Sebuah penelitian yang dikeluarkan minggu lalu menunjukan bahwa hutan Indonesia menghilang lebih cepat dari negara manapun diseluruh dunia. Ini adalah berita yang mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan.

Di Sumatera dan Kalimantan, banyak kerusakan terjadi di hutan gambut. Pengeringan dan penggundulan hutan telah meninggalkan dampak kehancuran, mengeringkan lahan gambut akan mengurangi permukaan air dan menciptakan lahan luas yang rentan terbakar. Kabut yang dihasilkan tahun lalu telah terbawa sampai ke Singapura dan Thailand, dan saat ini kembali terulang lagi dan mengancam iklim global sekaligus mendatangkan bencana kesehatan bagi masyarakat luas. Kita butuh solusi. Namun beberapa perusahaan bersikap seolah-olah mereka bukan bagian dari masalah.

forest fire

Petugas pemadam kebakaran masuk ke tengah asap tebal akibat kebakaran hutan dekat desa Sontang Rokan Hulu, Riau, Sumatera.

Contohnya adalah Kelompok RGE, dinasti perusahaan yang dikendalikan sebuah keluarga dengan bisnis utama di sektor minyak sawit dan pulp (http://www.rgei.com/).  Salah satu anak perusahaannya adalah APRIL, perusahaan pulp dan kertas kedua terbesar di Indonesia. Perbandingan kontrasnya adalah pesaing utama mereka, Asia Pulp & Paper (APP) telah mengambil langkah kebijakan Nol Deforestasi lebih dari setahun lalu, dan baru-baru ini berkomitmen untuk melindungi dan memperbaiki 1 juta hektar hutan – yang sama dengan luas seluruh kawasan perkebunan mereka .

APRIL mengetahui bahwa ketika kebakaran hutan terus bertambah besar, dan pengawasan atas diri mereka akan semakin ditingkatkan. Tapi alih-alih memilih memperbaiki tindakannya, RGE Group mengeluarkan banyak uang untuk  menangkis serangan.  Awal tahun ini, APRIL merilis Kebijakanan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management Policy)  disertai dengan beberapa serial blog yang menggambarkan mereka sebagai korporasi yang bertanggung jawab kemudian menuding LSM  telah menebarkan kebohongan.

Tentu saja ini tidak benar.

Ini adalah 6 mitos yang diyakini APRIL akan dipercayai oleh Anda dan masyarakat luas, dan semuanya digunakan sebagai alasan untuk terus menerus merusak hutan.

Mitos #1: “APRIL tidak menghancurkan hutan Indonesia

Direktur HUMAS APRIL tahun lalu tertangkap basah melakukan wawancara dengan The Guardian dan mengklaim bahwa APRIL tidak terlibat dalam deforestasi (video ini layak ditonton dari menit ke 2.30 sampai selanjutnya).  Setelah wawancara dengan The Guardian, Direktur HUMAS APRIL mengundurkan diri, tapi kami kembali menangkap basah APRIL  merilis berita ini baffling claim in a leaked customer briefing,  mengklaim “Kami menghutankan kembali, kami tidak melakukan deforestasi”  RGE/APRIL menyiratkan bahwa menghancurkan hutan dan mengganti pohon-pohon yang usianya ratusan tahun dengan perkebunan monokultur sesungguhnya adalah hal yang baik. 

 deforestasi

Mitos #2: “Keberlanjutan adalah DNA perusahaan.”

Bulan Mei, kami mengunjungi salah satu konsesi RGE/APRIL di Pulau Padang, Sumatera. Perusahaan ini telah mengklaim bahwa mereka melindungi hutan dengan nilai konservasi tinggi sejak tahun 2005 – tapi nampaknya hutan alam di rawa gambut ini (tempat penyimpanan karbon yang sangat besar) tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam ‘penilaian’.  Setidaknya kami menganggapnya demikian karena APRIL menolak membuatnya menjadi penilaian publik. Tapi sudah jelas mereka tidak memasukan perlindungan untuk kawasan hutan semacam ini, seperti yang ditunjukan oleh foto-foto yang berhasil kami kumpulkan berikut ini.

Mitos #3:  RGE/APRIL mengklaim kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan mereka memiliki ‘dukungan kuat’ dari stakeholders eksternal. 

APRIL bersikap seolah-olah WWF dan bahkan Pemerintah Norwegia memihak mereka. Padahal tidak.

Inilah yang sesungguhnya dikatakan WWF,  bahwa kebijakan APRIL harus “diperkuat dan didefinisikan lebih jelas lagi.”  Bahwa APRIL ‘harus meluaskan komitmennya ke seluruh perusahaan-perusahaan RGE lainnya” dan termasuk “moratorium di seluruh kawasan hutan serta aktifitas pembersihan hutan dan lahan gambut”, dan  RGE/APRIL belum melakukan apa pun.

april letter

Mitos #4: Bahan baku APRIL tidak berasal dari hutan dengan Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value forest), seperti yang dibuktikan dari ‘peer review’, penilaian independen.

