Antara Mainan, Bahan Kimia Berbahaya Beracun dan (Sungai) Citarum

limbah citarum

Tanggal 1 Juli 2013 yang lalu Cina memberikan kabar luar biasa bagi para orangtua di seluruh dunia, mulai dari orangtua di Beijing hingga di Jakarta. Pada tanggal itu Cina memberikan notifikasi pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tentang dua standard keamanan baru pada mainan. Salah satu standard tersebut melarang keras penggunaan enam jenis Phthalate pada mainan anak-anak, sebuah langkah yang membuat Cina menerapkan level pembatasan yang sama dengan Uni Eropa.

Phthalates utamanya digunakan sebagai pelunak plastik. Mereka ada di banyak varian produk, mulai dari mainan, kemasan makanan dan produk tekstil. Studi ilmiah telah menemukan bahwa Phthalate dapat menimbulkan dampak negatif terhadap tubuh (mereka dapat terserap dengan mudah melalui kulit) dan dapat mengakibatkan malfungsi hormon dan kelainan pada organ reproduksi laki-laki. Janin dan bayi sangatlah rentan terhadap paparan Phthalate.

Bagaimana ini tidak menjadi kabar yang luar biasa bagi para orangtua?  Cina saat ini merupakan negara penghasil dan pengekspor mainan terbesar di dunia, termasuk ke Indonesia.  Dengan nilai impor hingga mencapai 1,105 miliar US dolar pada tahun 2010 saja, produk mainan buatan Cina ‘membanjiri’ Indonesia dan oleh karena itu potensi bahaya dari kandungan bahan kimia berbahaya didalam mainan impor tersebut juga ‘membanjiri’ Indonesia, baik pada saat digunakan maupun saat dibuang menjadi limbah.

Pada tahun 2011, Greenpeace Cina melakukan penelitian terhadap berbagai mainan plastik yang dijual di kota-kota besar di Cina. Hasilnya sangat mengejutkan. 70% mainan plastik mengandung phthalates dengan level tinggi. Pelarangan penggunaan Phthalate dalam mainan di Cina ini tentu saja juga merupakan kabar gembira bagi kawan-kawan Greenpeace yang telah sejak 1997 berkampanye untuk mengakhiri penggunaan phthalate dalam mainan dengan kampanye ‘Play Safe’ di Kanada, Eropa dan Amerika. Untuk cerita lebih lanjut tentang kabar luar biasa ini, silakan klik link ini.

Bagaimana dengan Indonesia?

pencari ikan di citarum

Laporan investigasi Greenpeace Indonesia: Bahan Beracun Lepas Kendali pada tahun 2012 di Sungai Citarum, Jawa Barat, menemukan berbagai bahan kimia berbahaya beracun di saluran-saluran pembuangan limbah industri, salah satunya berbagai jenis phthalate (DEP, DBP, DiBP, DEHP). Limbah berbahaya beracun tersebut lalu mengalir ke berbagai titik di Sungai Citarum, sumber air puluhan juta masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Manajemen bahan kimia berbahaya beracun pemerintah kita yang belum mengedepankan pendekatan kehati-hatian dan pencegahan, prinsip substitusi, pertanggungjawaban produsen dan eliminasi penggunaan bahan kimia berbahaya beracun, disamping masih lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, keterbukaan informasi polusi industri dan minimnya akses untuk partisipasi publik menyebabkan ‘tersebarnya’ bahan kimia berbahaya beracun ini di lingkungan kita, di sungai-sungai kita hingga ke produk-produk yang kita gunakan sehari-hari.

Beraksilah Sekarang!

Investigasi kami juga telah mengungkapkan bahwa produk-produk pakaian dari merek-merek ternama termasuk Tommy Hilfiger, Armani dan GAP mengandung berbagai bahan kimia berbahaya, termasuk phthalates. Beberapa merek ternama juga terkait dengan skandal pencemaran bahan kimia berbahaya di Sungai Citarum. Bergabunglah dengan gerakan global dari fashionistas, aktivis, desainer, blogger dan model  yang menuntut masa depan yang bebas toksik dengan menandatangani Detox Fashion Manifesto, sekarang!