Pemandangan matahari terbenam selalu menarik perhatian saya, terlebih saat ini saya sedang berada di Bali, sebuah provinsi dengan pantai yang berlimpah. Dari jauh terlihat sebuah bukit dengan ternak sapi di atas bukit sedang merumput. Cantik, bukan? Pemandangan yang jarang saya temukan di area ini. Penasaran, saya semakin mendekat. Namun bukannya semakin cantik, semakin mendekat benak saya semakin terganggu. Samar tercium bau sampah dan semakin mendekati bukit ini, bau sampah semakin menyengat. Tunggu, ini bukan bukit rumput yang pemandangannya bisa memanjakan mata. Ini Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah masyarakat Bali!

Siluet perbukitan yang dari jauh nampak seperti tanah ternyata merupakan gunungan sampah. Di sinilah sampah kita berakhir. Menumpuk dan semakin menumpuk dengan banyaknya sampah yang datang setiap hari. Sebenarnya sampah-sampah ini berasal darimana? 

Bulan September lalu Greenpeace bersama beberapa organisasi dan komunitas yang tergabung dalam gerakan #BreakFreeFromPlastic melakukan bersih-bersih pantai, sungai, dan lingkungan sekitar dari sampah plastik. 239 kegiatan bersih-bersih ini dilakukan di 42 negara di 6 benua dalam waktu yang bersamaan. Tumpukan sampah yang dikumpulkan ini adalah barang yang sering kita temukan sehari-hari, barang yang sering kita gunakan. Mulai dari kemasan sachet sampai sandal dan sepatu ditemukan di lingkungan bebas. Dari tumpukan sampah itu lalu disortir berdasarkan merek untuk melihat siapakah yang bertanggung jawab atas tumpukan sampah ini.

Kebanyakan dari sampah ini berasal dari perusahaan yang namanya sudah tidak asing: Coca Cola, PepsiCo, Nestle, Danone, Mondelez, Procter & Gamble, Unilever, Perfetti, Mars, Johnson & Johnson, Colgate Palmolive, dan Kraft Heinz. Perusahaan produsen barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods atau FMCG) seperti merekalah yang menyebabkan krisis polusi plastik yang setiap tahunnya semakin memburuk.

Saat ini plastik sudah bisa ditemukan di mana-mana, dari yang kasat mata menggunung di tanah kita, mengapung di lautan, bahkan hingga sampai plastik tak kasat mata dalam bentuk mikroplastik yang pada penelitian terbaru ditemukan pada feses seluruh peserta uji dari berbagai negara. Berarti plastik juga sudah mulai menginvasi tubuh kita melalui makanan, minuman, atau bahkan dari udara yang kita hirup. Lingkungan sekitar rumah, makanan, hewan, manusia, tidak ada yang aman dari plastik. Kita sudah diserang plastik!

Berdasarkan survei komprehensif yang dirilis Greenpeace International, tak satupun perusahaan yang disurvei memiliki rencana untuk mengerem produksi yang terus meningkat sedangkan jejak sampah kemasan plastik yang mereka munculkan tidak berkurang bahkan terus bertambah. Survei ini lalu ditulis dalam laporan yang berjudul “A Crisis of Convenience: The corporations behind the plastics pollution pandemic”. Kebanyakan dari perusahaan FMCG ini hanya mengetahui sedikit mengenai jumlah kemasan mereka yang didaur ulang, dan bukannya mengurangi produksi kemasan plastik, mereka malah Sudah saatnya perusahaan-perusahaan produk kebutuhan sehari-hari berhenti menggunakan sampah plastik yang tidak perlu!

Kembali ke TPA, saya bersama teman-teman Greenpeace memilih TPA sebagai tempat kami menyuarakan pesan dari bumi kita yang sudah lelah dan muak dengan sampah plastik yang terus meracuninya. Kami mengekspos 11 perusahaan yang disebutkan di atas dalam sebuah karya yang diproyeksikan kepada tumpukan sampah yang mereka hasilkan.

Kami bersama gerakan #BreakFreeFromPlastic juga melakukan kegiatan bersih pantai dan membawakan pesan yang ditujukan kepada perusahaan FMCG.

Beberapa rangkaian kegiatan ini dilakukan menjelang perhelatan Our Ocean Conference yang diadakan di Nusa Dua, Bali, tanggal 29-30 Oktober  2018. Kami menuntut perusahaan-perusahaan ini untuk:

  • Lebih transparan dan terbuka dalam memberi informasi mengenai jejak plastik yang mereka gunakan setiap tahunnya

  • Berkomitmen dan menentukan target untuk mengurangi jejak plastik sekali pakai secara bertahap hingga akhirnya bisa lepas sepenuhnya

  • Tidak menggunakan plastik berlebihan yang tidak perlu dan bermasalah

  • Berinvestasi dalam sistem penggunaan kembali (reuse) dan inovasi sistem pengiriman baru yang meminimalkan kebutuhan kemasan sekali pakai

Di perhelatan Our Ocean Conference ini beberapa aktivis Greenpeace juga menyampaikan pesan kepada perusahaan FMCG untuk berhenti menggunakan kemasan plastik sekali pakai. Dalam sesi yang diadakan Yayasan Ellen MacArthur, lebih dari 200 perwakilan perusahaan FMCG menandatangani komitmen untuk mengatasi polusi plastik. Saat ini perusahaan-perusahaan FMCG menyatakan bahwa produk mereka menggunakan kemasan yang bisa didaur ulang, namun daur ulang bukanlah solusi yang utama. Ingat kan, sebelum ada “recycle” ada 2 R lainnya yaitu “reduce” (mengurangi), dan “reuse” (penggunaan ulang)? Seharusnya perusahaan-perusahaan ini fokus di R yang pertama, yaitu reduce. Tidak ada dari perusahaan ini yang berkomitmen untuk mengurangi produksi barang yang menggunakan plastik sekali pakai.

Abigail Aguilar sebagai perwakilan Greenpeace mendapat kesempatan untuk berbicara di hadapan petinggi perusahaan FMCG dan menyatakan bahwa Greenpeace akan terus mendesak perusahaan-perusahaan ini untuk mengurangi produksi kemasan plastik sekali pakai hingga akhirnya mereka bisa lepas sepenuhnya. Demi lingkungan kita, demi generasi yang akan datang.

Enough is enough!