“APP Care” – itulah slogan yang digunakan anak perusahaan Sinar Mas yang telah menghacurkan “rumah harimau” di Sumatera. Ironisnya slogan itu menggunakan jejak kaki harimau sebagai simbolnya. Itu adalah slogan dan logo yang digunakan perusak rumah harimau ini untuk promosi mereka di negara-negara Eropa, Amerika dan Australia.

“Di tahun 2007, SMF (Sinar Mas Forestry) memimpin dan mendanai pengembangan pengelolaan kawasan konservasi secara multi pihak dengan tujuan untuk melindungi populasi dan habitat harimau Sumatera.”  (Kutipan dari Sinar Mas Forestry ini tidak sesuai dengan kenyataannya)

Jauh dari tempat dimana jejak kaki harimau itu gunakan untuk “mempercantik” muka APP, tepatnya di satu lokasi rumah harimau di Sumatera, seekor “raja hutan” tergeletak tak berdaya. Setelah mendengar kabar dari seorang teman bahwa ada harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrea) terjerat di Desa Bukit Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Pelalawan, Riau, jiwa saya bergejolak. Rasa penasaran berkecamuk dan bercampur sedih. Sebab data terakhir mengungkapkan hanya 400 harimau Sumatera yang tersisa di Sumatera dan kini terancam berkurang satu ekor.

Menempuh perjalanan panjang selama 5 jam dari Pekanbaru, Propinsi Riau, saya tiba di sebuah kota kecil bernama Sorek. Sesaat sebelum matahari bersinar, kami bergerak menuju lokasi terjeratnya harimau itu, yaitu di Dusun Sungai Medang, Desa Bukit Kesuma. Selama dua jam perjalanan yang terlihat di sisi kanan dan kiri hanyalah hamparan luas perkebunan sawit dan akasia. Dahulu ini adalah rumah harimau dan satwa lain yang telah dihancurkan untuk perkebunan akasia.

Di sebelah kanan, hanya beberapa ratus meter dari gerbang PT Arara Abadi, Kelompok Sinar Mas divisi pulp dan kertas, masih terlihat aktifitas penghancuran hutan alam oleh dua eskavator. Eskavator itu sedang mengumpulkan kayu-kayu alam di antara kanal-kanal yang dibuat untuk mengeringkan gambut. Tidak hanya menghacurkan rumah harimau, APP juga menghancurkan gambut, keanekaragaman hayati lainya yang sangat kaya dan  juga mengancam kestabilan iklim.

Sementara di sebelah kiri hamparan bukaan hutan alam telah ditanami bibit akasia. Beberapa tahun terakhir pemerintah Indonesia dan perusahaan perusak hutan seperti APP telah menaargetkan hutan alam untuk dihancurkan dan dijadikan perkebunan akasia. Dan praktik bisnis mereka menjadi bencana serius bagi satwa langka yang dilindungi termasuk harimau Sumatera.

Posisi Harimau ketika ditemukan

Tibalah saya di tempat terjeratnya harimau. Auman kerasnya seakan menyambut kami, entah berarti marah atau kesakitan. Raja hutan itu terkulai lemah, entah sudah berapa lama dia menderita di rumahnya sendiri yang telah hancur. Kaki kanan depannya membusuk di jeratan tali kawat. Sementara beberapa bagian tubuhnya yang terluka akibat rontaan membusuk hingga dihinggapi lalat. Ini adalah tragedi dimana jejak kaki harimau yang digunakan sebagai simbol “APP Cares” tetapi kenyatannya sang pemilik jejak kaki tersebut terkulai lemah setelah tujuh hari terjerat tanpa makan dan minum di konsesi APP.

Semua orang yang berada di sana berdecak kagum dan juga merinding. Wajah harimau lelah itu tetap memancarkan aura liar yang kuat. Belangnya begitu indah. Kami hanya bisa menikmatinya keindahan si Raja Hutan Sumatera ini beberapa saat sebelum semuanya berakhir dengan sebuah tembakan. Dorrr.. Dan peluru bius rompun berdosis 1 cc menancap di punggung harimau. Ia meronta, mengaum dan berputar lalu terkulai lemah. Kurang dari 3 jam kemudian, raja hutan yang kehilangan hutannya dan terancam punah itu mengaum sepenuh tenaga yang tersisa dan itulah auman sang raja hutan yang terakhir. Kami semua terdiam.

Ya, saya telah mencatat dengan mata dan kepala saya sendiri bahwa pada tanggal 1 Juli 2011, satu harimau Sumatera mati muda di usia 1,5 tahun di konsesi Sinar Mas/APP. Hutan di lansekap Teso Nilo yang seharusnya dilindungi sebagai habitat harimau Sumatera kini tengah dihancurkan. Kematian harimau Sumatera ini adalah bukti kebohongan APP, APP Cares – Bohong belaka.


Fotografer © Melvinas Priananda/Greenpeace

Note:
1. http://us.sinarmasforestry.com/environment_programmes_tiger.asp?menu=3&submenu=2