“Kita ingin fokus di infrastruktur dan pangan.” – Presiden Joko Widodo

Infrastruktur dan pangan, demikian statement presiden Jokowi dalam wawancara satu tahun pemerintahannya di salah satu televisi swasta tanggal 21 Oktober 2015 silam. Tetapi apakah petani sebagai salah satu tulang punggung penyedia pangan Indonesia sudah benar-benar terperhatikan?

Perjalanan saya ke daerah Rancaekek, kabupaten Bandung, Jawa Barat pada bulan November 2015 kemarin menemukan jawaban yang ironis.  Tidak jauh dari jalan raya penghubung kabupaten Bandung dengan kabupaten Sumedang tepatnya di kampung Nyalindung, desa Linggar, kecamatan Rancaekek kabupaten Bandung, saya bertemu dengan abah Uban, warga asli Rancaekek yang telah puluhan tahun menjadi petani. Abah—begitu saya memanggilnya, menggarap beberapa petak sawah milik sendiri dan keluarga yang berada di sekeliling rumahnya.

Padi menjadi komoditi pertanian utama di daerah Rancaekek mengingat asal geografis berupa rawa dengan sumber pengairan sungai Cikijing. Dahulu dengan irigasi yang lancar, Rancaekek pernah menjadi lumbung padi untuk wilayah Jawa Barat. bahkan melimpahnya air bersih membuat Rancaekek pernah tersohor sebagai pusat pemeliharaan ikan nila dan mujair. Hasil yang melimpah tersebut membuat warga setempat, tidak terkecuali abah Uban, menggantungkan hidup pada sektor agraris.

Hidup adalah sebuah pertaruhan

Abah Uban, awalnya bukanlah seorang petani, akan tetapi melihat potensi pertanian dan perikanan yang sangat besar (dahulu), abah tidak ragu untuk  melepaskan pekerjaannya di salah satu perusahaan manufaktur yang berlokasi di kabupaten Bandung. Hidup adalah pertaruhan, Abah memilih beralih meskipun telah bekerja selama delapan tahun dan mendapat pelatihan keterampilan di negeri Sakura—abah memilih menjadi petani.  

“Saya juga berternak itik untuk dijual, dulu juga sempat berjualan lakar (makanan khas Rancaekek), ..., tapi itu hanya sampingan, (sekarang) utamanya ya dari pertanian. ” Ungkap abah. Meskipun kini menghadapi kenyataan pahit, saat lahan pertaniannya tercemar limbah, tak nampak raut menyesal sedikitpun karena telah memilih menjadi petani.

Seperti umumnya kultur masyarakat agraris di Indonesia, teknik-teknik bertani diwariskan secara turun-temurun, demikian pun abah Uban.  Abah mampu memprediksi masa tanam dengan perhitungan bintang. Keahlian yang beliau peroleh dari sang ayah ini membantu abah Uban mengetahui waktu musim penghujan tiba sehingga tidak pernah mengalami gagal panen. Abah Uban dapat memanen empat hingga lima ton gabah dari sawah milik sendiri dan keluarga yang beliau garap, dulu.

Awal yang tak pernah diharapkan

Hasil panen Abah kini telah sangat berbeda, turun drastis, bukan karena abah sudah tidak piawai menghitung masa tanam, tetapi karena sawahnya telah tercemar limbah beracun. Hal tersebut berawal ketika pada tahun 1980an beberapa pabrik garment seperti PT. Kahatex—yang terbesar, mulai berdiri di daerah Rancaekek. Beberapa dampak mulai dirasakan, mulai berkurangnya lahan sawah, kolam ikan, hingga mengalirnya limbah tekstil beracun ke sungai-sungai sumber air warga pada awal tahun 1990an.

