"Citarum ini adalah tempat peradaban, pusat peradaban”, -Pelangi Di Citarum (2012)

 

Ini cerita pilu sungai terbesar di Jawa Barat yang sejatinya merupakan sebuah pusat peradaban, sekaligus identitas masyarakat. Cerita mengenai kisah pilu ini bisa di saksikan secara jelas dalam  film dokumenter Pelangi Di Citarum (2012) yang disutradarai oleh Yuslam Fikri Anshari dan didukung oleh Greenpeace. Kata pelangi, selain dimaksudkan untuk mengambarkan beragam cerita masyarakat, juga secara harfiah mengambarkan sungai Citarum yang berwarna-warni akibat pencemaran limbah beracun berbahaya (B3) industri.

Citarum, Si Cantik yang Kian Merana

Citarum, sungai yang mengalir sejak dari Gunung Wayang ini sejatinya cantik. Tata kelola yang ala kadarnya, ditambah perilaku sembrono manusia menjadikanya buruk rupa. Bagi warga yang tinggal di sekitar, Sungai Citarum adalah bagian dari kehidupan yang sangat dekat, tak terpisahkan. Kang Tisna Sanjaya, seorang seniman dan budayawan yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan Citarum, ingat betul “Waktu saya kecil, Citarum adalah tempat berenang dan wudhu”, kesaksian. “Dulu masih ada ikan asli Citarum seperti ikan berod, ikan betrik, dan ikan beureum mata. Sekarang sudah jarang, hampir tidak ada. 75% ikan hampir musnah di Citarum”.

Sekarang?, tak ada yang abadi memang, semuanya sudah berubah. Sungai Citarum bukan lagi seperti yang sejak dulu dikenal. Sekarang, Sungai Citarum dikenal dengan reputasinya sebagai salah satu sungai terkotor di dunia. Sungai Citarum terlihat seperti sebuah selokan raksasa. Sungai ini sudah tercemar oleh limbah industri beraneka warna, bau yang tak sedap dan penuh sampah.

Butuh Aturan Kuat, Tidak Cukup Hanya Semangat

Investigasi lapangan yang dilakukan pada akhir tahun (Desember) 2015 oleh aktivis Greenpeace Indonesia di Sungai Citarum menemukan bahwa pembuangan limbah B3 industri masih berlangsung secara masif. Hal ini dapat menjadi potret lemahnya pengawasan dan penegakan hukum dan juga lemahnya peraturan perundang-undangan Indonesia terkait  manajemen B3. Dengan demikian, tidak hanya Sungai Citarum yang terancam terus tercemari oleh B3 industri, tapi juga sungai-sungai lain di Indonesia.

Investigasi yang dilakukan Greenpeace sejak tahun 2011 di sungai Citarum terhadap industri tekstil menemukan bahwa tidak hanya industri kedapatan melanggar baku mutu dalam membuang limbahnya, namun juga bahwa industri ditemukan membuang berbagai bahan kimia berbahaya beracun seperti logam berat kromium heksavalen (Cr6+), timbal, kadmium dan merkuri dan juga bahan kimia organik seperti Alkyphenol dan Phthalates [1] [2]. Dalam baku mutu limbah tekstil misalnya, banyak jenis logam berat (kecuali kromium) dan bahan kimia yang berpotensi berbahaya beracun (kecuali phenols yang merupakan kategori umum) tidak diatur [3].

Kita Butuh Resolusi: Nol Pembuangan B3

Hal tersebut menggambarkan bahwa peraturan di Indonesia yang ada saat ini gagal dalam menyediakan perlindungan terhadap pencemaran yang sudah meluas. Standard-standard yang ada tidak cukup komprehensif atau ketat, dengan pengawasan dan penegakan hukum yang lemah.

Untuk mencegah pencemaran B3 terus terjadi, dibutuhkan resolusi kebijakan yang bisa membawa Indonesia menuju Nol Pembuangan B3 melalui evaluasi, eliminasi (penghapusan penggunaan) dan substitusi bahan berbahaya beracun secara kontinyu, berdasarkan prinsip kehati-hatian dan pendekatan pencegahan. Langkah tersebut juga harus dilengkapi dengan penegakan hukum yang tegas dan berefek jera [4] dan meningkatkan tekanan pengawasan publik dengan mewujudkan transparansi data-data pembuangan B3 industri.

Kuatnya Hukum Harapan Untuk Citarum

Industri tekstil saat ini menjadi salah satu kontributor utama polusi air oleh bahan berbahaya beracun industri di Jawa Barat, dan masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai ini, yang bergantung pada air sungai menjadi korbannya. Jika kita menengok kasus pencemaran limbah di sungai Cikijing misalnya, masyarakat menangung beban paling berat: petani kehilangan sawah produktifnya, keluarga kehilangan sumber air bersihnya, dan anak-anak terancam kesehatannya.

Praktek sembrono pencemaran limbah B3 industri ini harus dihentikan, agar tidak lagi ada masyarakat yang menjadi korban. Tidak akan semudah membalikkan telapak tangan memang, dan semua harus dimulai dengan langkah pertama. Kita punya kesempatan untuk mengambil langkah pertama tersebut, bersama-sama, untuk memastikan para pencemar bertanggungjawab terhadap tindak tak terpujinya itu.

Memastikan bahwa para pencemar Sungai Cikijing, yang telah membawa kerugian yang begitu besar terhadap lingkungan, kehidupan dan penghidupan masyarakat di Rancaekek, bertanggungjawab penuh terhadap kontaminasi bahan berbahaya beracun yang telah dibuangnya. Dimulai dari Rancaekek, mari #MelawanLimbah www.melawanlimbah.org, mari kita beritahu para pencemar, dimanapun mereka berada, bahwa kita tidak akan tinggal diam, bahwa kita sudah bosan dengan perilaku kuno dan ceroboh mereka, dan bahwa kita terus melawan.

[1] http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/Bahan-Beracun-Lepas-Kendali/
[2] http:// www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/Toxic-Threads-Meracuni-Surga/
[3] Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No: Kep-51/MENLH/10/1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri.
[4] http://gugatan.melawanlimbah.org/