Cuaca ekstrim akan lebih sering terjadi di dunia yang suhunya sedang menghangat.

Siapapun yang membaca berita tentang keadaaan cuaca ekstrim yang terjadi baru-baru ini di beberapa belahan dunia akan bingung dengan banyaknya pernyataan  apakah peristiwa ini terkait dengan perubahan iklim.  Perdebatan tentang perubahan iklim menjadi semakin sering diperdebatkan setiap tahunnya, tetapi sebenarnya ada bahaya yang terus mengitari tanpa kita sadari, yaitu bahaya dimana kita hanya merenungi pertanyaan jangka pendek yang sama pada setiap kejadian,  tanpa memberi perhatian pada tanda bahaya dan peringatan akhir.

Bencana banjir di Australia, khususnya telah menginspirasikan barisan pewarta media termasuk klaim tentang kaitan antara La Nina dan perubahan iklim. La Nina adalah nama yang diberikan untuk pendinginan laut secara luas yang terjadi di  Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Di Australia (khususnya di Australia bagian timur)  La Nina bahkan diasosiasikan dengan suatu kondisi yang basah dan lembab. Dan para ilmuwan telah memutuskan, bahwa banjir yang terjadi di Queensland tahun ini adalah efek dari La Nina, yang kali ini merupakan yang terbesar sejak 1974.

Apa yang tidak kami yakini sepenuhnya  adalah, kekuatan dari segala hubungan dan intensitas kejadian La Niña  dengan perubahan iklim. Demikian halnya dengan kaitan dan  hubungan langsung antara setiap peristiwa cuaca ekstrim yang saat ini juga belum ditemukan. Tapi, ini bukan berarti  kita  harus  menunggu  untuk  membuat  keputusan tentang  tindakan yang harus diambil  sampai kita  bisa  mengidentifikasi dan  mengkarakterisasi sepenuhnya  hubungan tersebut.  Penyebab langsung  dan  akibat dari cuaca ekstrim akan  tetap sulit bagi kita untuk  dimasukkan dalam satu kasus, tetapi pola keseluruhan dari peristiwa cuaca ekstrim yang kita saksikan dari tahun ke tahun benar-benar  konsisten sepenuhnya  dengan  prediksi yang diterima secara luas mengenai  dampak  perubahan iklim. Jika kita menunggu lebih banyak  bukti  kaitan cuaca ektrem  dengan perubahan iklim, maka kita tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kita melewati titik dimana kita tidak bisa kembali lagi – itu kenyataan saat ini, kita belum melewati titik tersebut .

Yang terbaik saat ini adalah berasumsi bahwa, perubahan iklim telah ada bersama kita disini dan sekarang,  dampaknya  hanya akan  lebih  parah, lebih mahal dan lebih merusak bagi masyarakat. Dan yang paling masuk akal saat ini adalah bertindak dengan cara-cara yang memiliki peluang untuk mengurangi frekuensi kejadian bencana seperti itu, meskipun kita belum mengetahuinya dengan pasti.


30 Oktober 2006
Biksu budha di thailand berjalan menerjang banjir karena naiknya sungai Chao Pharaya River saat mereka mengumpulkan makanan di pulau Koh Red. Pada awal tahun ini para ilmuwan memperingatkan bahwa thailand akan mengalami cuaca ekstrim karena dampak perubahan iklim.

Di tahun 2002, kami membuat sebuah tulisan tentang cuaca ekstrim termasuk banjir di Eropa Timur, awan asap raksasa di Asia, banjir dan kekeringan di India dan Cina, gelombang hawa panas di Canada, Amerika Serikat, dan Australia. Dalam tulisan itu kami juga memasukkan pernyataan dari Pier Velinga, seorang ahli cuaca atau yang disebut climatologist dari Amsterdam University :

“Cuaca yang menghangat menyulut bencana alam. Hanya beberapa tempat  di dunia yang akan terhindar dari gangguan  iklim. Kita dapat mengatakan dengan keyakinan  memadai  bahwa perubahan iklim yang disebabkan  manusia  sekarang ini mempengaruhi frekuensi dan intensitas cuaca ekstrim”.

Pada tahun 2003, kami mengatakan "ketika tidak ada satupun peristiwa cuaca yang langsung dihubungkan dengan perubahan iklim, iklim yang hangat berarti lebih banyak badai,banjir  dan kekeringan".

Gelombang panas dan kekeringan di Eropa yang terjadi di tahun itu seperti prediksi yang dibuat oleh para ilmuwan beberapa tahun sebelumnya:

"Perubahan iklim akan membawa cuaca yang hangat, dan basah, yang akan mendorong tanaman untuk tumbuh, diikuti oleh periode panjang kekeringan, di mana mereka akan terbakar," - , Max Planck Institute for Chemistry , Agustus 2001.

Di Tahun 2004, kami menulis tentang peristiwa cuaca ekstrim yang menjadi lebih umum terjadi terkait dengan perubahan iklim. Dan di 2007, kami mendokumentasikan model komputer yang memprediksikan pergeseran cuaca ekstrim – lebih banyak hujan lebat di beberapa tempat,   dan kekeringan yang melumpuhkan di tempat lainnya. Dan bahkan telah ada penelitian ilmiah, yang diterbitkan di The Journal Nature, yang membandingkan curah hujan yang tercatat dengan prediksi curah hujan di bawah skenario perubahan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa pola-pola cuaca memang  sudah berubah.

Dan menurut saya saat ini kita berhadapan dengan batas waktu yang akan mulai habis. Kita dapat terus memperdebatkan isu ini tanpa ada akhir. Tapi tiap kali peristiwa cuaca ekstrim, apapun besaran  kaitannya dengan perubahan iklim,  hanya akan semakin menunjukkan konsekuensi dari fenomena cuaca ekstrim tersebut yaitu kehancuran struktural dan penderitaan manusia.

Hal itu juga menerangkan tentang kemampuan kita, manusia, yang terbatas,  kendati sudah ada teknologi mutakhir untuk memprediksikan, memitigasi, dan pemulihan dari cuaca ekstrim.

Mereka adalah pengingat paling menyakitkan dari kebutuhan paling mendesak yaitu untuk segera memangkas emisi gas rumah kaca di Bumi ini, dan  melakukan Revolusi Energi adalah cara yang bisa memotong emisi gas rumah kaca tersebut.

Jadi, cukup sudah! Kini waktunya untuk beraksi

Dr. Paul Johnston adalah ilmuwan utama di Laboratorium Riset Greenpeace  di University of Exter dan Kepala Unit  Sains Greenpeace Internasional 

 

foto © Greenpeace / Vinai Dithajohn