Siang itu cukup terik. Matahari seperti menyala-nyala tepat diatas kepala. Rombongan pemuda dengan semangat menaiki bis kopaja sewaan, sambil bersenda gurau. Adon, salah satu aktivis Greenpeace, berkali-kali menyebut nama-nama orang yang hadir saat itu, agar tidak ada yang ketinggalan.

 

Diantara rombongan aktivis Greenpeace, terdapat juga beberapa warga kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet yang tergabung dalam kelompok pemuda Karang Taruna RW 01 dan  beberapa anggota Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Kebon Baru. Kelurahan Kebon baru terletak tidak jauh dari kantor kami. Kami semakin bersemangat ketika melihat rombongan pemuda yang ikut dalam jumlah yang cukup banyak.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke titik awal perjalanan susur sungai hari ini. Tepat di sebelah swalayan modern di daerah Cawang merupakan titik memulainya, dimana perahu karet, dayung, life jacket, sarung tangan serta helm telah ditata rapi. Pembagian kelompok, dan persiapan mengenakan safety tools menjadi pembuka kegiatan Ngabuburit Ciliwung yang diadakan atas kerjasama Greenpeace dengan warga RW 01 Kelurahan Kebon Baru, kecamatan Tebet.

Kegiatan ini berupa bersih-bersih sungai Ciliwung, para aktivis dan warga akan memunguti sampah yang terdapat di sepanjang sungai, kemudian dikumpulkan ke dalam karung, untuk kemudian diangkut menggunakan truk pengangkut sampah. Rute sepanjang ±7 KM siap diarungi untuk kegiatan bersih sungai hari ini, dimulai dari jembatan Cawang hingga Kampung Melayu.

Persiapan pemakaian safety tools dan menurunkan boat ke sungai menjadi pemandangan yang menarik perhatian warga sekitar. Beberapa dari mereka mengabadikannya dengan kamera handphone, sambil berkomentar “Hati-hati, Mas, Mbak,” ujar salah satu dari mereka ketika beberapa boat mulai berjalan diatas sungai.

Di garis finish, Kampung Melayu, telah menunggu puluhan warga yang juga membersihkan sampah sekitar sungai. Mereka telah bersiap-siap dengan cangkul, sarung tangan, dan sejumlah peralatan kebersihan lainnya. Tak hanya warga, beberapa aktivis Greenpace turut bahu membahu untuk memunguti sampah. Tepat pukul 16.20, lima perahu karet sampai di garis finish. Dengan keadaan kaki dan tangan yang penuh lumpur, senyum tetap mengembang di wajah mereka sambil menepikan perahu dan karung-karung sampah.

“Sepanjang menyusuri sungai tadi, isinya cuma sampah, dan kebanyakan plastik,” ujar Indah, salah satu volunteer Greenpace yang baru saja lulus SMU. “Enak sih, seru aja gitu ngisi waktu sebelum berbuka dengan kegiatan yang bermanfaat seperti ini, apalagi ini kan untuk lingkungan,” tambahnya.

Sementara orang-orang dibawah sungai sibuk membersihkan sampah, di aula Karang Taruna juga tak kalah sibuk. Beberapa ibu-ibu warga sekitar bergabung dengan aktivis Greenpeace wanita menyiapkan berbagai makanan dan minuman untuk hidangan berbuka puasa nanti.

Pak Ridwan Effendi, Sekretaris RW 01 Kebon Baru yang ditemui di sela-sela kegiatan mengatakan, “Saya sangat senang, organisasi seperti Greenpeace hari ini bekerjasama dengan kami untuk membersihkan sungai Ciliwung.” Kami yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung memang kerap mengalami banjir ketika musim hujan, apalagi sebelum dibangun tanggul, ketinggian air di rumah kami itu bisa mencapai 1,5 m,” ungkapnya. Namun, ia berharap agar kegiatan ini tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi rutin. Mengingat yang menghuni bantaran Ciliwung bukan hanya warga RW 01, namun juga RW 2, 3 dan 4, ia juga menyarankan agar kegiatan serupa bisa dilaksanakan bersama-sama warga tersebut.

Setelah semua karung sampah diangkut, perahu, dayung dan perlatan lainnya dirapihkan. Kami bersama warga bergegas menuju aula Karang Taruna untuk acara selanjutnya. Selain bersih-bersih sungai, kegiatan ini juga diisi dengan pemutaran film Greenpeace yang bertajuk ‘Citarum Nadiku, Mari Rebut Kembali’. Sebuah film yang berkisah tentang Sungai Citarum yang dahulunya menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar, namun saat ini sudah tercemar oleh limbah industri, hingga masyarakat juga menanggung akibat dari pencemaran tersebut. Timbulnya penyakit dan sumber air yang keruh menjadi permasalahan utama mereka yang hidup di bantaran Citarum.

“Tujuan kegiatan ini adalah sebagai langkah mengantisipasi datangnya banjir di musim penghujan, juga untuk beramah-tamah dengan warga sekitar Tebet khususnya Kebon Baru.”Berbagi dan berbuat sesuatu yang positif untuk kebaikan lingkungan bersama warga menjadi motivasi kami mengadakan kegiatan ini,” kata Ahmad Ashov, Jurukampanye Air Greenpeace.

Sayup-sayup suara adzan maghrib terdengar, tandanya waktu untuk berbuka puasa. Riuh rendah suara warga dan para aktivis Greenpeace bercerita seputar kegiatan tadi sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Semangat menjaga lingkungan itu sesugguhnya ada di tiap-tiap diri manusia. Pekerjaan menyelamatkan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab organisasi seperti Greenpeace, juga bukan sebuah pekerjaan yang terlampau sulit untuk dilakukan. Hanya niat mulia dan hati yang tulus yang dibutuhkan untuk melakukan jenis pekerjaan ini. Dan hari ini, kedua hal itu dibuktikan bersama warga RW 01 Kebon Baru.