Telah 969 hari berlalu sejak skandal beracun GAP diekspos oleh Greenpeace dalam Laporan Dirty Laundry report. Dan selama kurun waktu yang panjang tersebut GAP telah berulang kali dilaporkan terlibat dalam skandal beracun di seluruh dunia termasuk di  China dan Mexico dan kolaborasinya bersama pemasok  dengan skandal pencemaran – PT.Gistex Textile – juga tercatat dalam laporan   Polluting Paradise,  kolaborasi yang berhasil membuang koktail beragam bahan kimia berbahaya ke sungai Citarum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disaat para pesaingnya, merek besar seperti Zara telah mendengarkan desakan publik global untuk membersihkan industrinya dengan aksi Detox yang dapat dipercaya, GAP justru terus menerus mencari cara-cara lain untuk menghindar. Meskipun perusahaan ini mengklaim akan membersihkan tindakannya, bersembunyi di balik kelompok industri  Zero Discharge of Hazardous Chemicals yang kurang efektif, tapi tetap saja ada kesenjangan antara perkataan dan aksi GAP. Sudah waktunya GAP bertanggung jawab penuh untuk kecanduannya pada toksik dan bergabung dengan merek-merek lain yang sudah lebih dulu berkomitmen seperti yang diharapkan oleh konsumennya.

Menyoroti kesenjangan kata-kata GAP

Selama 4 tahun terakhir, Kampanye Detox telah menunjukan bahwa industri dapat memimpin jalan menuju nol pembuangan bahan kimia berbahaya. Sayangnya,  meskipun telah disertai bukti-bukti bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam produknya, GAP menjadi salah satu merek global besar yang menolak untuk bertanggung jawab.

Tanggal 7 Maret minggu lalu, mereka secara resmi membuka toko pertama di Taiwan dan berpotensi membuat banyak konsumen Taiwan secara tidak sadar menjadi kaki tangan dalam lingkaran toksik, mencemari saluran-saluran air di Taiwan dengan bahan kimia berbahaya. Dan aktivis Greenpeace dari Taiwan dan Indonesia ingin menyampaikan pesan ini sejelas mungkin bahwa kita tidak menginginkan fesyen dengan toksik, yang kita inginkan adalah sungai-sungai yang bersih, di Taiwan dan di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Upaya sporadis Pemerintah Indonesia untuk mengendalikan pencemaran industri

Kolaborasi yang terekspos antara GAP dan pemasok di Indonesia yang melepaskan koktail beragam bahan kimia berbahaya tidak hanya menunjukan masalah pada GAP, tetapi juga menunjukan secara detail bagaimana industri mengambil keuntungan dari sistem yang tidak menuntut transparansi menyangkut aktifitasnya, termasuk pembuangan bahan kimia berbahaya, serta bukti dari regulasi yang gagal mencegah pembuangan bahan kimia berbahaya.

Baru-baru ini Pemerintah Indonesia mengekspos puluhan perusahaan yang tertangkap mencemari Sungai Citarum dan mereka mengklaim akan menjatuhkan sanksi tegas.  Penegakan hukum yang konsisten adalah salah satu persyaratan dasar untuk terwujudnya sungai bebas racun, tapi pendekatan pemerintah saat ini yang hanya bergantung pada pendekatan kontrol pencemaran memiliki beberapa kelemahan.  Perlu adanya perubahan cara berpikir dari ketergantungan pada pendekatan reaktif menuju tindakan preventif, yang menghilangkan penggunaan bahan kimia berbahaya langsung di sumbernya, melalui produksi bersih dan secara progresif mengganti bahan kimia berbahaya tersebut dengan alternatif yang lebih aman.

Dan sambil menunggu pemerintah mulai beralih menuju pendekatan yang lebih baik, merek-merek besar seperti GAP harus bertanggung jawab dan beraksi untuk membuka jalan menuju nol pembuangan bahan kimia berbahaya serta pastinya mulai mendetox masa depan kita!