Pagi itu matahari terang menyinari kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kala lima penunggang motor Harimau pemberani bermotif loreng kuning dan tiga motor Enggang perkasa berwarna hitam, sedang bersiap memulai kilometer pertama perjalanan Tim Kepak Sayap Enggang Tur Mata Harimau di Kalimantan. Ini adalah kali pertamanya bagi beberapa orang aktivis Greenpeace yang sebagian besar berasal dari Jakarta, menapakkan kakinya di bumi Kalimantan. Mendengar kata Kalimantan, dalam pikiran kami, selalu terbayang sebuah pulau dengan hutan hujan tropisnya, satwa-satwa eksotiknya yang luar biasa indah,dan tentu kebudayaan masyarakat Dayak, suku asli Kalimantan yang memiliki pesonanya tersendiri dan termashyur dalam berbagai literatur dunia. Itu yang saya tergambar di benak saya hari ini.

Kini bersama teman teman dari WALHI Kalimantan Selatan, kami akan menelusuri pulau borneo nan cantik ini, untuk mencari jawaban langsung dengan mata kepala kami sendiri, apakah Bumi Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia.  

Tentu kamu masih ingat, bagaimana tahun 2011 lalu Tim Mata Harimau Greenpeace telah melakukan perjalanan panjang yang juga menelusuri hutan Sumatera untuk melihat langsung bagaimana hutan rumah Harimau Sumatera kondisinya saat ini. Namun bagi kamu yang belum mendengar kisahnya serunya, kamu bisa melihatnya disini. www.greenpeace.or.id/mataharimau

Berangkat dari kantor WALHI Kalimantan Selatan, iring-iringan Harimau Pemberani dan burung Enggang Perkasa, melaju dengan pasti melintasi kantor Walikota dan beberapa pertanda (landmark) kota Banjarbaru. Udara Kalimantan yang mulai memanas menjelang siang tidak menyurutkan sedikit pun semangat seluruh Tim.

Ada apa dengan Enggang?

Pada Tur Mata Harimau kali ini, kami mengusung  simbol Enggang, sebuah jenis burung yang di dunia ada 57 spesies, dan 14 diantaranya ada di Indonesia. Di Kalimantan sendiri ada satu spesies Enggang yang dijadikan maskot provinsi karena habitatnya hanya ada di pulau ini, yaitu Enggang Gading. Dalam masyarakat Dayak, burung yang hidup di pepohonan tinggi dengan ciri kepakan besar dan suara khas ini  menjadi inspirasi gerakan tari-tari tradisional, karena itu bagi masyarakat dayak, spesies ini sangat disakralkan, pantang, diburu, dibunuh, apalagi dimakan.

Namun pemandangan yang memilukan hati kami jumpai tak berapa lama setelah memulai perjalanan. Memasuki kabupaten Tanah Bumbu, hamparan lubang-lubang besar bekas galian tambang yang berubah menjadi danau beracun terihat dari tepi jalan. Danau ini mengandung kadar asam (ph) jauh di atas normal yang sangat berbahaya, sehingga tidak akan ada kehidupan didalamnya. Kepak Sayap Enggang yang pernah beterbangan menguasai angkasa pada dahulu kala ketika kawasan ini masih menjadi hutan, tidak lagi terdengar, dan sejauh mata kami melihat, hanya debu, pasir, hamparan lahan tandus sisa pertambangan batubara yang ditinggalkan begitu saja setelah isi tanahnya habis dikeruk.

Carut marut tata kelola perhutanan Indonesia juga kami lihat sepanjang jalan berikutnya dari tumpang tindihnya lahan konsesi perkebunan, pertambangan, dan hutan tanaman industri yang seakan-akan tidak membiarkan sejengkal hutan pun untuk hidup dan terus tumbuh.

Kita semua harus segera menghentikan praktik-praktik perusakan hutan yang tidak bertanggung jawab ini. Kita semua harus mencegah hutan Kalimantan menjadi hamparan gurun kering. Kita semua harus menjaga agar pepohonan tinggi hutan Kalimantan tetap berdiri agar burung Enggang selalu mempunyai rumah untuk ia pulang

Bantu kami selamatkan hutan Kalimantan sekarang juga dengan menjadi Mata Harimau, penjaga hutan Indonesia melalui www.greenpeace.or.id/mataharimau

Tunggu kisah perjalanan kami berikutnya.