Layar itu telah nampak dari kejauhan, ketika pagi itu kami aktivis Greenpeace bersama warga masyarakat Papua beserta pejabat daerah setempat berkumpul di Port Numbay, Jayapura untuk menyambut kedatangan sebuah kapal istimewa. Ia pernah ditembak, ditabrak, bahkan dibom dalam aksinya menghentikan perusakan lingkungan di planet ini. Kapal legenda dalam sejarah perjalanan kampanye dan aksi Greenpeace.

Dari pelabuhan, kami melihat tiang tinggi Rainbow Warrior yang membawa layar besar penggerak utama kapal ini bergerak perlahan di teluk Jayapura dan terus mendekat ke tempat ia bersandar. Sosoknya sungguh sangat cantik, tiang layar besar yang menjulang akan menarik pandangan mata semua orang untuk menatapnya bahkan jika disandingkan dengan berbagai bentuk kapal di pelabuhan.

Dua perahu kecil yang membawa para penari dari komunitas Kayu Pulau, mewakili kehangatan masyarakat Papua, menyambut kedatangan sang Ksatria Pelangi dengan tarian dan nyanyian pujian terhadap alam indah Papua, dalam pelayaran perdananya di Indonesia.

Papua, provinsi paling timur di Indonesia, memiliki kekayaan alam luar biasa, dengan anugerah keanekaragaman hayati yang membentang dari setiap sudut hutan hingga lautannya. Para ahli memperkirakan sekitar 16.000 jenis spesies tanaman hidup pulau ini, itu yang baru diketahui. Belum termasuk ribuan jenis serangga, reptil, ikan, hingga mamalia. Pegunungan Jaya Wijaya Papua ditutupi merupakan lapisan es yang merupakan satu-satunya yang ada di kawasan tropis.  Bagi siapapun yang pernah mengunjungi Papua pasti akan setuju bahwa pulau ini sangatlah indah.

Namun, keindahan ini perlahan lahan sedang terancam.

Tingkat kerusakan hutan Indonesia, termasuk di Papua, dalam beberapa dekade ini semakin mengkhawatirkan. Pembukaan hutan dan lahan untuk kepentingan industri sawit, tambang, dan bubur kertas adalah penyebab utama berkurangnya luasan tutupan hutan Indonesia. Tidak hanya pepohonan yang hilang, namun juga mengancam habitat dan kehidupan sejumlah spesies langka seperti Harimau Sumatera, Orangutan Gajah, Burung Kasuari, hingga Cendrawasih, dan juga merupakan rumah berbagai komunitas masyarakat adat yang menjadikan hutan sebagai rumah dan sumber kehidupan mereka.

Inilah yang menjadi perhatian utama Greenpeace dan juga misi utama dari perjalanan Rainbow Warrior kali ini ke Indonesia. Sebagai negara dengan ragam kekayaan laut dan hutan yang besar, adalah tantangan dan juga tanggung jawab bagi kita semua terutama pemerintah untuk memastikan perlindungan terhadap aset paling berharga yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di bumi ini.

Kedatangan kapal Rainbow Warrior yang namanya diambil dari sebuah ramalan Indian Cree kuno yang mengatakan bahwa akan tiba masanya dimana bumi kita akan mengalami kerusakan akibat keserakahan manusia,  dimana hutan ditebang, sungai tercemar, dan udara menjadi sesak untuk dihirup, namun akan muncul para penjaga bumi, orang-orang dari berbagai suku bangsa dan budaya yang akan berjuang untuk memulihkan bumi. Hal ini adalah pengingat dan insprasi bagi kita untuk  berjuang tanpa henti  menjaga kekayaan alam Indonesia sebelum semuanya hilang dan terlambat.

Di pelabuhan, keceriaan anak-anak kecil Papua yang menari gembira, menyambut kedatangan Rainbow Warrior dan seluruh krunya ke Bumi Cendrawasih. Saya tidak yakin kecerian ini akan terus ada jika hutan dan alam mereka telah rusak. Sebuah kecerian, tawa polos dan kebahagian yang tidak akan bisa dibeli oleh apapun.

Laut kita, hutan kita, adalah masa depan kita…