“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.”

― Haruki Murakami, Kafka on the Shore 

 

Citarum bukan wajah baru bagi saya, ia adalah sahabat lama, ada banyak potongan kenangan saya bersamanya. Saya masih dengan sangat jelas mengingat, ketika menghabiskan hari, merendamkan diri, menikmati nyamannya berenang di air Citarum yang bersih.

Potongan kenangan itu seketika luruh, melihat kenyataan Citarum hari ini. Citarum yang lusuh berpeluh limbah.

Potret pencemaran Citarum bisa di lihat pada kasus Cikijing, sejak tahun 1992 telah terjadi pencemaran. Itu sudah 23 tahun yang lalu. Sejauh ini ada 3 pabrik tekstil yang berada di aliran Cikijing: Kahatex, Insan Sandang dan Five Star, ada juga yang lainnya. Tapi jika diperhatikan yang  paling banyak mencemari Sungai Cikijing adalah ketiga perusahaan ini.

Dari tahun 1992 sampai sekarang, meskipun ada upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan juga kabupaten tapi tidak menyelesaikan masalah pencemaran itu sendiri, karena memang ijin pembuangan limbah itu dilegalkan lewat surat keputusan Bupati asal dibawah baku mutu.

Agak aneh memang, terdengar seperti izin untuk mencemari sungai tapi memang begitulah kenyataanya. Selama baku mutunya dibawah standar baku mutu yang ditetapkan pemerintah maka tidak masalah. Ini yang disebut dengan  IPLC (Izin Pembuangan Limbah Cair) yang kemudian IPLC itu disalahgunakan oleh perusahaan, kadangkala yang dibuang itu bukan hasil dari IPAL yang sudahdiolah tapi limbah dibuang langsung, karena lemahnya pengawasan.

Maka salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani pencemaran adalah dengan mencabut Izin membuang limbah, dan diperbaiki.

Pabrik Besar yang Rajin Melanggar  

IPLC merupakan syarat legal bagi perusahaan untuk membuang limbah tapi harus dibawah baku mutu. Dia bisa membuang limbah asal dibawah baku mutu. Izin ini dikeluarkan oleh Bupati di wilayah berdirinya usaha dalam hal ini Kabupaten Sumedang.

Kasus pencemaran di Cikijing ini unik, karena pabriknya berada di Sumedang tetapi yang merasakan limbahnya orang Bandung. Kunci dari persoalan ini adalah Bupati, karena standard baku mutu tiap daerah bisa beda, dengan berpatokan pada PP.

Ini terbukti, hasil investigasi  menunjukkan buangan limbah berada di atas standard baku mutu, artinya ada pelanggaran terhadap izin yang diberikan.

Dengan menimbang pelangaran terus menerus dan intensitas pencemaran yang tinggi sudah sewajarnya IPLC ketiga perusahaan ini di cabut. Harusnya upaya ini dilakukan oleh pemerintah sendiri, tidak perlu ada tuntutan hukum. Seharusnya seperti itu.

Menggugat Itu Bukan Soal Adu Kuat

Ketika kami, memutuskan untuk melakukan gugatan, yang dicari bukan soal kalah dan menang. Apa yang saya dan teman-teman lakukan adalah untuk menunjukkan apa yang seharusnya. Hal seperti ini seharusnya yang menggugat itu pemerintah, sebagai pihak yang dirugikan, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bima yang menggugat pembuangan tailing PT.Newmont.

Objek sengketa dalam gugatan ini adalah 3 Izin Pembuangan Limbah Cair kepada Kahatex, Five Star dan Insan Sandang, dan yang kita gugat tentu yang mengeluarkan izinya, Bupati.

 

Untuk memulai proses ini, kita harus yakin, ini bukan adu kuat, tapi keyakinan bahwa yang kita lakukan tepat. Tanpa keyakinan tidak akan ada jalan, jadi kita harus yakin dengan apa yang kita lakukan ini. Gugatan ini juga bukan soal menang kalah, persoalan putusannya seperti apa kan itu ada proses perjuangan, berusaha melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Saya berharap, dengan apa yang kita awali sekarang, ke depan, warga yang tercemar akan melakukan hal yang sama, mengugat para pelaku pencemaran agar dihukum.

Sebenarnya apa yang kita minta sangat sederhana: yang salah dihukum dan yang rusak dipulihkan. Ini bukan soal pencabutan ijin tapi kita menggugat perusahaan untuk memulihkan lingkungan, hanya jalan menuju kesana  harus ada perbaikan izin.

Kemana kita setelah itu?

Pencemaran di Citarum sangat mencemaskan, sudah pada tahap yang tak terbayang, sangat brutal. Tentu pekerjaan rumah masih sangat banyak, agar kita bersama-sama, dengan segala upaya, mengembalikan Citarum seperti sedia kala, mulai dari Cikijing, memang butuh waktu panjang tapi tapi saya yakin akan menjadi jalan panjang yang menyenangkan. Siapa tahu nanti, saya bisa melihat kijing (semacam kerang) berenang bebas kembali.

Terdengar cukup menyenangkan, bukan? akan lebih menyenangkan lagi jika kamu bersedia bergabung #MelawanLimbah, kunjungi www.melawanlimbah.org dan seperti pepatah bijak berkata, suara satu orang  bisa membuat perbedaan suara kita bersama mampu mengerakkan perubahan.

 

Dadan Ramdan
Penulis adalah Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Barat.