Ya.. berita itu benar, Ken telah mencampakkan Barbie – dia kecewa karena menemukan fakta bahwa Barbie terlibat dalam penghancuran hutan Indonesia dan mendorong keberadaan spesies langka, seperti Harimau Sumatera, ke ambang kepunahan.

Ken yang patah hati memutuskan untuk melakukan tindakan dramatis agar Barbie tahu bagaimana persaaannya. Dengan bantuan beberapa Aktivis Greenpeace, spanduk besar digantungkan dari puncak gedung markas Mattel yang bertuliskan “ Barbie, Kita Putus, Aku tidak mengencani gadis yang terlibat deforestasi.

Hutan hujan Indonesia memang sangat jauh lokasinya dari kantor perusahaan pembuat mainan Mattel, di El Segundo, Los Angeles. Tapi, hasil riset forensik Greenpeace terhadap kemasan kertas yang digunakan Barbie, mainan paling terkenal di dunia, ditemukan serat kayu yang berasal dari hutan hujan Indonesia. Kami juga melakukan penyelidikan menyeluruh di Indonesia, memetakan data dan melacak sertifikat perusahaan untuk menunjukkan bahwa Mattel, pembuat boneka Barbie, dan perusahaan mainan lainnya seperti Disney, menggunakan kemasan yang diproduksi oleh Asia Pulp and Paper, perusahaan penghancur hutan Indonesia.

APP terus menjadi berita buruk bagi hutan alam Indonesia, yang memperlakukannya tidak lebih dari aset yang dapat dibuang, merenggut hutan alam yang penting bagi masyarakat sekitar hutan. Mattel, dan perusahaan mainan lainnya seperti Disney, memiliki tanggung jawab untuk mendukung pembangunan yang bersih, rendah karbon, dan untuk memastikan produk mereka tidak mengakibatkan kehancuran pada lingkungan. Mereka bisa melakukan ini dengan segera meninggalkan APP dan sebaliknya mendukung produsen dari Indonesia yang lebih bertanggung jawab

Indonesia memiliki laju kerusakan hutan tercepat di dunia; menurut pemerintah sendiri, lebih dari satu juta hektar hutan alam dibabat habis tiap tahunnya. Meskipun pemerintah baru baru ini telah mengumumkan moratorium konversi hutan, bukti menunjukkan langkah ini tidak melindungi 45 juta hektar hutan alam dan lahan gambut. Moratorium tidak hanya gagal untuk menghentikan penghancuran hutan hujan yang sangat penting, tapi juga menggagalkan Indonesia untuk mencapai targetnya memotong emisi gas rumah kaca sebesar 41%, sesuatu yang hanya bisa dicapai jika pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan baru dalam pembangunan rendah karbon.

Jadi, tidak hanya mengirim pesan kepada Mattel, kami juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan lembaga yang lebih kuat dalam melindungi hutan alam dan lahan gambut—termasuk di dalam lahan konsesi yang telah ada. Pemerintah harus mengikuti ini dengan mengkaji ulang konsesi yang telah ada untuk membuktikan apakah izin tersebut diberikan sesuai dengan hukum  Indonesia atau tidak.

Untuk saat ini, hutan alam, lahan gambut, dan segala kehidupan didalamnya, masih terus menderita akibat praktik deforestasi yang dilakukan oleh perusahaan seperti APP

Jika Barbie ingin kembali kepada Ken, dia harus berhenti memperlakukan hutan hujan seperti sampah. Mattel harus berhenti membungkus Barbie dengan bahan yang berasal dari hutan hujan Indonesia, dan tidak lagi membeli kertas dari APP. Barbie, apakah kamu dengar?

 

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace di Indonesia

Baca Laporan Kami : Sinar Mas Dalam Investigasi