Tidak ada lagi ikan-ikan yang berenang bebas di sungai, bahkan biota air tawar yang lazim hidup di area persawahan dan sungai seperti berudu juga capung yang menjadi indikator air bersih tak nampak ketika saya ke sana. Yang ada air berwarna hitam pekat yang menggenang di sawah dan sungai. Di waktu tertentu, seperti malam hari, saya bahkan mencium bau yang sangat menyengat. Menurut cerita mak Eteh, istri abah Uban, bau menyengat tersebut berasal dari limbah pabrik garment yang kerap dibuang pada malam hari.

Dan lalu berbagai masalah muncul, limbah beracun yang meresap ke tanah merusak kualitas air tanah.“Airnya asin. Kalau dipakai masak nasi, nasinya jadi bau dan basi setelah dua hari.” Ungkap mak Eteh.

Abah Uban berupaya menyaring air tanah yang berwarna kuning keruh dengan menggunakan alat penyaring sederhana yang dibuat sendiri.  Air ini digunakan untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus). Tetapi untuk minum dan memasak, abah terpaksa merogoh kocek dalam-dalam, Rp. 55.000,00 untuk sepuluh galon yang harus dibeli setiap tiga hari.

Tidak hanya itu, limbah beracun dengan cepat merusak pertanian warga. Sungai yang kini berbau menyengat dan berwarna pekat tidak dapat lagi digunakan untuk mengairi sawah. Warga terpaksa membangun tanggul pembatas agar aliran limbah tidak langsung masuk dan menggenangi sawah mereka.

Sawah-sawah produktif berubah menjadi sawah tadah hujan yang harus dibiarkan terlantar ketika musim kemarau tiba. Meski dengan upaya demikian hasil panen tetap kian memburuk dibandingkan ketika sawah belum tercemar. Kadar garam natrium dan logam berat yang tinggi di sawah yang terpapar limbah beracun membuat bulir padi kosong atau tanaman padi mati kering setelah seminggu ditanam. “Menanam padi (dulu) bisa menghasilkan 4-5 ton kalau sekarang 1 ton saja sulit.” Ungkap abah Uban.

Akhir itu harus bahagia

Jika belum bahagia berarti belum berakhir, jadi harus terus diusahakan. Kesan itu yang saya tangkap dari semangat Abah, sebagai petani ulung tidak lantas berpangku tangan menerima dan pasrah terhadap limbah.

Sekuat tenaga, Abah berusaha terus menamam, dibantu oleh organisasi nirlaba Pawapeling, abah Uban melakukan upaya pemulihan sawah dengan teknik secara organik. Menurut keterangan Adi M. Yadi, aktivis Pawapeling yang saya temui, untuk melakukan pemulihan organik  dibutuhkan biaya Rp 700.000,00 untuk satu petak sawah dengan luas 14 meter persegi. Tentu biayanya cukup besar, mengingat sawah yang dimiliki Abah mencapai satu hektar. Harga yang sangat mahal untuk  dibayar abah Uban, pabrik yang membuang limbah secara serampangan abah yang harus menanggung beban. Harusnya pabrik yang menanggung seluruh biaya pemulihan, bukan warga.

Meskipun demikian, Abah, dalam kondisi yang sulit, tidak menyerah dan terus bertahan. Hidup telah mengajarkan banyak hal kepada Abah, hal yang mungkin bagi saya tak terpikir.

Hingga dalam suatu ketika Abah berkata perjuangan abdi moal lesot, sabab panghirupan abdi mah tinu taneuh, mun teu aya taneuh urang bade nincak naon?” yang kurang lebih artinya saya tidak akan berhenti berjuang, sebab sumber kehidupan saya dari tanah, kalau tidak ada tanah apa yang akan kita pijak?. Butuh proses hidup yang panjang untuk mampu mengeluarkan kutipan sedemikian dalam, dan saya mendapatkannya bukan dari buku, bukan pula dari seminar-seminar motivasi, atau acara televisi, tapi dari Abah yang hidup di kepung limbah.

Untuk membaca detail latar belakang cerita Abah sila kunjungi www.melawanlimbah.org