Malam di pertengahan Desember lalu, kami duduk mengelilingi sebuah meja kecil tepat di tepi pantai Desa Kahuku, Pulau Bangka, Sulawesi Utara. Tiga tetua warga lokal duduk tersenyum dan tertawa senang. Sementara saya mendapat hukuman berdiri karena kalah. Permainan gaplek malam itu sangat seru. Maklum satu orang pendatang melawan tiga opa warga setempat yang sangat lihai memainkan kartu dengan aturan lokal yang sedikit berbeda dari yang saya ketahui. Alhasil, saya sebagai pendatang selalu kalah maka berdirilah hukumannya sepanjang beberapa putaran.

Namun setelah membaca strategi permainan masing-masing lawan, ditambah capek berdiri, saya mulai menjalankan taktik baru. Dan roda pedati pun berputar. Kartu saya habis dan kembali duduk sementara tiga opa gantian berdiri. Kami pun sorak sorai menikmati sengitnya permainan kartu malam itu. Sementara kelompok pemuda lainnya yang menonton kami asik memainkan gitar diiringi semilir angin laut malam.

Tiba-tiba handphone opa Potros (46) berdering menghentikan permainan. Terjadi obrolan pendek yang tidak ramah. “Saya tidak kenal dengan kamu. Kamu mau cerita apa,” ujar Potros kesal. “Sudah tutup saja telpon itu,” sela opa William yang memintanya menyudahi pembicaraan dengan si penelpon yang tidak dikenalnya. Beberapa putaran permainan gaplek berikutnya pun didominasi obrolan tentang seringnya warga ditelpon orang tak dikenal akhir-akhir ini.

Ketentraman Desa Kahuku, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara sejak beberapa bulan terakhir ini memang terusik. Keamanan dan kedamaian kini diganti dengan kewaspadaan dan kekuatiran. Ketika malam telah beranjak semakin pekat dan jadwal aliran listrik desa padam, maka itu berarti sejumlah pemuda harus  mulai berjaga-jaga. Apa saja bisa terjadi di gelapnya jalan desa. Pada Kamis malam akhir November lalu, dua warga desa diciduk oleh anggota Brimob lalu disiksa berjam-jam. Satu di antaranya mengalami patah gigi.

“Brimob itu kerja untuk perusahaan. Jadi mereka kadang menginap di desa ini. Kami yang menolak sering ditakut-takutinya. Terakhir ya itu, dua warga kami diciduk malam-malam dan disiksa,” ujar Opa William.

Ya, kehidupan sekitar 160 kepala keluarga Desa Kahuku yang tak lagi damai itu terusik ketika PT Mikgro Metal Perdana (MMP), sebuah perusahaan pertambangan milik investasi asing China memperoleh izin eksplorasi tambang bijih besi di Pulau tersebut. Takut akan dampak negatif dari pertambangan, dan ancaman kehancuran daratan dan lautan akibat limbah dan operasi buruk tambang, lebih dari setengah jumlah warga di empat desa di Pulau Bangka menolak kehadiran perusahaan tersebut.

Penyiksaan dan intimidasi yang dilakukan oknum perusahaan dan Brimob adalah bagian dari skenario agar masyarakat yang menolak bisa berubah pikiran dan menerima investasi tambang tersebut. Keberadaan perusahaan membuat masyarakat terpecah menjadi dua kubu yakni yang mendukung dan menolak. Bahkan perpecahan itu telah jauh merusak hubungan kekerabatan antar keluarga.

“Dulu kami sangat akrab dan di sini sangat damai. Tapi setelah perusahaan mencoba masuk melalui SK bupati, kedamaian tak ada sama sekali maupun di antara kakak-adik, atau anggota keluarga lainnya. Kini terasa ada dinding pemisah. Nah ini cara yang dilakukan oleh perusahaan asing China itu,” kata Opa William

Perpecahan antar keluarga dialami oleh Randi (21). Sejak tahun lalu ia diusir dari rumahnya karena menolak tambang sementara sang ibu menerima rencana kehadiran perusahaan. Kini Randi tinggal bersama saudaranya masih di Desa Kahuku. “Saya nelayan. (penghasilannya) Ngaruh (terkena) limbah,” katanya. Dan sejak perbedaan pendapat itulah, Randi sudah dua tahun tidak merayakan natal bersama ibunya.

“Ibaratnya dulu kami saling mengunjungi pada saat Natal. Anak bertemu orangtua dan bersenang-senang. Sekarang, orangtua tidak lagi mengakui anak karena anaknya menolak tambang. Natal kami kini berbeda gara-gara orang-orang perusahaan itu,” kata Opa lagi.

Desember tahun ini, adalah tahun kedua bagi warga Pulau Bangka merayakan natal yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumya. Tidak ada lagi kemeriahan dan saling kunjung antarwarga desa. Mereka kini terpisah oleh pro dan kontra tambang.

