Hari itu nampak seperti hari yang biasa, tetapi bagi enam pria yang berada di atas kapal di tengah lautan Arktik hari itu adalah hari dimana sebuah pesan penting siap disampaikan bagi siapapun yang mengancam keaslian dan kemurnian kawasan Arktik, khususnya bagi perusahaan minyak Rusia Gazprom yang melakukan aktifitas pengeboran minyak lepas pantai di tengah laut Arktik, sebuah pesan untuk segera berhenti melakukan penghancuran di kawasan ini.

“Ini adalah wajah dari kehancuran yang terjadi di Arktik. Prirazlomnaya adalah anjungan minyak permanen pertama yang mampu bertahan di es Arktik. Ini adalah sebuah contoh sempurna – sebuah personifikasi dari industrialisasi yang merayap pelan di kawasan yang masih asli ini.” ujar Dima Litvinov, juru kampanye Greenpeace.  

Arktik adalah lingkungan yang unik sekaligus rentan. Selain sebagai rumah bagi banyak spesies, kawasan ini juga memainkan peranan penting dalam mengatur iklim global, berperan sebagai lemari es bumi dan menjaga agar planet tetap dingin.  Es Arktik bertindak sebagai cermin raksasa, memantulkan sinar matahari dan panas kembali ke atmosfir. Tanpa es Arktik, dampak perubahan iklim menjadi tak terbendung (GP Newsletter, 2013).

 

Pengeboran minyak lepas pantai yang dilakukan di Arktik akan menambah kerusakan yang perlahan mulai terjadi di kawasan ini. Ketika es di kawasan ini meleleh maka dampak perubahan iklim akan menjadi tak terbendung. Asia Tenggara adalah negara yang rentan terhadap perubahan iklim. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini  berbagai peristiwa telah terjadi seperti Badai Bopha yang melanda Mindanao, Filipina tahun lalu yang  menewaskan 1.901 dan mendatangkan kerugian sebesar US$ 1 juta. Bopha yang disebut rakyat Filipina  ‘Super Badai’ menghantam kawasan yang selama ini tidak pernah dilewatinya. Sebuah bentuk dari ketidak seimbangan dan dampak dari perubahan iklim. Banjir besar yang melanda Thailand di tahun 2011 membuat 7 juta orang terlantar dan membutuhkan bantuan.

Lalu apa yang terjadi di Indonesia sendiri? Bagaimana dengan banjir yang terjadi awal tahun ini yang telah melumpuhkan Ibu Kota? Selain dari faktor internal, ketidak seimbangan akibat perubahan iklim adalah dampak dan konsekuensi yang juga harus dihadapi oleh jutaan penduduk kota Jakarta.

Pertanyaannya sekarang adalah: apalagi yang ditunggu atau sampai kapan lagi harus menunggu? Kehancuran sebesar apa lagi yang bisa meyakinkan dunia bahwa perubahan iklim adalah sebuah fenomena global yang membutuhkan solusi global?

Tahun ini secara khusus, Greenpeace menyerukan sebuah pesan penting bagi dunia: mari arahkan pandangan kita ke Arktik, mari lakukan sesuatu untuk menjaga keseimbangan kawasan yang asli ini.

www.savethearctic.org