Minggu lalu Greenpeace Indonesia meluncurkan Tur Mata Harimau, bersama para aktivis kami akan melakukan perjalanan diSumatra, untuk menyaksikan langsung kerusakan hutan yang disebabkan oleh perusahaan seperti APP. Beberapa hari yang lalu, Greenpeace mengetahui bahwa bukan hanya kami yang melakukan tur sepanjang Sumatra tersebut. APP mengundang sejumlah jurnalis internasional untuk mengunjungi ‘proyek konservasi’ dengan bendera APP, sehingga mereka dapat membuktikan sendiri bahwa Greenpeace dan NGO lainnya telah melakukan kesalahan. Merupakan suatu hal yang cukup mengesankan, APP terlihat begitu meyakinkan para jurnalis bahwa mereka menghabiskan uang yang banyak untuk ‘pencitraan hijau’ mereka sehingga siaran pers tentang kejahatan APP dapat terhapus begitu saja.

Greenpeace sungguh beruntung mendapatkan salinan jadwal tersebut dari rekan yang cukup kami kenal baik dan adalah sebuah hal yang sungguh disayangkan jika kami tidak memanfaatkan kesempatan ini. APP dan humas perusahaan mereka, Cohn dan Wolfe tidak berencana untuk mengundang Greenpeace secara formal, bahkan para aktivis ‘harimau’ kami yang mengundang mereka dalam sebuah acara informal tadi malam untuk melihat langsung cerita sesungguhnya dibalik proyek konservasi mereka tersebut.

Proyek kepedulian tersebut adalah ‘ Pelestarian Biosfer’ Giam Siek Kacil di sebuah kawasan hutan yang berlokasi di sebuah kawah gambut di Sumatra. Di dalam kawasan tersebut terdapat hutan lindung, yang dikelilingi oleh zona penyangga hutan namun saat ini tersapu habis oleh perkebunan. Perkebunan ini dibuka dan dihancurkan oleh perusahaan bernama APP. Anda dapat melihat kedua kawasan ini, berikut wilayah konsesi APP di peta yang terdapat dalam blog ini.

Dan disini terdapat hal yang menarik. Ketika APP mendapatkan izin konsesi ini, disini terdapat kualitas hutan yang sangat bagus. Sebagaimana disebutkan dalam laporan Sosial dan Lingkungan yang Berkelanjutan milik pada tahun 2007 ‘Membangun Masa Depan Yang Berkelanjutan’ (pp141-3) menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan habitat spesies mamalia, burung, reptil dan berbagai jenis tumbuhan yang terancam punah.[1]

Peraturan perundangan di Indonesia mengatur beberapa pembatasan terhadap pembukaan lahan untuk perkebunan, diantaranya adalah:

  • Lahan gambut sedalam lebih dari 3 meter harus dilindungi. Pengolahan atau pembukaan lahan pada lahan gambut tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada sistem perairan. Kedua hal tersebut diatur dalam dan Keputusan Presiden.
  • Beberapa peraturan perundangan kehutanan menetapkan bahwa industri kertas dan kayu hanya dapat dilakukan pada lahan yang sudah tidak produktif (ditetapkan hingga tahun 2004 sebagaimana kawasan tersebut memiliki sejumlah kayu alami per hektarnya).
  • Dalam konsesi industri kertas, setidaknya hanya 30% dari kawasan konsesi yang bisa dimanfaatkan untuk perkebunan.

Anda pasti sudah bisa menduga, kebanyakan dari kawasan konsesi milik APP berlokasi di lahan gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter. Saat APP menyuplai kebutuhan industri tersebut, mereka membuka lahan dari yang seharusnya ditetapkan secara hukum, sementara kawasan konsesi merupakan kawasan hutan asli dengan jumlah kayu alami yang begitu banyak. Menurut analisa pemetaan dan investigasi di lapangan, diketahui bahwa di dalam kawasan konsesi tersebut hanya kurang dari 30% hutan yang tersisa.

Bukan hanya itu. Sejumlah pemegang konsesi ini ternyata juga terlibat kasus penebangan liar, kasus korupsi dan penggelapan pajak (kami telah memberikan bukti detailnya kepada para jurnalis).

Dan juga sejumlah konsesi yang serupa, berdasarkan analisa pemetaan yang dilakukan oleh koalisi beberapa NGO menunjukkan bahwa APP telah merusak hutan yang bernilai konservasi tinggi secara sewenang-wenang.

Tentunya Anda tidak bisa begitu saja menganggap enteng permasalahan APP ini. Kawasan inti hutan masih terjaga, zona penyangga hutan telah ditumbuhi pepohonan- terlihat hijau dan subur, Anda tidak dapat melihat kerusakan hutan yang terjadi sebelum perkebunan ini dibuka. Dan terdapat sebuah jalur pada kawasan yang dilindungi yang memperlihatkan bahwa masih ada hutan yang terjaga dengan baik, padahal kerusakan hutan yang telah terjadi sangatlah besar.

Dan tentunya sekali lagi APP dapat dengan baik meyakinkan para jurnalis bahwa tidak ada pembukaan lahan secara masif karena hutan alaminya masih ada.  Maka dari itu, kami memperlihatkan di dalam peta yang berhasil kami serhakan kepada jurnalis malam ini.

Pencitraan hijau yang sudah dilakukan oleh APP, tiba-tiba hilang begitu saja karena goresan yang begitu kecil namun fatal sehingga mampu memuntahkan cerita yang sesungguhnya dibalik kecurangan yang dilakukan oleh APP. Namun kami mengharapkan bahwa beberapa petunjuk yang sudah Greenpeace berikan kepada para jurnalis dapat mengungkap tentang peran APP sesungguhnya dalam ‘proyek konservasi’, sehingga saat ini sebuah pencerahan akan dimulai.

 


[1] Sumber berasal dari APP yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia berdasarkan hasil survey CITES Scientific Authority (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-LIPI: Laporan Akhir Keanekaragaman Blok Tsik Betung, Pelestarian Biosfer Giam Siak Kecil dan blok Bukit Batu, PT. Arara Abadi Conservation Forest, Propinsi Riau oleh bekerjasama dengan SMF and APP) yang bekerjasama dengan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam - PHKA).