Di Bulan Juli lalu Greenpeace menerbitkan sebuah laporan yang menunjukkan bagaimana harimau Sumatera terancam punah oleh praktik produsen pulp dan kertas terbesar di Indonesia, Asia Pulp and Paper (APP). Kami pikir itu alasan yang cukup untuk memberikan APP sebuah 'Golden Chainsaw Award' (Penghargaan Gergaji Emas) untuk memperingati acara Pengargaan Pulp dan Kertas Internasional di Brussels. Tolong jangan bertepuk tangan.

Habitat alami Harimau Sumatra di Taman Nasional Bukit Tigapuluh saat ini terjepit di antara konsesi-konsesi produsen kertas terbesar keempat di dunia. Beberapa hutan alam di sekitar taman nasional itu terancam musnah digantikan perkebunan akasia.

Meskipun demikian, APP menegaskan bahwa mereka berada di jalur praktik yang lestari. Hal ini sangat kontras dengan praktik mereka di lapangan dan ini merupakan alasan yang kuat untuk mempertanyakan tanggung jawab APP – produsen pulp dan kertas dari Sinar Mas Group.

Lahan gambut adalah salah satu penyimpan karbon yang paling penting di dunia dan kunci pertahanan terhadap perubahan iklim. Perusakan hutan dan lahan gambut kaya karbon menjadi penyebab utama Indonesia menjadi negara ketiga penghasil gas rumah kaca di dunia. Industri minyak sawit serta industri pulp dan kertas adalah pendorong utama emisi ini terus meningkat. Selain itu, dalam perundang-undangan Indonesia adalah tindakan ilegal untuk membuka lahan gambut dengan kedalaman yang lebih dari tiga meter,

­­­­Terdapat lebih dari cukup alasan mengapa rekan-rekan kami di China melakukan protes pada bulan lalu, dan lebih dari cukup alasan memberikan APP satu lagi Gergaji Emas atas perusakan hutan yang mereka lakukan di Indonesia. Acara  “The International Pulp and Paper Awards” di Brussels adalah kesempatan yang tepat untuk menyorot praktik APP. Lihat di bawah bagaimana harimau-harimau Greenpeace memberikan 'Golden Chainsaw Award' :

Mari kita berharap semoga APP memahami pesan tersebut. Kenyataan bahwa kami masih harusmenempuh perjuangan panjang sangat terlihat jelas dari pernyataan terbaru dari Aida Greenbury, Direktur Keberlanjutan dan Pelibatan Stakeholders dari APP.  Rekan kami di Inggris Ian menunjukkan dalam analisis yang tajam bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan APP.

Jika APP benar-benar serius tentang industri yang keberlanjutan, mereka harus menunjukkan bukti-buktinya dan diperiksa oleh para ahli independen. Yang terpenting adalah adanya komitmen untuk penghentian penghancuran hutan alam dan lahan gambut di Indonesia.