© Matt Marton / Greenpeace

Greenpeace memberikan Oreo raksasa dengan isian ilustrasi buldoser yang merusak hutan dan binatang yang melarikan diri. © Matt Marton / Greenpeace




Nama saya Annisa Rahmawati, dan saya adalah jurukampanye hutan di Greenpeace Indonesia. Saya mengabdikan  hidup saya untuk melindungi hutan kita yang tersisa, namun masih banyak perusahaan yang masih membabat hutan

Deforestasi yang terjadi di Indonesia, masih sangat mengkhawatirkan. Sebagian besar terjadi untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit, yang kemudian digunakan untuk membuat produk-produk seperti kue, coklat dan sampo.

Sangat menyedihkan dan miris melihatnya. Tetapi, saya dan teman-teman percaya masih ada waktu untuk melindungi hutan kita yang tersisa. Hutan kita adalah paru-paru planet kita, hutan kita adalah pertahanan terbesar kita terhadap perubahan iklim, dan saya tidak akan berhenti bertindak sampai hutan  kita bebas dari deforestasi.

Oleh karena itu ijinkanlah saya menceritakan kisah tentang Oreo, biskuit  yang "terkenal di dunia".

Ekskavator membabat hutan gambut utuh dan membangun kanal pengering di konsesi kelapa sawit milik PT Andalan Sukses Makmur, anak perusahaan Bumitama Agri Ltd. © Kemal Jufri / Greenpeace


Banyak dari kamu mungkin menyukai rasa krim vanila lembut yang dikombinasikan dengan biskuit coklat yang renyah. Tetapi apakah kamu tahu kue kering ini terkait dengan deforestasi, dan berdampak pada kehidupan orang-orang yang menyebut hutan sebagai rumahnya, termasuk orang utan?

Apa? Oreo terhubung dengan penderitaan orang utan? kamu pasti sedang bercanda!

Saya berharap saya bercanda.

Tetapi sayangnya tidak, investigasi Greenpeace International menemukan bahwa sebagian besar minyak sawit yang digunakan Mondelez dihasilkan oleh perusahaan yang merusak hutan dan menghancurkan habitat orang utan, mendorong makhluk-makhluk cantik dan cerdas ini ke jurang kepunahan. Mereka benar-benar terancam dan mati untuk sebuah kue kering. Sangat memilukan.

Inilah sebabnya mengapa aktivis Greenpeace Amerika mengirimkan kue rasa Kehancuran Hutan ke Mondelez, pembuat Oreo, di markas globalnya dekat Chicago, untuk memberitahu mereka agar BERHENTI membeli minyak sawit kotor dari perusak hutan kita.

Hampir 10 tahun yang lalu Mondelez berjanji untuk menghilangkan perusakan hutan dan pelanggaran hak asasi manusia dari rantai pasok sawit mereka pada 2020. Namun, Mondelez masih menggunakan minyak sawit dari perusak hutan. Analisis pemetaan baru kami menemukan bahwa antara tahun 2015 dan 2017, 22 pemasok minyak sawitnya telah membabat lebih dari 70.000 hektar hutan  - sebuah wilayah yang lebih besar dari kota Chicago. Dimana hampir 25.000 hektar itu merupakan habitat orang utan.

Mondelez berjanji menawarkan kepada konsumen cara 'ngemil yang dilakukan dengan benar'. Tetapi tidak ada yang benar tentang minyak sawit yang dihasilkan dengan cara membunuh orang utan dan menyebabkan perubahan iklim global. Mondelez mendapatkan banyak minyak sawit kotor ini dari Wilmar International - pedagang minyak sawit terbesar dan terkotor di dunia.

 © Matt Marton / Greenpeace

Aktivis Greenpeace menyingkap "Rasa Deforestasi" baru dari Oreo di kantor pusat global Mondelez International. © Matt Marton / Greenpeace


Mondelez memiliki tanggung jawab untuk melindungi hutan. Mereka harus menepati janjinya dan menjauhi Wilmar sampai terbukti minyak sawitnya bersih, simana diharapkan merek-merek global yang lain bisa menyusul mengikuti jejak mereka.

Tahukah kamu, bahwa bersama-sama kita memiliki kekuatan untuk menyelamatkan hutan  Indonesia yang tersisa dan untuk itu saya membutuhkanmu. Maukah kamu membantu kami membuat kampanye ini menjadi sebesar mungkin, sehingga Mondelez tidak punya pilihan selain menjauhi Wilmar dan berhenti menggunakan minyak sawit yang terkait dengan perusakan hutan?

Bukan hanya Mondelez dengan Oreo-nya yang 'terkenal di dunia' yang perlu diubah, tetapi juga seluruh industri. Saya dan teman-teman  tidak akan berhenti sampai perubahan ini terjadi.

Minyak sawit BISA  diproduksi tanpa menghancurkan hutan, tanpa mengancam  kehidupan satwa liar, dan tanpa melanggar hak asasi manusia.

Ibu saya selalu berkata: ‘Jangan putus asa. Jika kamu gigih dan jika kamu tahu apa yang kamu inginkan, semuanya akan datang kepadamu.' Saya sudah membuktikan nasihat . Oleh karena itu tidak ada yang tidak mungkin,  mari kita bersama-sama membersihkan industri ini dari deforestasi, sekarang dan untuk selamanya.

Tambahkan namamu dalam pertarungan untuk melindungi hutan Indonesia di sini.