Beberapa hari belakangan ini menjadi hari yang sibuk sejak fase terbaru kampanye kami untuk menyelamatkan hutan Indonesia berlangsung. Saat ini telah terlihat beberapa tanda di industri mainan bahwa baik Mattel dan Lego sedang bersiap-siap  membuat perubahan dalam cara mereka membeli kemasan.

Pernyataan Mattel, yang dikeluarkan pada hari Jumat lalu di AS, memberikan kesan bahwa perusahaan telah mengakui bahwa mereka memiliki keterkaitan dengan masalah deforestasi. Akan tetapi, mereka belum sepenuhnya lepas dari permasalahan karena perusahaan masih harus menjelaskan secara detail dan batas waktu yang jelas untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar serius menangani masalah deforestasi hutan.  

Sementara itu, di Denmark, Lego telah merespon pertanyaan media dengan menyatakan  niat mereka untuk berpindah sepenuhnya pada  kertas daur ulang dan sumber  bersertifikat FSC (Forest Stewardship Council) untuk kemasan mereka. Ini sepertinya memang merupakan suatu langkah maju yang positif, tapi kita masih menunggu detail lebih lanjut dan informasi bagaimana mereka akan menangani  masalah Asia Pulp and Paper (APP), perusahaan yang telah mengakibatkan banyak kerusakan pada hutan hujan Indonesia. Sayangnya, Disney dan Hasbro, belum memberikan respon apapun terhadap kampanye Greenpeace.

Kembali ke Indonesia, APP tidak ragu-ragu menanggapi kampanye kami,  namun mereka menyangkal dengan mengatakan bahwa tidak ada masalah sama sekali  dengan  operasi mereka. Dalam sebuah halaman blog, “Direktur Keberlanjutan APP” Aida Greenbury, menantang Greenpeace untuk “menjelaskan tentang pemilihan waktu yang digunakan untuk menyerang industri kertas dan bubur kertas Indonesia”. Hmm, Ibu Aida, Kampanye kami telah sangat jelas sekali menyatakan bahwa ini bukanlah serangan untuk Industri di Indonesia, ini adalah kampanye melawan APP. Lalu mengapa kami meluncurkan kampanye ini sekarang?

Di awal tahun ini, salah satu perusahaan saudara APP di dalam Sinar Mas Grup, Golden Agri Resources (GAR) telah mengumumkan sebuah kebijakan konservasi hutan yang baru, mereka menginginkan perkebunan mereka tidak memiliki jejak deforestasi. Perusahaan telah menyediakan beberapa komitmen jelas, untuk melindungi area bernilai konservasi tinggi (yang diterapkan berdasarkan dari penilaian independen), untuk menghentikan pengembangan perkebunan pada lahan gambut, untuk melindungi area yang menyimpan stok karbon tinggi, dan  terkait masalah sosial untuk menerapkan prinsip Free Prior and Informed Consent (FPIC)  –sebuah prinsip dimana perusahaan wajib memberikan informasi lengkap terkait rencana operasi perusahaan kepada masyarakat, dan masyarakat bebas memilih untuk menerima atau tidak menerima keberadaan perusahaan di wilayan mereka-  ketika mereka mengembangkan perkebunan. Info lebih lengkap FPIC 

Dan di saat waktu yang sama, APP juga mengumumkan “peta jalan keberlanjutan” yang baru, meskipun sedikit sekali yang “berkelanjutan” didalamnya. Peta ini mengkonfirmasikan bahwa perusahaan akan tetap bergantung kepada kayu dari hutan alam untuk memenuhi pasokan pabrik mereka setidaknya hingga 2015, tidak ada komitmen untuk menghentikan penanaman pada lahan gambut, tidak memasukkan penilaian independen kawasan konservasi tinggi, tak ada FPIC, dan tidak menyebutkan sama sekali tentang melindungi area yang menyimpan stok karbon tinggi 

Hingga empat bulan sejak pengumuman tersebut, APP tidak mengambil tindakan apapun dalam menghentikan pembukaan hutan hujan dan lahan gambut untuk kebutuhan pabrik kertas mereka. Inilah kenapa kami meluncurkan kampanye ini sekarang

Sejauh ini tanggapan APP hanyalah mencoba menghindar dari isu sebenarnya, tapi mereka mencoba meyakinkan para pemangku kepentingan, bahwa semuanya baik baik saja, karena menurut mereka perusahaan beroperasi secara legal. APP mengatakan bahwa mereka mengikuti aturan legal dari Pemerintah Indonesia, dan memiliki kewajiban untuk mematuhi dengan ketat peraturan tersebut.

Ironisnya, Siaran press APP ini dikeluarkan bertepatan dengan keluarnya pernyataan dari Satuan Tugas Presiden Indonesia untuk Pemberantasan Mafia Hukum . Satgas menyerukan pembukaan kembali penyelidikan polisi terhadap kasus penting terkait pembalakan liar yang melibatkan, ya pasti kamu telah tahu, beberapa anak perusahaan Sinar Mas yang terkait dengan APP.

Mungkin tidak mengejutkan, APP sengaja  mengabaikan masalah tersebut ketika merespon kampanye Greenpeace. Perusahaan juga  tidak membuat referensi untuk  penyelidikan  baru kami yang sekali lagi menunjukkan,  bahwa penyuplai mereka mengembangkan perkebunan di area lahan gambut dalam, seuatu praktik yang jelas-jelas telah melanggar hukum Indonesia.  Lihat studi kasus Kerumutan disini 

APP  jelas telah mengambil langkah public relation yang buruk, yang berasal dari agensi mereka Cohn and Wolfe. Hal ini malah membuat keadaan mereka saat ini menjadi lebih buruk, tidak lebih baik sama sekali. Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli keberlanjutan dalam surat terbuka kepada APP. “Strategi komunikasi Anda sangatlah buruk - sebuah studi kasus global tentang bagaimana mendapatkan semua yang salah pada waktu yang sama", Dia menyimpulkan “ kini waktunya Anda untuk mendengarkan semua teriakan di sekeliling Anda yang menuntut sebuah kemajuan. .   Dan kami sangat setuju sekali dengan itu.