“...orang-orang sedang sekarat, Scott, dan kamu memiliki semua dokumen yang dibutuhkan untuk tahu kenapa itu bisa terjadi, tapi tidak berkata sepatah kata pun. Aku ingin tahu.....bagaimana caranya kamu bisa tidur nyenyak! -Erin Brockovich (2000)

Kutipan di atas adalah potongan percakapan dalam film Erin Brockovich (2000) antara Erin, yang diperankan oleh Julia Robert, dan Scott seorang pegawai dinas perairan di Hinkley. Tahun 1996 Erin Brockovich memenangkan gugatan melawan perusahaan raksasa Pacific Gas and Electric Company (PG&E) karena pencemaran Cr(VI) (hexavalent chromium) di aliran air minum warga Hinkley, California Selatan.

Setelah melalui proses peradilan panjang dan pembuktian, ditemukan bahwa ada kaitan antara penggunaan Cr(VI) di saluran pendingin PG&E yang bocor ke sumur-sumur warga dan memicu bencana kesehatan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya angka penderita kanker di sekitar pabrik PG&E, di wilayah sekitar 3km. Film Erin Brockovich (2000) mengantarkan Julia Roberts meraih piala Oscar sebagai pemeran wanita utama terbaik.

Pelakunya Orang Kuat atau Negaranya yang Lemah?

Saya kurang tahu, tapi mungkin di Indonesia, dalam kasus pencemaran limbah industri, Scott dalam film Erin Brockovich ini semacam pegawai BLPH/D, yang bertugas untuk melakukan pengawasan rutin terhadap buangan limbah industri. Di level lebih tinggi tentu saja Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memanggul tanggung jawab; memastikan industri berperilaku baik sesuai aturan yang ada. Tidak kurang satu parameter pun.

Ketika sebuah perusahaan, tekstil misalnya, di berikan Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC) tentu harus diawasi apakah yang di buang benar-benar sesuai dengan yang  telah di tentukan atau tidak, dan juga perlu ditelaah lagi apakah buangan limbah ini membahayakan, karena IPLC dapat di cabut apabila “Pembuangan limbah cair oleh pemegang izin dapat membahayakan kepentingan umum”.

Jika limbah telah merusak sawah warga, mengotori sumber air minum, dan membahayakan kesehatan, apakah itu tidak cukup dalam kategori “membahayakan kepentingan umum”?, atau mungkin definisi kepentingan umum sudah direvisi, entahlah.

Lupakan dulu California, kini kita ke Babakan Jawa

Ada pemandangan yang tidak biasa di pemukiman warga kampung Babakan Jawa, Rancaekek, kabupaten Bandung. Tanpa permisi, air limbah berwarna hitam pekat dan berbau menyengat mengalir di depan rumah-rumah warga, jauh dari kata segar. Seperti bukan aliran air, saking pekatnya, tak heran jika Abah Uban menyebut aliran sungai Cikijing sebagai “kopi asli Rancaekek” yang tinggal dikasih gula.

Di Babakan Jawa saya bertemu dengan Ade, gadis berusia 22 tahun yang lahir dan tumbuh besar di sana. Ia tak ingat kapan terakhir kali melihat air sungai yang mengalir di depan rumah-rumah warga itu tampak jernih, atau mungkin ia memang tidak pernah melihatnya. Saya juga maklum kenapa demikian, pencemaran sungai Cikijing terjadi sejak 1992, 23 tahun silam, atau sejak Ade masih dalam kandungan. Namun yang pasti ia ketahui, kini, air sungai telah bercampur dengan limbah dari salah satu pabrik garmen yang ada di daerah Rancaekek.

“Tapi air kahatex teh ga selalu item, jadi ada jadwalnya, warnanya, misalkan hari apa jam berapa keluar bau, kadang malem, tengah malem, kitu.” ungkap Ade.

