masyarakat ingin sawit bersih

Efektif segera, Wilmar tidak akan terlibat dalam eksploitasi HCS (High Carbon Stock Areas), HCV (High Conservation Value areas) atau gambut, atau dengan sadar membeli dari pemasok yang terlibat eksploitasi HCS, HCV atau gambut

Wilmar Internasional – perusahaan minyak sawit terbesar di dunia – telah mengambil komitmen untuk Kebijakan Nol Deforestasi.

Untuk memberikan gambaran, minyak sawit adalah penyebab utama dari deforestasi di Indonesia dan ancaman yang terus berkembang di tempat-tempat seperti Afrika. Wilmar mengendalikan lebih dari sepertiga perdagangan minyak sawit global dunia tapi dengan melarang pemasoknya menghancurkan hutan dan lahan gambut, kebijakan Wilmar dapat menjadi langkah penting menuju transformasi sektor minyak sawit.

Anda mungkin masih ingat kerja terbaru Greenpeace menyingkap skandal hutan Wilmar. Termasuk laporan Ijin Memusnahkan di bulan Oktober yang menyingkap perusakan habitat Harimau di konsesi Wilmar sendiri dan lahan operasi pemasoknya serta investigasi di bulan November yang menyingkap pembersihan lahan gambut dan habitat orang utan oleh pemasok Wilmar, perusahaan Singapura: Bumitama. 

 

Hal ini berpotensi menjadi kemenangan besar bagi hutan Indonesia; tapi yang harus menjadi penilaian adalah tindakan Wilmar, bukan hanya kata-katanya. Kebijakan Wilmar dapat menjadi peristiwa penting untuk menandai kemenangan hutan dunia dan mereka yang hidupnya bergantung pada hutan. Tapi tentunya semua ini tak mungkin terjadi tanpa jutaan orang yang mendukung Greenpeace, orang-orang seperti Anda! Sebuah gerakan yang turut melibatkan selebriti di Amerika, pemusik dan publik figur di Jakarta serta aktivis di Norwegia yang mendesak industri minyak sawit agar membersihkan aksinya.

Dari perusahaan konsumen seperti Ferrero dan Unilever, produsen yang tergabung dalam Palm Oil Innovation Group, setiap link di rantai pasokan minyak sawit berada di ambang transformasi. Kita tinggal satu langkah lagi menuju Nol Deforestasi.

bumitama

Tapi kerja keras Wilmar baru dimulai sekarang.

Efektif segera, Wilmar tidak akan terlibat dalam eksploitasi HCS (High Carbon Stock Areas), HCV (High Conservation Value areas) atau gambut, atau dengan sadar membeli dari pemasok yang terlibat eksploitasi HCS, HCV atau gambut’

Ini adalah kata-kata yang luar biasa, tapi kata-kata yang tertulis di atas kertas baru bermakna ketika ada aksi nyata yang mengikutinya di lapangan. Bagi 400 Harimau Sumatera yang tersisa di alam, aksi untuk mengakhiri deforestasi harus dilakukan sekarang. 

Ujian pertama bagi Wilmar adalah bagaimana mereka akan menghadapi pemasok minyak sawit yang masih terhubung dengan perusakan hutan serta konflik sosial yang masih berlangsung. Sebagai contoh, Ganda Group, pemasok minyak sawit yang terkait erat dengan salah satu pendiri Wilmar. Investigasi Greenpeace telah menyingkapkan bagaimana perusahaan ini melanggar semua prinsip-prinsip baru Wilmar.  Pelanggaran yang dilakukan termasuk pembersihan hutan, eksploitasi ilegal lahan gambut serta konflik sosial.

Apakah Wilmar akan mendesak Ganda untuk segera menghentikan praktek destruktifnya dan berkomitmen untuk kebijakan Nol Deforestasi?

Kebijakan Wilmar sendiri, meskipun mencakup banyak masalah-masalah besar, memiliki beberapa kelemahan yang menjadi perhatian Greenpeace:

  • Dukungan untuk pengawasan yang baik sangat penting untuk transformasi sektor minyak sawit. Kebijakan tersebut perlu mencakup komitmen yang kuat untuk mematuhi hukum nasional dan konvensi serta perjanjian internasional. Kebijakan tersebut juga perlu mencakup komitmen anti korupsi dan anti suap yang kuat. Harus juga mengatasi masalah legalitas lainnya seperta operasional di lahan gambut di pelosok (yang secara hukum dilindungi) atau konsesi yang dialokasikan untuk kawasan moratorium.
  • Mengingat ekspansi sektor minyak sawit yang cepat ke pulau Papua Nugini dan Afrika, kebijakan tersebut harus mengambil komitmen transparansi di semua negosiasi pembebasan lahan dan perjanjian serta memperkenalkan langkah-langkah untuk mencegah perampasan lahan. Ketahanan pangan bagi masyarakat lokal harus dipertahankan.
  • Kebijakan harus memastikan bahwa pertumbuhan di sektor tersebut memiliki tanggung jawab lingkungan dan sosial. Sebelum setiap investasi baru  memperluas kapasitas pengolahan, perusahaan harus menjamin bahwa semua pasokan dapat dipenuhi dari sumber yang bertanggung jawab, sesuai dengan kebijakan baru.
  • Verifikasi penyesuaian pemasok dari pihak ketiga yang independen, termasuk pedagang kecil sangat penting untuk memastikan kredibilitas implementasi kebijakan.
  • Transparansi adalah dasar kepercayaan stakeholder. Transparansi, termasuk akses publik ke semua dokumentasi yang relevan tentang operasional pemasok harus dapat dipastikan. 
  • Kebijakan harus mengatasi penggunaan pestisida, termasuk pelarangan terhadap pestisida seperti paraquat serta larangan untuk penggunaan GMO.

Namun demikian, dengan kebijakan barunya, Wilmar telah memberikan sebuah contoh yang harus diikuti oleh pemain lainnya di sektor ini. Raksasa minyak sawit lainnya seperti Cargill, Musim Mas dan Sime Darby belum terekspos dan harus merespon perubahan besar yang terjadi di sektor minyak sawit. Perusahaan konsumen khususnya yang ada dalam daftar Tiger Challenge kami seperti Procter & Gamble, Colgate Palmolive dan Reckitt Benckiser – harus juga bergerak menuju perubahan. Mereka harus memberikan jaminan kepada konsumen – seperti saya dan Anda – kalau produk-produk mereka bebas dari deforestasi hutan. Kita tahu hal ini mungkin terjadi!

Cari tahu bagaimana Anda bisa terlibat dan membantu kami menyelamatkan hutan Indonesia.