Lahan gambut ekosistem unik yang rapuh

Sebagian besar dari kamu mungkinsudah pernah mendengar tentang gambut atau hutan gambut, namun apakah kamu sudah pernah melihatnya sendiri? Bila belum, cobalah mencari kesempatan untuk melihat dan mengamati atau bahkan merasakannyasecara langsung, sebab mungkin saja kita tidak punya terlalu banyak waktu sebelum ekosistem ini akan rusak total. Apa sebabnya?

Lahan atau hutan gambut adalah sebuah ekosistem yang sangat unik. Lahan gambut juga sangat rapuh dan rentan dengan perubahan. Sedikit saja perubahan terjadi atas keseimbangan alami antara air, tanah dan vegetasi di atasnya dapat menyebabkan kerusakan yang sulit sekalidipulihkan.  Dampak kerusakan gambut bukan saja terjadi dimana gambut itu berada, namun kerusakan itu dapat melepaskan gas-gas rumah kaca (GRK) yang selama ini terkunci di dalam kubah-kubah gambut tersebut yang akan dapat mempercepat perubahan iklim yang membahayakan planet kita ini.

Tanah-tanah gambut biasanya terbentuk di lahan-lahan berawa, dimana bagian-bagian tumbuhan yang luruh tidak membusuk atau terhambat pembusukannya, akibat kadar keasaman yang tinggi atau kondisi ketiadaan udara di perairan tersebut. Tidak mengherankan jika kita akan menemukan sebagian besar tanah gambut itu tersusun dari serpih dan kepingan sisa tumbuhan, daun, ranting, atau bahkan kayu-kayu besar, termasuk kadang-kadang bangkai binatang atau seranggga yang terawetkan atau belum sepenuhnya membusuk. Materi organik ini terakumulasi secara alamiah dalam proses ribuan tahun lamanya.

Gambut kunci bagi perjuangan melawan perubahan iklim

Biasanya sebuah kawasan disebut gambut apabila kandungan bahan organik dalam tanah melebihi 30 persen. Umumnya lahan-lahan gambut tropis di Indonesia  mempunyai kandungan organik yang tinggi melebihi hingga 65 persen dan kedalamannya dapat mencapai belasan atau puluhan meter yang menyerupai kantong atau kubah-kubah gambut di bawah tanah. Lahan-lahan gambut tropis, adalah salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia. Lahan gambut di Indonesia menyimpan hampir 60 miliar ton karbon, yang hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon.

Ketika ekosistem ini dibudidayakan, maka tak terelakkan ia akan melepaskan sejumlah besar karbon ke atmosfer. Ibarat sebuah balon raksasa yang meletus, karbon yang terlepas dari lahan gambut ini akan memenuhi atmosfir kita. Tahukah kamu, lahan gambut Indonesia mencakup kurang dari 0,1 persen dari total permukaan bumi namun melalui pengeringan dan kebakaran hutan dan lahan telah menjadi penyebab dari 4 persen emisi gas rumah kaca global tiap tahunnya?Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang emisi karbon terbesar dunia.Sementara itu kita juga adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim di dunia.

Kawasanhutan sangatluas, dan hampir 80 persen dari total emisi gas rumah kaca Indonesia berasal dari perubahan tata guna lahan. Separuh dari 80 persen tersebut berasal dari kebakaran atau kerusakan hutan-hutan rawa gambut tropis. Karena itulah lahan gambut Indonesia mempunyai arti yang penting bagi upaya melawan perubahan iklim secara global.

Lahan gambut di tepi kemusnahan

Salah satu penyimpanan utama karbon dunia kini semakin menyusut seiring dengan hancurnya lahan gambut di kawasan tropis di Indonesia akibat dialihfungsikan menjadi perkebunan monokultur untuk industri minyak sawit dan bubur kayu. Kanal-kanal yang dibangun ketika membuka lahan gambut akan membuat lahan gambut menjadi kering dan sangat rentan terhadap kebakaran hutan.Masalah kebakaran hutan hingga kini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan selama bertahun-tahun dalam upaya perlindungan lahan dan hutan gambut di Indonesia.

