Negara kita Indonesia, sangatlah kaya akan budaya, legenda dan cerita tentang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Sejak dahulu kala, para leluhur di tanah Batak yang tinggal berdekatan dengan habitat harimau, memanggilnya dengan sebutan Opung, sebuah panggilan kepada seseorang yang dihormati. Lain lagi di tanah Sumatera Barat dan Jambi. Sesosok Harimau disebut dengan panggilan Datuk atau Inyiak, panggilan keduanya merupakan panggilan kepada seseorang yang harus dihormati.

Masih banyak suku lain di Sumatera yang memanggil Harimau dan menempatkannya dalam posisi terhormat. Ada yang menempatkannnya sebagai simbol penjaga ketentraman wilayah, ada yang mendengarkan aumannya sebagai sebuah tanda akan datangnya bahaya.  Namun sayang, penghormatan yang diberikan dulu oleh leluhur dan adat, kini tidak lagi sesuai dengan kenyataannya.

Dahulu kala Harimau tidak hanya ada di hutan Sumatera, tapi juga di Jawa dan Bali. Saat ini di Jawa dan Bali kita sudah tidak bisa menemukan lagi keberadaannya sejak 1970-an, atau bisa dibilang telah lama punah. Indonesia kini hanya punya  Harimau yang tersisa di belantara hutan Sumatera, dan itupun jumlahnya tidak banyak. Jumlah Harimau Sumatera menurut perkiraan kini hanya tinggal 400 ekor saja (mungkin sudah berkurang), jumlah yang tidak lebih banyak daripada jumlah lembar kertas dalam satu rim. 

Nasib keberadaan Harimau Sumatera sangat terancam karena hutan yang merupakan rumah mereka saat ini terus dihancurkan keragaman pepohonan dan tumbuhan yang sangat kaya digantikan dengan tanaman monokultur akasia atau eucalyptus. Salah satu kehancuran terjadi di habitat harimau tepatnya di sekeliling Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Jambi.  Sebuah perusahaan kertas dan bubur kertas yaitu Asia Pulp dan Paper (APP) anak perusahan dari Sinar Mas Group, yang memasok banyak produk kemasan kertas bagi industri mainan dunia, terus menghancurkan hektar demi hektar isi hutan alam sumatera dan lahan gambut dalam yang berharga, hanya untuk dijadikan bahan baku produk kertas sekali pakai buang.

Ancaman besar dan penghancuran yang terus berlangsung terhadap hutan Sumatera inilah yang membuat UNESCO, sebuah badan PBB, akhirnya menempatkan hutan Sumatera  ke dalam daftar warisan dunia yang terancam keberadaannya  http://whc.unesco.org/en/list/1167

Harimau adalah makhluk pengelana yang mampu menjelajah hingga radius 100 km, mereka butuh hutan yang luas agar dapat berkembang biak dengan baik. Dan cara untuk menyelamatkan Harimau Sumatera dari kepunahan adalah dengan cara menyelamatkan rumah mereka yaitu hutan. APP harus berhenti melakukan praktik penghancuran hutan alam Sumatera yang tidak bertanggung jawab ini demi keberlangsungan hidup satwa–satwa dan seluruh makhluk hidup yang berada di hutan alam.  Jangan biarkan Harimau Sumatera hanya menjadi cerita dongeng untuk anak-anak Indonesia.

Mari kita menyelamatkan rumah Harimau, Hutan alam Indonesia yang kaya dan indah


-- Afif Saputra,  Digital Social Media