Nama saya Richi, Koordinator logistik dan volunteer di Greenpeace Asia Tenggara – Indonesia. Baru-baru ini saya mengkoordinasikan suatu kegiatan usaha pemadaman kebakaran hutan di Prorinsi Riau, Sumatra Indonesia dari 31 Juli - 6 Agustus 2009.

Setelah dua tahun akhirnya saya kembali lagi ke Desa Kuala Cenaku, kaki saya berdiri kokoh di atas lahan basah ini. Tidak banyak yang berubah dari desa kecil ini, tapi kali ini saya berjuang untuk bisa bernafas di antara asap tebal berbau dari kebakaran hutan yang setiap tahun melumpuhkan Propinsi Riau di pantai timur Sumatra, berseberangan dengan Negara Singapura. Saya di sini untuk memeriksa peralatan pemadam kebakaran dan menyiapkan tim untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan lahan gambut dibakar kembali dan tidak terkontrol.

Saya pertama kali datang di desa kuala cenaku pada akhir tahun 2007, sebagai bagian dari tim Kamp Pembela Hutan Greenpeace sebelum Pertemuan Perubahan Iklim Bali, untuk menyoroti kerusakan hutan di Indonesia yang terus berlanjut hanya demi pembukaan perkebunan kelapa sawit, dampak luasnya sangat berpengaruh pada perubahan iklim, masyarakat dan kekayaan keanekaragaman yang bergantung pada hutan yang menakjubkan ini.

<http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/press-releases/selamatkan-hutan-selamatkan-i >

Pada tahun 2007 Aktivis Greenpeace dan volunteer membantu komunitas lokal membangun Kamp Pembela Hutan di bawah panas 40 derajat celcius dan pada bulan Ramadhan. Beberapa Komunitas bergabung bersama kami untuk membendung kanal-kanal yang membuat air sungai kuala cenaku tercampur dengan air lahan gambut yang di keringan secara sengaja oleh peusahaan kelapa sawit. Selanjutnya kami bekerja sama untuk mengaudit keanekaragamanhayati di wilayah hutan yang terancam punah akibat konversi pembukaan perkebunan kelapa sawit.

Selain itu, kami bersama-sama mengambil bagian dalam latihan pemadam kebakaran hutan, menggunakan peralatan yang disediakan Greenpeace, dalam persiapan menghadapi kebakaran hutan tahunan yang telah menjadi seperti wabah tanaman di Propinsi Sumatra dan Kalimantan. Deforestasi Indonesia yang sangat cepat dan membinasakan komunitas serta masyarakat yang bergantung pada hutan. Sekali saja perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas diberikan izin melakukan pembukaan maka akan banyak sekali terjadi pembukaan secara illegal oleh pemerintah nasional maupun lokal, sehingga masyarakat mulai merasakan kehilangan tanah dan mata pencarian mereka.

Kali ini hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan pemeriksaan peralatan yang kami tinggalkan sejak 2007 lalu. Sayangnya saya mendapati peralatan itu tidak terawat, pompa air yang harganya cukup mahal membutuhkan perawatan segera dan beberapa selang air telah digerogoti tikus yang ukurannya sebesar kucing di Jakarta.

Setelah memperbaiki peralatan, saya mulai membangun tim pemadam kebakaran, saya menghubungi anggota komunitas yang pernah terlibat pelatihan kebakaran hutan pada tahun 2007, menambahkan anggota baru dari desa di dekat-dekat Rengat dan ke-15 anggota tim yang kuat ini dilengkapi oleh volunteer dan teman-teman dari Jakarta dan Pekanbaru.

Setelah melakukan beberapa kali survei lapangan dan menggunakan data satelit, kami akhirnya berhasil menemukan kebakaran di atas lahan gambut di wilayah yang kira-kira 40 menit jauhnya dari desa Kuala Cenaku, di sebuah pulau besar di tengah-tengah sungai Indragiri, Pulau Gelang. Kami membutuhkan 6 pompongs (perahu sungai kecil) untuk mengantarkan semua peralatan dan tim ke pulau itu. Butuh 15 menit berjalan kaki dari tepi sungai untuk mencapai letak kebakaran.

