Baru saja Asia Pulp and Paper (APP) mengambil sebuah langkah reformasi lainnya. Namun kompetitor mereka, APRIL masih terus melakukan pengrusakan hutan hujan.

Kabar baik dari APP.

Kampanye berbasis kekuatan massa telah mendorong APP, yang pernah menjadi pemicu deforestasi di Indonesia untuk menghentikan praktek pengrusakan hutan yang mereka lakukan.  Inilah mengapa kami mengawasi implementasi kebijakan APP selama setahun belakangan belakangan ini. Itulah mengapa kami menyambut baik pengumuman APP yang telah menyewa RA (Rainforest Alliance) untuk mengevaluasi implementasi Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy).  Mengikuti kemajuan APP selama satu tahun, kami cukup puas melihat APP terus meningkatkan ambisi serta keterbukaan mereka pada pengawasan independen.  Hal ini penting bagi banyak orang dan perusahaan di seluruh dunia yang mendesak APP untuk menghentikan perannya dalam pengrusakan hutan di saat yang bersamaan juga memberikan para pelanggannya kepastian kalau APP sungguh-sungguh telah berubah.

Dalam laporan perkembangan kami bulan November 2013, kami menerima dengan baik ketika APP secara prinsip telah menyetujui dilakukan evaluasi untuk upaya yang telah mereka lakukan oleh NGO global independen.  Berita yang beredar tentang Rainforest Alliance yang akan menjalankan peran ini adalah kabar baik bagi semua pihak yang ingin melihat bagaimana perusahaan-perusahaan menindak lanjuti komitmen mereka untuk melindungi hutan. Hal ini membuktikan bahwa APP serius membuka pintu bagi para pengamat independen untuk memberikan laporan tentang kemajuan mereka, serta tantangan dalam pengimplementasian kebijakannya.

Beberapa kabar yang kurang baik.

Sayangnya, kemajuan APP berbanding kontras dengan pengumuman APRIL, pesaing utama APP.  Hari Selasa 28 Januari minggu lalu,  APRIL mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai ‘Sustainable Forest Management Policy’ – hanya beberapa minggu setelah menerima peringatan akan dikeluarkan dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD).

Bagi kami, hal ini seperti sebuah tindakan putus asa untuk memberikan kesan  ‘berkelanjutan’ dalam operasi mereka yang sebenarnya sangat destruktif. Kebijakan ini berisi banyak celah dan secara esensial memberikan ijin untuk meneruskan pembabatan hutan.  Kelemahan yang paling terlihat adalah kebijakan yang disusun akan memberikan kesempatan pada para pemasok untuk terus menghancurkan hutan hujan dan lahan gambut selama hampir setahun serta memberikan kesempatan enam tahun lagi sampai mereka benar-benar berhenti menggunakan serat hutan hujan di pabrik-pabriknya.

Kebijakan ini tidak cukup baik untuk melindungi hutan Indonesia yang terus menyusut. Kami bekerja keras untuk mendorong APP untuk berhenti menghancurkan hutan dan lahan gambut, dan kami tidak ingin melihat perusahaan lain seperti APRIL bergerak menuju parameter terendah. Jika APRIL sungguh serius ingin menghilangkan pengrusakan hujan dari rantai pasokan mereka maka mereka akan mengambil contoh dari pemain progresif di industri kehutanan yang dengan segera melakukan moratorium pada semua aktifitas pembukaan hutan dan lahan gambut, seperti APP.

APRIL dan seluruh perusahaan dibawah Royal Golden Eagle Group (RGE), sebagai perusahaan induknya, harus mengikuti kompetitornya APP dan menjadi pemimpin bagi perlindungan hutan. Hingga hal itu tercapai, Greenpeace akan terus mengekspos  kecerdikan PR mereka yang terkesan putus asa; setengah-setengah dan gagal untuk segera melindungi hutan Indonesia. Konsumen harus terus memberikan tantangan pada APRIL atau akhirnya mengambil resiko dengan membiarkan mereka tetap melibatkan pengrusakan hutan dalam rantai pasokannya.