Bulan Februari kami melaporkan bagaimana Asia Pulp & Paper (APP) telah menghentikan semua deforestasi di konsesi pemasoknya dan berkomitmen untuk melindungi semua kawasan hutan hujan yang tersisa di rantai pasokan globalnya.

Namun demikian, ada lagi sebuah perusahaan kertas dan pulp di Indonesia yang sekarang menjadi pemain kunci deforestasi di sektor tersebut : APRIL.

Asia Pacific Resources International Holding Limited, atau disingkat APRIL adalah produsen kertas dan pulp terbesar kedua di Indonesia. Dalam websitenya, perusahaan ini bersesumbar: “Pergilah ke supermarket, toko alat tulis, toko buku atau jenis outlet konsumen lainnya di puluhan negara dan kemungkinan Anda akan menemukan barang terbuat dari produk APRIL.”

Namun demikian, catatan APRIL di area konservasi sangat suram. Perusahaan ini telah menghancurkan hutan hujan Sumatra termasuk habitat harimau, menimbulkan kebencian masyarakat adat dan gagal memenuhi target publik untuk bergantung 100% pada perkebunan serat.

Perusahaan ini mengeluarkan Deklarasi Berkelanjutan di websitenya menyusul pengumuman APP yang sebagian berisi :

“Kami bukan deforestasi… Istilah deforestasi biasanya digunakan oleh para kritikus untuk mencirikan operasional kami di Indonesia. Ini adalah kata-kata yang emosional yang menghasilkan tajuk yang baik tapi tidak mencerminkan fakta.”

 Ok, jadi mari kita beberapa fakta-faktanya.

Data pemerintah baru-baru ini menyingkapkan bahwa 60% pasokan serat pabrik pulp APRIL di Riau, Andalan Pulp & Paper (RAPP) adalah kayu hutan hujan di Indonesia. APRIL merencanakan untuk menyuplai pabrik pulp-nya di Sumatra dengan kembali mencemari 60.000 hektar hutan hujan lainnya, kawasan yang hampir sebesar Singapura.

Meskipun ada sedikit operasional APRIL yang berkelanjutan,  namun luar biasa ketika perusahaan ini terus menjadi angota “asosasi bisnis dunia yang paling berdedikasi pada pengembangan berkelanjutan” bagian dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD).

Saat bergabung dengan WBSCD beberapa tahun lalu, CEO APRIL mengklaim akan “merencanakan perkebunan untuk melindungi High Conservation Value Forest (HCVFs) dan menawarkan jalan keluar bagi deforestasi di Indonesia”  Dewan menyambut baik komitmen APRIL pada WBCSD dan menyatakan bahwa perusahaan ini “tampil sebagai pemimpin industri, lokal dan internasional.”

Kenyataan menunjukan, ternyata, APRIL sekarang adalah pemain kunci deforestasi pulp di Indonesia. Peta deforestasi di bawah ini menunjukan dan dikirimkah oleh Greenpeace Asia Tenggara bersama surat kepada APRIL, konsumen belakangan ini, menunjukan kawasan di mana perusahaan ini baru-baru ini telah menghancurkan ribuan hektar hutan gambut, habitat vital bagi harimau Sumatra yang terancam punah.

 

Keanggotaan APRIL di WBSCD Forestry Solution Group (Kelompok Solusi Kehutanan WBSCD) merupakan ejekan terhadap sasaran kelompok ini untuk “melindungi dan melestarikan hutan dengan nilai konservasi primer yang tinggi….untuk menguatkan kepercayaan konsumen dan pihak-pihak terkait terhadap sektor kehutanan.”

Oleh karena itulah Greenpeace International telah menyampaikan pesan kepada WBCSD, meminta mereka segera beraksi untuk mencabut keanggotaan APRIL sampai perusahaan ini membersihkan aksinya.

APP telah berkomitmen untuk menghentikan keterlibatannya dalam deforestasi, tapi APRIL telah memutuskan untuk tetap lanjut, apapun yang terjadi. Kegagalan merubah haluan terus merusak reputasi industri kertas dan pupl Indonesia di pasar internasional.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah buku yang baru-baru ini disebut oleh rekan sekerja saya, dongeng anak-anak Dr.Seuss ‘The Lorax’ yang mengisahkan tentang industrialis serakah yang terus menerus menebangi pohon hingga tiba pada pohon terakhir kemudian bisnisnya hancur berantakan. Ia gagal mendengarkan tanda-tanda peringatan.

Apa yang harus dilakukan untuk merubah APRIL? Pelaku bisnis bijaksana yang menjalankan perusahaan seperti itu mustinya peka pada tanda-tanda.

Klik disini untuk peta yang menunjukan deforestasi.