“Loh.. Lebaran kok malah ke hutan? Ndak ada apa-apa disini, orang sini malah pingin ke tempat lain, ke kota,” demikian ujar seorang warga ketika saya tiba di Bukit lengkung, sebuah dusun yang baru bisa dicapai setelah selama hampir 7 jam melewati perjalanan darat dari Pekanbaru.

Ya. saya tiba di Bukit Lengkung tepat di pagi pertama Idul Fitri 1435H. Dusun kecil itu terletak di ujung kabupaten Bengkalis, Riau. Dalam perjalanan, sepanjang mata memandang menuju dusun ini yang terlihat hanyalah hamparan kayu arang bekas kebakaran hebat di awal tahun 2014 yang juga menyebabkan bencana asap selama berhari-hari di kawasan tersebut.

Di saat hari besar semacam Idul Fitri seperti ini, biasanya hidangan dan santapan istimewa tersaji di setiap rumah untuk menyambut sanak keluarga yang datang berkunjung dan bersilaturahmi. Seharusnya itu juga yang terjadi di dusun Bukit lengkung ini. Namun sejak api menghadang dan memporak porandakan dusun mereka beberapa waktu lalu, warga dusun merayakan hari besar umat Muslim tersebut dengan kondisi memprihatinkan. Dapat bertahan hidup dengan sisa-sisa harta benda yang dimiliki saja sudah membuat mereka bersyukur.

Bencana besar yang sudah berlalu beberapa bulan masih terekam jelas dibenak mereka. Bagaimana sebagian warga kehilangan tempat berteduh dari teriknya mentari dan dinginnya angin malam, serta bagaimana mereka meratapi lahan satu-satunya tempat keluarga mereka bertahan hidup, hangus terlalap api tanpa menyisakan apapun.

Pak Satimin (61) bercerita bagaimana seluruh warga dusun, anak-anak dan perempuan diminta untuk mengungsi ke dusun terdekat yang berjarak 30 menit melewati jalanan bergelombang. Bukan hal yang mudah, mereka harus bahu-membahu menimbun jalanan yang juga ikut terbakar agar dapat padam dan dilalui kendaraan evakuasi. Dengan kondisi jarak pandang yang tak lebih dari 10 meter mereka bergerak seperti meraba jalanan dan berharap segera sampai di lokasi pengungsian. Sedangkan laki-laki bertugas menjaga kampung sembari mencoba memadamkan api semampu mereka. 

Pak Sutarno (57) mengisahkan bagaimana abu dan api seolah melompat dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika tidak ada berkah berupa hujan mungkin rumahnya beserta rumah beberapa warga dusun lainnya turut tertelan jilatan api. Satu hal yang patut disyukuri menurut beliau.

“Rumah saya adalah rumah terakhir di dusun yang nyaris ditelan api. Api berhenti tepat di rimbunan pagar tanaman nanas di belakang rumah saya” jelasnya. Jaraknya memang hanya beberapa langkah dari halaman belakang rumah beliau. Sedang warga yang kehilangan rumahnya memilih mengungsi ke tempat sanak famili, beberapa diantaranya belum kembali lagi ke dusun.

Hal lain yang disyukuri menurut beliau adalah bantuan dermawan baik berupa bahan makanan dan pakaian layak pakai termasuk yang mereka terima pada hari raya Idul Fitri tahun ini. Setidaknya ada pakaian layak yang bisa mereka kenakan untuk menyambutnya hari yang fitri.

 

Pak Sutarno menjelaskan di malam takbiran rombongan warga mengumpulkan uang bersama untuk menyewa sebuah truk yang biasa digunakan untuk mengangkut sawit untuk merayakan Idul Fitri dengan mengunjungi sanak keluarganya di tempat lain.

Bencana yang menimpa mereka beberapa waktu lalu membawa dampak besar bagi mereka di Hari Raya tahun ini. Biasanya mereka dapat saling mengunjungi keluarga untuk bersilaturahmi atau bahkan mampu membagi sebagian rejeki mereka kepada kerabat keluarga, namun sayang sekali kali ini mereka malah mendapatkan bantuan untuk dapat “mudik” bertemu dengan sanak keluarga.

Harapan mereka di Hari Raya agar pemerintah terketuk hatinya untuk membantu mereka bangkit kembali. Mereka juga mengharapkan agar keadilan ditegakkan dan aparat penegak hukum dapat menindak pelaku pembakaran lahan dengan tegas. Terlebih lagi kepada presiden terpilih saat ini, mereka menaruh harapan agar masalah seperti ini menjadi perhatian serius dan agar bencana serupa tidak perlu terjadi dan berulang lagi di kemudian hari.

Mari kita dukung mereka dengan mendesak presiden terpilih untuk segera menghentikan becana yang terus berulang selama 16 tahun di Riau dengan membuat regulasi perlindungan lahan gambut dan hutan yang tersisa di Indonesia. Untuk lingkungan Indonesia yang lebih hijau dan damai dan untuk saudara-saudara kita di Riau. Semoga tahun depan mereka bisa menyambut Idul Fitri dengan damai tanpa asap.

Klik disini untuk memberikan suaramu untuk hutan Indonesia