolaan bahan kimia beracun dan berbahaya.

Pun halnya dengan Presiden kita yang baru saja menerima penghargaan internasional di bidang lingkungan, hal tersebut juga harusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan industri untuk mulai beraksi memastikan sumber-sumber air kita terbebas dari bahan kimia beracun dan berbahaya industri.

Greenpeace berkampanye untuk menghentikan polusi air oleh industri dengan bahan kimia beracun dan berbahaya, persisten dan mengganggu sistem hormon dengan meminta industri dan pemerintah untuk beraksi memastikan masa depan yang bebas bahan kimia beracun dan berbahaya  (toksik).