Saya dibesarkan di Papua Barat, yang terletak di ujung barat kepulauan paling besar di dunia. Saya belajar kehutanan di ibukota propinsi Manokwari, namun besar di kota Jayapura. Jika Papua Barat adalah tanah  yang masih alamiah, maka Jayapura adalah daerah yang tak lagi asli, asri dan alamiah.

Papua Barat adalah tempat yang tersembunyi, hijau dan asli, rumah bagi sebuah gletser daerah tropis terakhir di dunia dan beberapa kekayaan keanekaragaman hayati planet ini juga terletak di sana.

Saya kembali ke Jayapura untuk sebuah alasan penting. Minggu ini, Kamis 9 Mei, kapal kami, Rainbow Warrior III tiba di sana untuk mengawali sebuah kunjungan bersejarah. Baru tiga tahun lalu, tepatnya di tahun 2010, Rainbow Warrior II dikawal kembali ke perairan internasional oleh armada Angkatan Laut. Bersyukur karena kesalahpahaman tidak terjadi lagi kali ini. Rainbow Warrior berada di Indonesia untuk merayakan keanekaragaman hayati warisan alam Indonesia yang kaya sekaligus rapuh.

Telah begitu lama hutan dan laut diekspolitasi. Lima puluh tahun lalu, 82% bagian negeri ini ditutupi hutan, tapi satu dekade belakangan, jumlah ini turun hingga 48% karena deforestasi yang merajalela untuk kertas, perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.

Laut Indonesia juga salah satu yang memiliki habitat laut yang beragam, tapi dari penelitian para ahli terumbu karang laut Indonesia telah diidentifikasi sebagai titik keanekaragaman hayati yang paling terancam di dunia akibat resiko penangkapan ikan berlebih, polusi serta perubahan iklim.

Ijinkan saya memaparkan kepada Anda mengapa hal ini menjadi penting, tak peduli apakah saat ini Anda berada di Jakarta, London atau Berlin.

Kehancuran hutan dunia adalah salah satu penyebab utama perubahan iklim, kedua setelah sektor energi. Indonesia kehilangan kurang lebih 1,1 juta hektar atau sekitar 1,2% kawasan hutannya per tahun.

Dan percaya atau tidak, menurut beberapa perkiraan, Indonesia adalah salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, setelah beberapa negara seperti Amerika Serikat dan China.

Dan dunia akan kehilangan lebih banyak lagi. Hanya sekitar 400 harimau Sumatra yang tersisa sekarang karena habitatnya perlahan-lahan punah. Dan Burung Cendrawasi yang merupakan simbol Papua tengah berada dalam ancaman saat penebangan kayu dan tanaman industri menghancurkan habitat mereka. Papua Barat yang terkenal sebagai surga burung  sekarang terancam saat  tanaman industri serta penebangan kayu membahayakan rumah mereka.

Alam kita yang terentang diantara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia penuh dengan kehidupan dan  keindahan yang tak tertandingi kini tengah berada dalam ancaman. Saya berharap perjalanan Rainbow Warrior dapat mendukung langkah-langkah politis yang diperlukan dan membuat inisiatif pemerintah  seperti moratorium hutan dapat diperkuat serta industri perikanan tidak akan membunuh laut kita. Saya berharap perjalanan ini juga membawa harapan bagi masyarakat adat di Papua, untuk menunjukan bahwa bersama kita dapat melindungi masa depan.

Ketika saya kembali sepuluh tahun lagi, Papua Barat mungkin tidak lagi menjadi tanah yang alami seperti sekarang. Tapi saya sungguh berharap pembangunan tidak berarti kehilangan segala keindahan alam yang dimiliki negara kita.

Saya berharap setidaknya kita belajar hidup berdampingan dalam harmoni dengan alam.