Indonesia adalah salah satu produsen utama untuk komoditi kayu, kertas dan industri kelapa sawit dunia sejak tahun 1970-an. Akibat ekspansi sektor bisnis kehutanan ini, deforestasi secara masif terus terjadi dan Indonesia kehilangan lebih dari setengah tutupan lahan gambutnya. Hanya sekitar 10 juta hektar lahan gambut yang tersisa di tahun 2010. Hanya di Papua yang masih tersisa lahan gambut yang kondisinya masih cukup baik.

Menjaga gambut tersisa

Gambut berusia sangat tua. Alam membentuknya dalam proses panjang selama ribuan tahun lamanya. Banyak lahan-lahan gambut itu bahkan lebih tua dari candi, kuil atau piramida yang kita kenal di dunia ini. Ada kutipan menarik dari Ed Begley Junior yang mengatakan bahwa “Saya tidak mengerti mengapa ketika kita merusak apa yang dibuat manusia kita menyebutnya sebagai vandalisme, tetapi ketika ketika merusak apa yang dibuat alam kita menyebutnya kemajuan”. Pernyataan yang sangat gamblang tentang bagaimanakita sering tidak menghargai apa yang telah diberikan alam kepada kita demi kepentingan jangka pendek..

Pembangunan tentu penting untuk kemajuan bangsa kita. Namun kita tentu tidak menginginkan pembangunan yang merusak. Kita menginginkan pembangunan yang berkelanjutan dan bertanggung-jawab. Pembangunan harus dilakukan secara berhati-hati, dan pembangunan harus selaras dengan alam bukan melawannya. Peran gambut yang demikian vital demi kelangsungan hidup kita atas bencana iklim yang mengerikan, maka gambut harus dilindungi dan dikelola secara sangat berhati-hati. Gambut harus dikelola dengan pendekatan holistik secara ekonomi, lingkungan dan budaya.Banyak budaya lokal berkembang dari pemahaman dan pengalaman mereka dalam hidup di kawasan gambut. Kita perlu belajar dari kearifan masyarakat lokal dan masyarakat adat dalam mengelola gambut.

Namun sayangnya gambut masih dikelola secara terkotak-kotak, bahkan banyak diantaranya dilakukan dengan tidak sinkron bahkan oleh pemerintah  sendiri. Perlu rencana kerja terpadu yang mengintegrasikan semua kegiatan dari departemen-departemen pemerintah yang berbeda agar efektif dalam menangani penyebab kerusakan gambut. Pengelolaan lahan dan hutan gambut bukan hanya tanggung jawab Departemen Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup, namun juga departmen-departemen lain yang mengurusi urusan sumberdaya alam, tata ruang, perubahan iklim, penegakan hukum dan juga pemerintah daerah. Sinkronisasi ini adalah kunci bagi pengelolaan dan perlindungan gambut yang lebih baik.

Perlindungan gambut juga tidak bisa setengah-setangah. Perlindungan gambut yang ada saat ini hanya mencoba melindungi kawasan gambut dalam dimana gambut dangkal dengankedalaman kurang dari satu meter praktis tidak terlindungi. Faktanya gambut adalah sebuah ekosistem yang utuh. Gambut dalam dan dangkal terhubung dan saling mempengaruhi dalam sebuah kesimbangan ekologis yang rumit. Adalah sia-sia melindungi gambut-gambut dalam tanpa melindungi gambut dangkal. Kubah-kubah gambut dalam pada akhirnya akan turut hancur jika lingkungan sekitarnya sudah terdegradasi dan seharusnya dilindungi sepenuhnya.

Sebagian gambut-gambut kita juga sudah masuk dalam konsesi perkebunan atau HTI. Untuk menyelamatkan kawasan tersebut, perlu sebuah tinjauan ulang dan merevisi konsesi-konsesi itu. Gambut dalam konsesi tersebut perlu dikeluarkan dari rencana kerja dan dimasukkan dalam kawasan perlindungan permanen. Pentingnya pendekatan yang koheren tidak bisa diragukan lagi. Gelombang kebakaran lahan gambut yang terjadi baru-baru ini di Sumatra dan Kalimantan adalah kasus yang menunjukkan apa yang akan terus terjadi jika pendekatan yang dilakukan masih sama seperti saat ini .Perlidungan kawasan gambut secara total adalah kunci bagi penyelesaian masalah kebakaran hutan dan menghentikan perubahan iklim. 

Lindungi hutan gambut. 100persenindonesia.org