Tim pemadam kebakaran dilengkapi penuh dengan helm pengaman, kacamata goggles, masker dan sepatu boot yang kokoh. Kami terbagi menjadi 2 tim, Tim pemasang selang sepanjang 300 meter ke pompa air bertekanan tinggi dan menyalakannya. Dan tim lainnya melihat besarnya kebakaran, menyiapkan peralatan dan sumber daya. Kami melakukan pemadaman selama tujuh hari dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore.

Kami menghadapi banyak sekali tantangan.Wilayah yang terbakar terletak di lahan gambut dekat denga perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat rumput kering. Sangat sulit untuk memadamkan api di lahan gambut karena besarnya vegetasi kering. Musim kemarau yang panjang dan angin yang kuat juga membuat pemadaman api sangat sulit. Kami butuh waktu untuk menyemprotkan air ke bawah tanah secara terus menerus karena kebakaran lahan gambut berada di bawah dan juga permukaan . Kami harus berhati-hati gara tidak terperangkap oleh kebakaran yang tidak bisa diprediksi ini.

Keadaan lain yang membuat pemadaman api sulit adalah persedian air karena kanal-kanal dan sungai berada jauh darin daerah yang terbakar. Kami akhirnya meminjam selang sepanjang 500 meter dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang letaknya tidak terlalu jauh. Ditempat tersebut, kami jarang melihat kobaran api ketika hari terang, hanya asap tebal. Kabakaran kebanyakan terlihat pada malam hari ketika kami berbaring kelelahan di kamp sementara kami

Setelah lima hari usaha pemadaman kebakaran yang sulit di Pulau Gelang, kami berhasil memadamkan api seluas 10 hektar. Saatnya bergerak menuju Desa Sukajadi, 40 menit dari Pulau Gelang setelah mendengar dari kepala desa bahwa desa ini terancam kebakaran.

Kami tiba di Desa Sukajadi pada pukul 8 malam dan segera bersiap menghadapi asap tebal kebakaran hutan. Desa ini jauh dari persediaan air, jadi kami sekali lagi menggunakan selang 500 meter untuk memadamkan api hingga kami yakin desa ini aman. Kami akhirnya jatuh kelelahan sekita pukul 3 pagi. Syukurlah perjuangan kami mematikan api itu berhasil.

Pada tanggal 6 Agustus 2009, setelah berhasil menyelamatkan hutan seluas 25 hektar dan Desa Sukajadi, Dengan berat hati kami menghentikan kegiatan pemadaman api. Ini mungkin tidak terdengar banyak, tapi itulah hal terbaik yang bisa kami berikan mengingat terbatasnya sumberdaya dan waktu.

Sangat disayangkan, Ketika kami tengah berjuang memadamkan api dengan masyarakat local ., Pemerintah Indonesia hanya melakukan lokakarya pemadaman api di Pekanbaru dengan Amerika Serikat. Koramilpun dan tidak melakukan apa-apa untuk membantu masyarakat yang diserang gelombang kebakaran hutan .

< http://www.greenpeace.org/seasia/id/news/kebakaran_hutan >

Kami mengiinkan Pemerintah Indonesia segera bertindak menghentikan kebakaran hutan yang selalu terjadi. Dan melakukan penanggulangan sebelum api mulai membakar di tempat pertama. Menggunakan api untuk membersihkan lahan merupakan tindakan ilegal berdasarkan hukum Indonesia, Namun dengan banyaknya kebakaran hutan yang disulut secara bebas oleh pekerja perkebunan untuk mempersiapkan perkebunan kelapa sawit dan bubur kertas. Menujukan lemahnya penegakkan hukum dan banyaknya perusahaan dengan seenaknya saja menyalahkan masyarakat lokallocal yang membakarnya.

Bravo tim pemadam kebakaran dan semua orang yang mendukung kami.….

- Richi