Ketika banyak tempat di Nusantara masih basah disiram hutan, kabut asap telah muncul di Kalimantan Barat dan Riau. Nampaknya api tidak mau menunggu terlalu lama sampai musim kemarau panjang tiba untuk kembali melahap hutan dan lahan di kawasan tersebut. Kabut asap ini menganggu aktifitas masyarakat sehari-hari, termasuk kegiatan belajar mengajar khususnya di Kabupaten Siak dan Dumai. Tapi asap kali ini tidak menyurutkan langkah kami  menuju Desa Dosan, untuk menengok kebun sawit yang dikelola secara lebih bertanggung-jawab di sana.

Konon desa Dosan sudah ada sejak masa Kerajaan Siak Sri Indrapura. Penduduknya datang dari Suku Mandau yang merantau dan hidup dari berladang serta menangkap ikan di tepi sungai. Mereka hidup bergantung dari hutan untuk membuat rumah dan obat-obatan. Sebuah kehidupan yang bersahabat dengan alam telah dijalani selama bertahun-tahun lamanya.

keluarga di dosan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Disini tidak ada pengangguran”

Sore itu kami lewati dengan menyusuri desa, syukurlah asap tak terlalu nampak dan udara terasa sejuk. Melewati sebuah lapangan, terlihat beberapa remaja bermain bola volley. Anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah berlarian di tepi jalan dan Ibu-Ibu duduk-duduk bertukar cerita.  Walaupun pohon-pohon terlihat sedikit kering karena hujan yang  tak turun selama dua bulan, suasana sore itu tetap terasa menyenangkan.

Sambil menikmati kopi kami mendengarkan kisah Pak Dahlan seorang tokoh masyarakat Dosan tentang hujan yang tak kunjung turun di desanya. Pembicaraan kami akhirnya sampai pada topik sawit yang bersahabat, begitu istilah kami. Mendengar kata-kata itu Pak Dahlan sempat terdiam sebentar. “Saya tidak tahu apa itu sawit bersahabat.”, katanya sambil meraih gelas kopi dan meneguk isinya.  “Yang kami lakukan disini adalah berkebun dengan cara tradisional warisan kakek dan nenek kami. Tanpa menggunakan pestisida dan pupuk kimia, karena kami tidak pernah menggunakannya di sini. Selain itu kami merasa perlu untuk menjaga hutan yang tersisa, tidak membukanya menjadi lahan pertanian atau kebun sawit.”

“Sebelum ada sawit, desa kami adalah desa miskin. Dengan 4 kilo karet  yang saat itu baru bisa mendapat 1 kilogram beras”, Pak Dahlan meneruskan kisahnya. Penghasilan dari karet sangat minim dan hadirnya pabrik serta perkebunan sawit yang tidak bersahabat dengan lingkungan berskala besar mencemari Sungai Siak. Ikan semakin sulit ditemukan, semakin lama nelayan yang turun ke sungai untuk mencari ikan semakin berkurang jumlahnya.

Baru di tahun 2004 dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Siak masyarakat Desa Dosan mulai berkebun kelapa sawit. Bukannya tanpa tantangan karena kemampuan dan pengetahuan berkebun sawit yang dimiliki masih minim. Setelah melewati tahun-tahun yang sulit, dan dengan pendampingan  dari Yayasan Elang, sebuah LSM di Riau serta dibantu Greenpeace  - akhirnya  tahun 2010 masyarakat mulai menikmati hasil panen pertama kebun sawit dengan ide dan konsep lestari.

 

 

 

“Disini tidak ada pengangguran”, ujar Pak Dahlan sambil tersenyum.  Desa Dosan memiliki lahan perkebunan sawit sebesar 750 hektar. Masing-masing keluarga mengolah 2 sampai 3 hektar dengan hasil panen mencapai 2 ton setiap dua minggu sekali, dimana perkilo sawit dijual seharga Rp 1.500.

Berani untuk hutan

Ketika kami menyampaikan keprihatinan tentang ekspansi kebun sawit yang mengorbankan jutaan hektar hutan alam, bapak tiga putra ini kembali terdiam.  “Kalau saya hayati, di Dosan ini kami hanya melakukan apa yang semestinya kami lakukan. Menjaga hutan, karena dari sanalah hidup kami bergantung.”

Tidak hanya penduduk lokal yang bergantung hidup dari hutan. Hutan tersebut juga adalah habitat  Harimau Sumatera yang masuk dalam daftar merah IUCN yang merupakan satwa yang terancam punah, sementara keberadaan Harimau Sumatera adalah indikator penting dari sehatnya hutan.

“Bukan hanya karena konflik dengan manusia saja yang membuat jumlah harimau sekarang berkurang.”, Pak Dahlan melanjutkan. “Setiap harimau jantan di hutan memiliki teritorialnya masing-masing. Kurang lebih 400 hektar untuk satu harimau jantan dan beberapa harimau betina. Bayangkan ketika habitatnya terus dikurangi, harimau-harimau ini akan terpojok. Pilihan untuk mereka adalah turun ke kampung  untuk mencari makan dan menghadapi konflik dengan manusia atau pilihan lainnya adalah masuk dalam area harimau jantan lainnya lalu bertarung. Dalam pertarungan korban tak bisa dihindari.  Kalau begini terus, bisa-bisa habislah harimau-harimau itu.”

“Hujan yang tak turun selama dua bulan ini juga bisa jadi karena dampak berubahnya iklim.”, ujar Pak Dahlan sambil menjulurkan kepala menengok pohon-pohon yang daun-daunnya mulai berubah warna, kemudian melanjutkan “Kita perlu luasan hutan yang cukup untuk menangkis perubahan iklim, kan?”.

Berani untuk hutan bukan hanya sekedar slogan gagah-gagahan. Berani untuk hutan sudah dibuktikan oleh penduduk di Desa Dosan. Mereka memilih untuk menjaga dan melindungi hutan di kawasan konservasi Danau Naga Sakti. Sadar bahwa hutan memiliki peran yang penting bagi mereka dan bagi satwa yang hidup didalamnya, mereka tidak memperluas dan menebang hutan alam yang ada di wilayah konservasi, peraturan ini diperkuat dengan Perdes (Peraturan Desa) sebagai ujud komitmen bersama.

Gorengan Dosan

Sambil menikmati senja yang turun perlahan, kami meneruskan bincang-bincang ditemani teh, gorengan pisang dan bakwan.  Merenungkan lagi pengalaman hari ini, saya mengamini dalam hati bahwa tak perlu mengorbankan hutan untuk tetap bisa menikmati gorengan atau keperluan sehari-hari seperti mencuci piring dan bersih-bersih. Minyak sawit memang dekat sekali dengan saya dan Anda, produk minyak sawit ada di hampir setiap produk yang kita pakai sehari-hari.  Sudah waktunya  kita benar-benar cermat untuk mengetahui dari mana minyak sawit itu berasal.

Sebenarnya melindungi hutan bisa kita lakukan dimanapun, dan kita bisa memulainya kapanpun selama ada itikad dan niat baik.Hari ini saya sudah melihat dan membuktikannya sendiri, ketika manfaat alam seperti kelapa sawit diolah dengan bijaksana, maka alam akan kembali memberikan segala kebaikannya. Seperti yang telah dirasakan oleh Pak Dahlan dan penduduk desa lainnya.

…dan semakin malam, gorengan yang disajikan makin terasa nikmat ditemani suara alam di Desa Dosan.