Aliran sungai Citarum di Situs Geologi bersejarah, Curug Jompong atau Air Terjun Jompong, terlihat berwarna hitam pekat dan berbusa saat kami mengunjunginya. Bekerja bersama tim Water Patrol, bergerak dari satu area industri ke area industri lainnya, kami menjadi terbiasa terhadap keadaan air dan sungai yang berbau menyengat dan berwarna. Akan tetapi kita tidak akan pernah bisa terbiasa dengan pemandangan seseorang yang memancing atau mencari ikan di sungai yang berwarna hitam pekat dan berbusa ini.  Sangatlah mengerikan. Apa yang mungkin terlintas di benak mereka, sementara mereka menunggu tangkapannya? Apakah mereka bertanya pada diri mereka sendiri, Apa dan Siapa Yang Meracuni Citarumku? Atau mungkinkah sudah sejak lama mereka melewati masa keingintahuan dan kemarahan itu? dan sekarang menjadi… tidak peduli.

Hari ini, Greenpeace ingin mengingatkan masyarakat sepanjang Sungai dan masyarakat di manapun, bahwa kita mempunyai Hak Untuk Tahu tentang bahan-bahan kimia beracun dan berbahaya apa saja yang mencemari sumber-sumber air kita. Kami berusaha menggambarkan sebuah ironi dari Curug Jompong yang indah dan bersejarah yang sekarang berubah menjadi tempat pembuangan limbah, dengan memperagakan ‘Piknik Beracun’. Diantara air terjun, air, bebatuan purba dan tebing, Aktivis Greenpeace berusaha menunjukkan apa yang sebuah keluarga akan perlukan bila ingin menikmati liburan atau waktu berkumpul bersama di tempat ini. Keluarga tersebut akan menggunakan baju perlindungan dari bahan beracun dan berbahaya. Tentu hal tersebut bukanlah masa depan yang kita inginkan!

Apa yang kami lihat dan cium kami uji secara ilmiah. Greenpeace mengambil sampel air dari Curug Jompong dan meminta Universitas Indonesia untuk mengujinya. Satu dari sebelas bahan kimia organik beracun dan berbahaya ditemukan, disamping logam-logam berat lainnya. Kami juga mencari penelitian-penelitian terdahulu oleh ilmuan-ilmuan lainnya yang menyebutkan bahwa beragam logam berat berbahaya mencemari Sungai kita. Walaupun pada beberapa kasus kandungan logam-logam berat ini masih dalam ‘ambang batas yang dapat ditoleransi’ berdasarkan aturan provinsi, Ahmad Ashov Birry, Juru Kampanye Greenpeace, memperingatkan akan bahaya dari sifat akumulasi dan persisten dari bahan kimia tersebut. Satu dari rekan media yang hadir pada aktivitas ‘Piknik Beracun’ membuat komentar yang menarik, “Bagaimana mungkin kondisi seperti ini masih bisa dianggap sebagai sesuatu yang bisa diterima?!”


T. Bachtiar, Ahli Geografi Indonesia, menjelaskan “Curug Jompong adalah pintu masuk lumpur hasil erosi dari lereng-lereng di Cekungan Bandung, yang lingkungannya semakin kritis, bahkan ke curug ini pula pencemaran dari Cekungan Bandung mengalir”. Lebih jauh lagi, sebuah studi dari Universitas Padjadjaran menyebutkan bahwa 72% potensi pencemaran bahan beracun dan berbahaya dari industri berasal dari industri tekstil. Industri yang memang tumbuh subur di daerah aliran sungai Citarum.

Ada kesamaan yang kami temui saat kami berpatroli di Citarum. Ingatan orang-orang akan masa-masa kecil mereka tentang Sungai Citarum yang berbeda, yang masih asri. Saat para aktivis Greenpeace selesai melaksanakan ‘Piknik Beracun’, kami terdiam sejenak dan melihat ke sekitar kami, “Tempat ini pasti dulu sangatlah indah!”

Pada akhirnya satu pertanyaan masih tersisa, apakah si pencari ikan akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan:

“Apa dan Siapa Yang Mencemari Citarumku?