Jumlah penduduk Pulau Bangka sekitar 700 kepala keluarga atau 2 ribu lebih jiwa yang tersebar di empat desa, Kahuku, Lihunu, Libas dan Ehe. Desa terakhir, Ehe adalah desa pemekaran dari Kahuku. Keindahan pulau seluas kurang dari 5 ribu hektar ini tiada tara. Terutama keindahan taman laut dan karang-karang lunak yang menakjubkan. Kekayaan keanekaragaman hayati karang dan ikannya melampaui yang dimiliki Bunaken yang terkenal itu.

Percakapan saya dengan seorang peniliti biota laut di laboratorium matakarang awal Desember lalu, di dunia ini terdapat 500 genus terumbu karang, yang 80% di antaranya terdapat di perairan Pulau Bangka. “Tingkat biodiversitinya sangat-sangat tinggi,” kata peneliti tersebut.

Selain itu sejumlah mamalia laut yang menurut lembaga pemeringkat konservasi internasional tingkatnya rapuh seperti Dugong (Dugong dugon) juga sering menampakkan dirinya di sejumlah titik penyelaman di sekitar pulau. Beberapa jenis ikan hiu juga pernah dilaporkan melintas di daerah ini. “Ah, wajar saja pulau ini menjadi surga bagi para penyelam,” gumamku takjub.

Keindahan Pulau Bangka bukan saja di lautan, tetapi juga di daratan. Di hutan-hutan kecil pulau itu dihuni sejumlah hewan seperti rusa dan tarsius satwa endemik Sulawesi yang status konservasinya rentan punah. Pulau ini juga menjadi tempat penting migrasi sejumlah burung liar. Dan tentu saja keindahan serta kekayaan laut dan darat inilah yang menjadi alasan bagi warga Pulau Bangka terutama Desa Kahuku untuk mempertahankannya dari rencana operasi pertambangan.

 

Hijau lepas memandang
Daun dan pohon liar
Burung biru melintas 
Ku tak tau namanya 
Tapi indah.... Indah sekali
OIo indah....sampai ke hati

Gunung tinggi menjulang
dingin menembus tulang
Burung kecil bernyanyi 
Ku tak kenal namanya
Tapi merdu... Merdu sekali
Ooo merdu... sampai di hati...”

-- Slank

Keindahan pulau eksotik di bagian utara Sulawesi ini digambarkan dalam lirik lagu Grup Band Slank yang pertama kali ke Pulau Bangka tahun 2012 lalu untuk menyelam. Lagu berjudul “Alami” ini didedikasikan untuk masyarakat Pulau Bangka yang sedang melawan rencana pertambangan di desa mereka.

Penolakan warga terhadap perusahaan tambang bijih besi kini telah semakin meluas. Kaka “Slank” yang tahun ini berkunjung ke pulau ini ikut menolak investasi merusak ini. Pada Lebaran tahun ini, Kaka ke sana lagi untuk kali keempatnya. Bukan untuk menyelam, tapi untuk kampanye penyelamatan Pulau Bangka dari eksploitasi pertambangan. Kaka lalu membuat Petisi Save Bangka yang mengajak publik serta untuk mendukung kampanye ini.

Menurut Kaka, ia menolak karena peraturan pertambangan di pulau kecil jelas dilarang. “Uda jelas ga memperbolehkan! Pulau yang di bawah 5000 hektar ga boleh ditambang. Kedua, daerah itu kan bagian segitiga terumbu yang udah dijanjiin perlindungannya oleh enam kepala negara, termasuk Pak SBY. Kalau rencana ini jadi, pasti ancur semua, dan keindahaan laut kita bisa hilang,” kata Kaka dalam petisinya. 

Perjalanan protes penghuni Pulau Bangka dimulai tahun 2008. Beragam aktivitas penolakan telah dilakukan masyarakat mulai dari memasang spanduk di desa, demo di kantor bupati dan gubernur hingga mengajukan gugatan hukum atas izin tersebut. Protes dan proses gugatan hukum masyarakat didukung sejumlah LSM lokal dan nasional berakhir dengan kemenangan di tingkat Mahkamah Agung dimana pengajuan kasasi  pemerintah kabupaten ditolak sekaligus memerintahkan pencabutan izin pertambangan PT MPP. “Tapi hingga kini kami masyarakat belum menerima salinan putusan itu,” ujar Opa William.

Ia menambahkan, sebenarnya investasi  itu tidak perlu di pulau ini. Sebab janji bahwa investasi akan mendatangkan kemakmuran tidaklah masuk akal baginya. Karena dari dulu hingga sekarang, masyarakat Pulau Bangka hidup penuh berkecukupan.

“Dulu, sekarang sama saja. Alam ini sudah cukup bagi kehidupan kami. Di sini kami nelayan dan petani. Di laut ikan melimpah. Di darat ada kopra yang melimpah,” kata opa William, tokoh masyarakat Desa Kahuku saat kami sarapan. “Kami tidak ingin ada tambang. Tolak Tambang adalah harga mati. Sebab kalau ada tambang, yang ada hanyalah kerusakan dan keluarga kami pecah,” seru Opa. []