Faktanya adalah APRIL tidak menyediakan penilaian HCV bagi publik. Organisasi yang diklaim APRIL telah memberikan ‘peer review’ – jaringan HCV Resource – mereka tidak pernah melakukan hal semacam itu. Mereka hanya melakukan pemeriksaan untuk dua konsesi, dan tidak ada satupun yang berlokasi di Pulau Padang.  Greenpeace mendapatkan informasi rahasia (APRIL tidak pernah mempublikasikan informasi tentang basis pasokan mereka) bahwa pasokan APRIL didapatkan dari kurang lebih 50 konsesi.

Mitos #5: Kebakaran lahan gambut? Jangan salahkan kami, kami punya Kebijakan Anti Kebakaran.   

APRIL mengatakan mereka melarang pembakaran hutan di konsesinya sejak 20 tahun lalu. Tapi kebakaran hutan tidak terjadi secara mendadak dan spontan. Dan sebetulnya kebakaran lahan gambut biasanya tidak pernah terjadi sama sekali. Tapi lahan gambut yang dikeringkan rentan terbakar, dan ketika perusahaan seperti RGE/APRIL mengeringkan kawasan ini – seperti yang nampak dalam gambar – mereka menciptakan kawasan rentan terbakar. Rawa gambut menyimpan jutaan ton karbon dan ketika dikeringkan lalu dibakar, karbon dilepas ke udara. Kebakaran di kawasan seperti ini merupakan bencana bagi iklim global.

Mitos # 6: Kebakaran lahan gambut? Jangan salahkan kami, itu adalah kesalahan masyarakat lokal.

Indonesia menderita kerugian dari puncak titik-titik api yang tidak biasa sepanjang bulan Februari dan Maret tahun ini, dan RGE/APRIL dengan cepat menyalahkan masyarakat lokal. Tapi titik-titik api, berdasarkan data tahun 2013, 3,5 kali lebih sering terjadi di kawasan gambut yang telah ditebangi dibandingkan kawasan gambut yang belum ditebangi oleh perusahaan tak bertanggung jawab seperti APRIL.  Seperti menyiram rumah Anda dengan bensin dan menyalahkan orang lewat ketika akhirnya rumah Anda habis terbakar.

Active clearance and draingage of peatland forest inside a PT. Riau Andalan Pulp & Paper (PT RAPP) pulpwood concession on Pulau Pedang, Riau Province. PT RAPP is a subsidiary of APRIL, one of the pulp and paper companies in the RGE Group.

Tertangkap.

Beginilah pengelolaan hutan berkelanjutan yang dilakukan Group APRIL/RGE: lebih banyak deforestasi, lebih banyak pengeringan lahan gambut, dan resiko kebakaran yang lebih besar lagi. Bukti-bukti telah berbicara. Sampai APRIL dan semua perusahaan di bawah RGE Group menghentikan bulldozernya dan mengimplementasikan kebijakan Nol Deforestasi, semua yang terlibat dalam bisnis dengan Group ini berkontribusi pada krisis lingkungan paling parah yang pernah terjadi di Asia Tenggara.

Siapa pelanggan RGE/APRIL?

Perusahaan-perusahaan ini diketahui sebagai pelanggan RGE Group untuk produk-produk pulp dan kertas, perusahaan di balik Post-It Notes: 3M, International Paper perusahaan pulp dan kertas dari Amerika, serta Costco.

Rantai pasokan untuk kantor, Staples, baru-baru ini memberikan konfirmasi pada Greenpeace bahwa mereka tidak akan menyimpan stok  produk dari APRIL, setelah Greenpeace mengindentifikasi hubungan antara APRIL dengan perusahaannya di China. Antalis juga sudah mengkonfirmasi akan menghentikan bisnis dengan APRIL sampai mereka mengimplementasikan Kebijakan Konservasi Hutan.

Sudah waktunya pelanggan APRIL yang lain mengikuti langkah ini.

Siapa yang mendanai deforestasi?

Menurut Reuters, Santander Bank, di Spanyol, dan ABN Amro di Belanda adalah beberapa bank yang baru-baru ini memberikan bantuan pinjaman dana pada RGE Group. Kedua bank ini mengklaim memiliki kebijakan keberlangsungan sebagai panduan memberikan pinjaman untuk sektor kehutanan.  

Baru-baru ini juga Greenpeace menghubungi perusahaan-perusahaan ini, mendesak mereka untuk menangguhkan hubungan dengan RGE hingga group ini menghentikan keterlibatannya dalam deforestasi. Sudah waktunya APRIL dan perusahaan lain di RGE Group membersihkan aksi mereka.

Mari beraksi.

Hutan di Indonesia menghilang lebih cepat dibandingkan negara-negara lain di dunia. Perusahaan seperti APRIL harus menghentikan bulldozer mereka sekarang sebelum semuanya terlambat.

Ikut tanda tangani petisi untuk perlindungan hutan dan lahan gambut Indonesia sekarang!