Kurang dari satu jam saya di sini, saya sudah merasa sedikit pusing dan mual. Awalnya saya mengira saya kelelahan saja, karena kami langsung ke lapangan setelah mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan.

Tapi ternyata saya tidak sendirian. Saya bertanya kepada anggota tim lapangan yang lain, Godi Utama (Videografer), Jurnasyanto (fotografer), Ahmad Ashov Birry (campaigner), meski sedikit mereka merasakan hal yang sama. Hanya Johana, aktivis Greenpeace yang kini bermukin di Balikpapan, yang segar bugar. Wajar karena dia sudah lebih lama berada di lapangan, sehingga sudah hampir terbiasa. 

Di sini berbeda dengan Desa Margasari. Di sini, RT 02 Desa Kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur. Di sini, meski tumpahan minyak sudah tidak setebal hari-hari pertama, tetapi masih terlihat di sana sini, dan baunya juga masih tajam menyebar ke sana sini.

Setelah meluangkan waktu sebentar untuk menyapa dan berbincang dengan beberapa warga desa, kami berjalan menuju dermaga. Saat itu sore hari selepas Ashar, banyak anak-anak bermain di sekitar dermaga seperti biasa. Mereka tampak tidak lagi terganggu oleh bau minyak, yang berbeda adalah sekarang mereka dilarang berenang oleh orang tuanya.

Beberapa kapal nelayan bersandar. Tampaknya tidak banyak yang melaut semenjak insiden tumpahan minyak Pertamina Refinery V ini terjadi, 31 Maret lalu. Tiga hari sebelum tim kami tiba di lokasi insiden yang menelan lima korban jiwa ini.

Tidak jauh dari dermaga, jaraknya hanya hanya sekitar 7 meter, terhampar hutan mangrove yang cukup luas. Mangrove di kawasan ini dikelola dan dirawat oleh masyarakat. Lebih dari 50 tahun sudah. Selain sebagai kawasan hijau, banyak warga desa mendapat keuntungan ekonomi dari keberadaan mangrove ini.

Tapi tunggu dulu. Laut yang sedang surut dengan jelas menampakkan hamparan mangrove yang berbeda dengan yang kerap kali saya lihat. Semua mangrove yang saya lihat sebagian tingginya sudah berwarna hitam. Tidak sedikit juga mangrove yang tingginya masih kurang dari sekitar dua meter, seluruhnya hitam tidak lagi menyisakan hijaunya.

 

“Mangrove mangrove ini terendam air yang tercemar tumpahan minyak saat pasang,” jelas Arifin, warga Desa 02 berusia 59 tahun.

Desa ini berjarak lebih dari 10 kilometer dari lokasi awal tumpahan minyak. Tidak seperti di Desa Margasari yang terletak hanya ratusan meter dari lokasi kebocoran pipa, serbuan minyak tumpah tiba di desa ini pada malam hari, lebih dari 15 jam setelah kejadian.

“Malamnya langsung tiba. Warga tidak terlalu terkejut karena sudah mendengar beritanya. Warnanya hitam pekat, dan baunya sangat kuat menusuk,” kenangnya. 

Dampak yang paling segera tentu adalah kesehatan. Banyak warga yang merasa mual malam itu. Dan tidak berbeda dengan Margasari, gangguan pernafasan atas. Sebagai catatan, ada 300 kepala keluarga bermukim di desa ini.

Saat mentari menyingsing, warga yang berkumpul di sekitar dermaga tercekat. Hutan mangrove yang telah mereka rawat 50 tahunan itu menghitam terendam minyak.

Arifin dan warga lainnya khawatir mangrove yang telah memberi perlindungan lingkungan dan mata pencaharian bagi warga desa ini tidak tertolong. Ride, Lurah Margasari juga punya kekhawatiran yang sama. Di kawasan Margasari ini, luas hutan mangrove sekitar 11 hektar.

 

“Daunnya sudah menghitam, lama-lama akan berguguran. Kami khawatir semuanya akan mati. Kalau ada yang tahu apakah ini masih bisa diselamatkan, tolong beritahu kami. Kami akan lakukan upaya apa pun untuk menyelamatkan pohon-pohon ini,” Ride bermohon.

Selain dampak kesehatan dan lingkungan, tentu saja dampak lainnya adalah ekonomi. Berminggu-minggu setelah kejadian, masih banyak penduduk terutama nelayan, petani cacing laut, peternak kepiting, yang terganggu mata pencahariannya.

Estimasi total luasan tumpahan minyak mencapai hampir 13 ribu hektar! Sedangkan di Desa Kariangau, RT 01 dan 02 saja, mangrove yang tercemar menurut Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, kurang lebih 34 hektar.

Tentu saja kita semua berharap ini jadi perhatian Pertamina dan pemerintah, karena seperti terungkap dalam artikel “Pak Lurah, Ada Api Besar di Laut!”, dampak tumpahan minyak ini bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan ada kemungkinan menyebabkan kerusakan permanen.

Di beberapa wilayah, nelayan sudah mulai mencoba melaut. Tetapi hasilnya jauh berkurang. Dari beberapa warga yang saya temui, mulai dari nelayan hingga peternak kepiting, rata-rata mereka hanya mendapat seperlima dari biasanya. “Kami nelayan kecil, biasanya sekali melaut dapat 3 kilo, sekarang hanya sekitar 7 ons,” papar Arifin.

Selain itu, semua orang ingin melihat adanya upaya pemulihan yang komprehensif dari pertamina. Upaya pemulihan ini adalah tahap lanjutan setelah penanggulangan. 

Apalagi menurut Undang-Undang No.32 Tahun 2009, pemulihan adalah tanggung jawab wajib dari pencemar. Jangan hanya berupaya terlihat bagus di depan publik tetapi membiarkan masyarakat menderita akibat dampak insiden ini. Polluters should Pay!