Kota Doha beberapa hari yang lalu adalah tempat konferensi iklim PBB (COP18) saya yang pertama dan tidak yakin apa yang musti diharapkan, saya segera teringat apa yang dipertaruhkan saat badai super Bopha beberapa hari lalu menghempas Filipina – sebuah badai yang akan sering mereka rasakan jika kita tidak berhasil membatasi pemanasan global.

Pemimpin negosiasi Filipina Naderev “Yeb” Saño pernah menyampaikan permohonannya yang cukup emosional kepada para pemimpin dunia untuk berhenti berlambat-lambat dan mulai membuka mata mereka untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya yang musti kita hadapi bersama.

Namun ketika pembicaraan iklim di PBB pada akhirnya usai, para politisi di Doha menunjukan bahwa mereka benar-benar diluar jangkauan saat berhubungan dengan kenyataan dan fakta akan perubahan iklim, mereka gagal untuk menambah kecepatan dan skala upaya internasional untuk mengurangi polusi karbon.

Saya tiba di Doha pada hari Minggu, 2 Desember, tepat ketika pembicaraan UNFCCC memasuki minggunya yang kedua. Beberapa pembahasan terdengar asing untuk saya dan beberapa lainnya terkesan kabur, tapi jika kita ingin bertahan dari krisis perubahan iklim ini, ada lima hal yang sudah jelas :

Pemerintah harus:

  1. Menepati periode komitmen kedua di bawah Protokol Kyoto mulai 1 Januari 2013;
  2. Meningkatkan komitmen mitigasi;
  3. Mengadopsi sebuah pedoman yang menuju kepada kesepakatan iklim global yang mengikat secara hukum sebelum tahun 2015 lewat;
  4. Mengisi pendanaan untuk green climate dan
  5. Menyiapkan kerangka kerja untuk melindungi hutan kita.

Jika ada yang kurang dari lima hal diatas makan akan berpotensi memicu terjadi bencana perubahan iklim.

Sementara pemerintah berhasil menyepakati periode komitmen kedua dari Protokol Kyoto, perjanjian hanya mengikat secara hukum untuk membatasi emisi gas rumah kaca, sebagian besar celah utama tetap utuh sehingga nilai untuk membatasi emisi karbon menjadi terbatas.

Pendanaan iklim juga tetap tidak cukup hanya dengan US$ 10 miliar yang tersedia. Tidak ada yang dilakukan untuk meningkatkan pendanaan bagi negara-negara yang rentan terhadap target yang telah disepakati sebelumnya sebesar US$ 100 miliar per tahun.

Banyak sekali Negara-negara yang harus disalahkan. Tapi Amerika Serikat menjadi yang terbesar dan penghadang terburuk dari semuanya.  Tak peduli apakah negara ini belum pulih benar dari kehancuran badai super Sandy. Tak peduli apakah jajak pendapat baru-baru ini menunjukan mayoritas penduduk Amerika mendukung kebijakan iklim.

Di luar dari janji-janji iklim sebelum pemilihan umum yang dibuat Presiden Obama, delegasi Amerika Serikat menghalangi setiap ukuran pada ambisi mitigasi dan keuangan

Perilaku Amerika Serikat sangat kontras dengan negara-negara berkembang di Asia Tenggara yang paling sedikit turut bertanggung jawab dalam menyebabkan perubahan iklim namun demkian yang paling rentan terhadap dampaknya.

Vietnam bertujuan untuk mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca sebanyak 8-10% dibandingkan dengan tahun 2010 dalam periode 2012-2020, sementara Malaysia menghargai komitmen yang dibuat di Kopenhagen untuk secara sukarela mengurangi emisi karbon sebanyak 40% di tahun 2020 dibandingkan dengan tingkat tahun 2005.

Bahkan kota Singapura berjanji mengurangi emisi secara sukarela sebanyak 7-11% di bawah rata-rata di tahun 2020 dan akan berkomitmen untuk pengurangan lebih lanjut dengan perjanjian global.

Sayangnya, kendati telah terjadi penurunan sukarela dalam emisi gas rumah kaca, deforestasi besar-besaran tetap berlanjut dan lebih banyak lagi pembangkit listrik tenaga batubara tengah dibangun di kawasan Asia.

Disinilah pembiayaan iklim, transfer teknologi, dan pembangunan kapasitas dalam negosiasi dapat membantu transisi negara – negara berkembang ekonomi rendah karbon sementara kita mengatasi pengentasan kemiskinan dan tujuan-tujuan pembangunan sosial lainnya.

Di Doha, pemerintah menyampaikan rencana kerja yang paling sederhana untuk melanjutkan diskusi mengenai kesepakatan yang meliputi batas waktu untuk mengembang teks negosiasi dan adopsi perjanjian di tahun 2015. Ini adalah secercah harapan.

Sementara perundingan iklim berakhir di Sabtu malam dan para menteri berada di penerbangan meninggalkan Doha, jumlah korban tewas akibat badai Bopha yang menghantam Filipina telah melewati 500 jiwa dan masih banyak lagi yang hilang dan tingginya kerusakan diperkirakan mencapai US$ 146 juta.

Di saat  palu terakhir diketuk sebagai tanda berakhirnya perundingan iklim besar itu, kapal Greenpeace M/Y Esperanza telah meninggalkan pelabuhan Manila untuk membantu krisis kemanusiaan di Mindanao bagian selatan dari Filipina.

Dalam solidaritas dengan ribuan keluarga korban dan masyarakat, ekspedisi Esperanza yang telah direncanakan untuk perlindungan laut akhirnya dibatalkan agar dapat mengantarkan bantuan bagi masyarakat. Dalam Bahasa Inggris, Esperanza artinya harapan.

Dan dalam masa krisis ini, harapanlah yang dapat kita andalkan. Harapan bahwa suatu hari nanti kita dapat mencapai kesepakatan iklim yang sangat dibutuhkan dunia.

Amalie Conchelle H. Obusan, juru kampanye iklim dan energi Greenpeace Asia Tenggara.