Air sumur juga berwarna keruh, hampir tidak layak jika dimasak untuk minum. Jika dibuat teh masih mending, dalam artian keruhnya tertutup warna teh, tapi ya tentu saja itu pada dasarnya tetap keruh. Kondisi seperti ini sering memaksa Ade dan keluarga membeli air galon untuk kebutuhan minum dan memasak. Sedangkan untuk mandi dan mencuci tetap menggunakan air sumur meskipun  disaring terlebih dahulu dengan alat penyaring yang dibuat sendiri. Tidak hanya itu, pada musim penghujan seperti sekarang, saat debit tinggi, air sungai yang telah bercampur dengan limbah meluap dan menggenangi jalan desa.  

Sudah Lelah dan Hampir Menyerah

Saya ditemani oleh Ade sempat berjalan-jalan melihat kondisi persawahan di kampung Babakan Jawa, ada yang tak lazim, bukannya mengalirkan air irigasi ke sawah di sini petani justru menutup rapat-rapat agar air sungai tidak mengalir ke sawah mereka. Akibat pencemaran limbah, air telah berubah dari berkah menjadi musibah yang harus dijauhi, karena air sungai yang tercemar limbah tekstil beracun dapat merusak tanah. Sebagian warga di sini lebih memilih mengubah sawah irigasi mereka menjadi sawah tadah hujan,  untuk menghindar dari air limbah. “Tidak, kami tidak menggunakan air limbah untuk keperluan pengairan sawah. Sawah akan diolah ketika musim hujan jadi airnya menggunakan air hujan.” demikian penjelasan Bu Olih.

Di tepian sawah, terlihat anak-anak kecil bermain di sungai. Ya, anak kecil, sudah selayaknya bermain, dengan kepolosan khas anak-anak, mereka membasuh kaki mereka yang berlumpur dengan air sungai tercemar. Anak kecil tentu tidak tahu jika airnya tercampur limbah berbahaya, “airnya gatel.” begitu jawaban salah satu gadis kecil yang saya tanya. Apakah anak-anak ini salah bermain di sungai yang tercemar? Tidak, yang salah adalah pabrik yang seenaknya membuang limbah di tempat bermain anak-anak.

Sebenarnya warga tidak tinggal diam dengan kondisi pencemaran yang sangat mengganggu ini. Sudah sejak lama warga protes, awal 2000an warga sudah sering melakukan aksi protes pada pabrik maupun pemerintah sejak pencemaran masif terjadi. Warga juga meyakini pemerintah baik eksekutif (Gubernur/Bupati) dan legislatif (DPRD) tahu betul apa yang terjadi karena sudah beberapa kali mereka berkunjung. Sayang hingga saat ini tak ada perubahan berarti, rakyat terasa seperti ditinggal sendiri. Hal ini yang membuat sebagian warga menjadi sangat pasrah, “Ah…tos protes tos naon ge, neng, angger kieu.” terang Ibu Ai.

Ada Bahaya Mengintai Warga

Jika kita bertanya siapa yang paling dirugikan dari kasus pencemaran sungai Cikijing  ini tentu saja warga 4 Desa: Suka Mulya, Linggar, Jelegong, dan Bojongloa. Ada kerugian kesehatan, ekonomi, juga lingkungan yang harus diderita langsung oleh warga. Tetapi tidak berhenti di situ, Cikijing merupakan anak sungai Citarum, sungai terbesar di Jawa Barat yang bermuara di Bekasi, jadi pencemaran di Cikijing tidak hanya merugikan warga di empat desa tapi bahkan mereka yang ada di Jakarta.

Berkaca pada kasus pencemaran Kromium di Hinkley, misal, penurunan kualitas kesehatan tidak terjadi dengan cepat, tidak dalam satu malam, butuh puluhan tahun. Logam berat dan senyawa-senyawa organik berbahaya bersifat persisten, awet, sedikit demi sedikit masuk ke dalam tubuh, tak terasa, jika jumlahnya semakin tinggi bisa terjadi kematian mendadak. Justru hal seperti ini yang berbahaya, karena efeknya tidak langsung terasa tapi butuh waktu lama sehingga warga tidak menyadarinya.

Pencemaran telah berlangsung dalam waktu yang lama, karenanya harus segera dihentikan, tidak bisa ditunda, karena menunda bisa berakibat bencana. 

Untuk membaca detail latar belakang cerita ini sila kunjungi www.melawanlimbah.org