Sebuah pesan singkat masuk ke selular saya, tengah hari, Sabtu, 6 April 2013 lalu. Pesan itu berbunyi “Saleum juang, dari nelayan Aceh untuk memperoleh keadilan dan menuju kesejahetraan, krue seumangat, selamat hari nelayan.” Sontak saya tergugah dari kesantaian akhir pekan. Pesan singkat itu datang dari Bung Marzuki, aktivis lingkungan dan gerakan kenelayanan yang tengah mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA).

Hari Nelayan Nasional kali ini tidak hanya dirayakan oleh sejumlah organisasi nelayan bersama berbagai organisasi sipil di berbagai tempat di seluruh Indonesia. Sebuah iklan layanan masyarakat yang berupaya membangkitkan semangat nelayan nusantara, dari  salah satu parpol peserta Pemilu 2014 turut disiarkan di sebuah TV Swasta.

Terlepas dari tujuan politik pencitraan menjelang Pemilu 2014 yang terbungkus rapih lewat iklan, dengan semangat pesan dari Bung Marzuki, saya berusaha melihat sisi lain yang lebih terang, melampaui sekat-sekat kepentingan politik praktis di negeri ini, untuk mencari ide kritis bersama sekaligus membangun landasan semangat bagi kerja-kerja Kampanye Kelautan Greenpace Indonesia.

Beberapa dekade terakhir hingga saat ini, kita masih pantas terus mengurut dada menyaksikan kenyataan yang menyedihkan bahwa tata-kelola kelautan di Indonesia masih jauh dari harapan kita. Kondisi objektif ini adalah sebuah tragedi karena realitas sosial menunjukkan bahwa masyarakat nelayan kita sebagian besar terperangkap dalam belenggu kemiskinan. Sebuah kondisi yang menjadi keseharian hidup mereka bersama dengan masyarakat miskin dan marginal lainnya di negeri ini.

Lantas pertanyaannya: “Apakah penting berbicara tentang idealisme ketika nilai-nilai kebijaksanaan dalam pengelolaan sumberdaya alam laut hanya tertulis indah dalam buku sejarah kejayaan bahari nusantara di masa silam dan sangat kontras dari konteks kekinian?”

Patutkah kita masih berharap kelak nelayan Indonesia kembali gagah berani mengarungi laut secara berdaulat dan berwibawa? Memiliki semangat kebersahajaan untuk pelestarian sumberdaya alam baharinya. Bangga menyatakan bahwa kami adalah nelayan teladan yang menjunjung semangat kearifan lokal nusantara!

Hal krusial lain adalah apakah  idealisme kenelayanan akan bermakna dan ampuh ketika dihadapkan pada sebuah sistem pemerintahan negara yang tidak berpihak pada nasib dan masa depan nelayannya sendiri?

Nelayan kita mutlak butuh idealisme dalam berfikir dan bertindak untuk dapat melawan dan meruntuhkan sistem kebijakan dan pemerintahan yang tidak berpihak keapda nelayan yang menyebabkan kemiskinan pesisir semakin meluas. Idealisme kenelayanan adalah harga diri setiap nelayan tidak boleh lekang, lepas apalagi terjual dan terkalahkan.

Oleh karena itu, idealisme kenelayanan pada konteks keadilan pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut  sepatutnya tidak hanya menjadi ruh gerakan reposisi masyarakat nelayan Indonesia dalam membangun dan mempertahankan kedaulatannya, tetapi juga seharusnya melahirkan  gagasan kritis yang dapat menangkal kebijakan pemerintah dan pemilik modal yang menghasilkan kerugian akibat kecenderungan bagi eksploitasi tak terbatas terhadap sumber daya kelautan dan  yang secara nyata lebih memprioritaskan kebijakan eksploitatif daripada upaya untuk memuliakan nelayan, memulihkan dan menjaga keseimbangan ekosistem untuk kesejahteraan generasi saat ini dan yang akan datang. 

Membangun kembali idealisme kenelayanan, sejatinya harus berangkat dari kesadaran kritis masyarakat nelayan terhadap pentingnya kelestarian lingkungan pesisir dan laut sebagai relung utama matapencahariannya. Terhadap siapa saja yang memiliki kepentingan atas sumberdaya laut. Terhadap sejauh mana hak dan kewajiban masyarakat nelayan diakui dan diakomodir dalam kebijakan yang dilahirkan. Termasuk terhadap dampak apa, baik secara positif dan negatif, yang akan diterima bila pengelolaan sumberdaya perikanan dilakukan tanpa prinsip-prinsip kehati-hatian, keseimbangan dan keberlanjutan. 

Selamat Hari Nelayan Nasional 2013. Terimakasih para nelayan Indonesia! Para pejuang ketahanan pangan bangsa, pejuang kedaulatan bahari nusantara!