Beberapa konsumen APP telah melakukan langkah nyata

Sudah lebih dari 24 jam sejak laporan penting kami yang meluncurkan hasil investigasi kami ke APP (Asia Pulp & Paper) tentang skandal besar pemakaian kayu ilegal. Mungkin anda sudah mengetahui Greenpeace yang terkenal karena tindakan langsung kami, penyelidikan yang kami lakukan yang menyediakan dasar untuk mengekspos kejahatan lingkungan. Saya dan teman-teman kampanye hutan di Indonesia juga melakukan hal yang sama  kepada  APP yang begitu bersikeras bahwa mereka memiliki 'toleransi nol untuk kayu ilegal' kami tahu kami harus pergi ke inti permasalahan ini dan mengungkap kenyataan yang terjadi di lapangan atas nasib hutan kita.

Bagi kalian yang tidak mengikuti perkembangan kampanye hutan kami belakangan ini, maka saya akan meringkasnya untuk anda. Hutan rawa gambut di Sumatera, rumah bagi harimau Sumatera dan satwa indah lainnya, telah dihancur dan tingkat keancurannya sudah sangat memilukan dan penghancuran tersebut diantaranya banyak dilakukan oleh perusahan dengan izin pembukaan yang dibawah kendali APP. Di dalam hutan rawa gambut tersebut  juga tumbuh pohon ramin, spesies pohon yang dilindungi menurut hukum Indonesia dan terdaftar di CITES. Bukti yang kami kumpulkan di pabrik terbesar APP menunjukkan bahwa tempat penampungan kayu APP yang penuh dengan kayu ramin ilegal. Sampel telah kami kumpulkan dan dikirim ke ahli independen yang memverifikasi bahwa kayu itu adalah ramin kayu yang dilindungi.

Penyelidikan secara keseluruhan telah terekam dalam video kami dan anda dapat melihatnya di link ini dengan cara yang benar-benar transparan, sehingga APP, pelanggan, dan yang lebih penting pemerintah Indonesia tidak bisa mengabaikan fakta yang telah kami kumpulkan.

Jadi bagaimana APP menanggapinya? Mereka mengeluarkan sebuah pernyataan larut malam bahwa mereka mengirimkan tim ahli mereka sendiri ke pabrik. Tapi bagaimana mungkin hasil tim yang di kirim oleh APP sendiri dapat kita percaya pada saat ini? Sebelumnya pada hari itu juga perusahaan telah mengklaim mereka  menugaskan sebuah laporan independen yang tidak menemukan spesies yang dilindungi. Laporan ini "bukan publik" dan "tidak ada rencana untuk mempublikasikan nama auditor". Dan kemudian, ada kejutan, APP juga dikembalikan kembali ke 'toleransi nol' untuk mantra ilegalitas mereka.

Kenyataannya disini adalah bahwa kami sudah melaporkan kepada pihak kepolisian dan rekaman video serta bukti lain dari penyelidikan kepada kepolisian Indonesia. Setelah Deputi Direktur Pidana Khusus  menerima bukti dan mengatakan kepada saya bahwa hal ini memang akan dikategorikan sebagai kegiatan penebangan liar dan bahwa kepolisian akan berkoordinasi dengan Departemen Kehutanan untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut.

Ini sangat penting sekali untuk segera di tindak. Greenpeace menyerukan kepada kepolisian dan Departemen Kehutanan untuk segera mengamankan semua ramin yang berada dalam pabrik APP.

Sementara hasil dari semua penyelidikan kami adalah mendapatkan dampak yg luar biasa di luar Indonesia dan beberapa perusahaan yang mengambil tindakan untuk menjauhkan diri dari APP.

National Geographic telah memberitahu kami bahwa mereka tidak akan menggunakan kertas APP. Kami telah membahas dengan mereka tentang hasil penelitian kami, termasuk bukti yang mengaitkan mereka menggunakan serat Kayu APP dan Campuran Tropis di masa lalu. Kami memiliki waktu untuk menghentikannya secara bersama-sama, dan telah menawarkan untuk bisa terus bekerjasama untuk memperkuat kebijakan pengadaan serat mereka, tetapi kami yakin bahwa komitmen mereka untuk tidak mengunakan smber dari APP adalah tindakan nyata.

Danone, telah mengeluarkan pernyataan yang menyatakan mereka tidak lagi menggunakan kertas APP untuk merek Nutricia di Indonesia. Semua pernyataan baik dan bagus, tapi bagaimana dengan semua sisa merek mereka?  Sejauh ini mereka tidak menyebutkan, jadi untuk sekarang kita harus terus menekan mereka.

Mungkin yang paling membingungkan untuk APP akan menjadi berita di media bahwa bayak perusahaan yang akan terus membuat suara-suara tentang menghentikan pembelian dari mereka, seperti Collins Debden Australia, menyatakan bahwa perusahaan telah berhenti mengambil produk kertas dari Indonesia pabrik.

Tapi ada perusahaan lain masih banyak menggunakan kertas APP seperti - Xerox, Barnes dan Noble, Collins Debden Inggris, Acer, Paragon Publishing, Countdown, Danone, dan Constable & Robinson yang belum mengambil langkah-langkah  untuk melindungi hutan Indonesia dan berhenti menggunakan kertas APP yg saat ini masih menggunakan kertas illegal.

Kami tentu membutuhkan suara anda untuk terus menekan beberapa perusahaan-perusahaan yang terlibat menggunakan kayu illegal menjauhkan diri dari skandal APP dan ikut menyelamatkan hutan Indonesia.

dan bantu kami mendorong pemerintah Indonesia segera bertindak untuk melindungi hutan Indonesia