Seratusan “harimau Sumatera” yang kehilangan habitatnya “terkapar” di Kantor Kementerian Kehutanan RI yang memberi sinyal dukungan kepada pemerintah untuk segera menegakkan hukum dan menyelamatkan sisa hutan habitat mereka yang tengah dihancurkan oleh perusahaan-perusahaan pulp dan perkebunan, salah satunya adalah  oleh Asia Pulp and Paper (APP).

Saat ini hanya 400 ekor harimau Sumatera yang tersisa di alam liar yang terancam terusir dari habitat asli mereka di hutan hujan Sumatera. Kedatangan ratusan aktivis Greenpeace yang memakai kostum harimau sebagai bentuk dorongan kepada Menteri Kehutanan untuk  melindungi hutan alam dan gambut yang tersisa dengan mamastikan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan di sektor kehutanan. Kedatangan aktivis Greenpeace juga  sekaligus menagih janji penyelidikan lebih lanjut atas laporan satu tahun investigasi Greenpeace yang mengungkap keterlibatan APP dalam menebang kayu Ramin yang perdagangannya dilindungi secara internasional.

Pada tahun 2001, Indonesia menempatkan populasi raminnya dalam daftar spesies dilindungi CITES dalam rangka membantu menegakkan larangan penebangan dan perdagangan spesies tersebut yang diberlakukan pada tahun yang sama. Indonesia memberlakukan larangan ramin dalam upaya untuk menghentikan kehilangan lebih lanjut dari spesies dan degradasi habitatnya.

Pembatasan perdagangan ramin guna mencegah dari kepunahan secara tegas diatur sejak 2001 dalam hukum Indonesia dan peraturan Internasional CITES. Peta pemerintah menunjukkan bahwa sekitar 800.000 ha (28%) dari hutan rawa gambut Sumatera dibuka antara 2003 dan 2009. Sekitar 22% dari pembukaan ini terjadi di daerah yang saat ini dialokasikan kepada pemasok kayu untuk APP.

Pasokan kayu APP yang berasal dari habitat ramin sekaligus telah mengantarkan harimau Sumatera selangkah menuju kepunahan. Pembukaan hutan alam dan gambut telah mendorong satwa dilindungi di dalamnya semakin dekat dengan pemukiman masyarakat yang kemudian memicu konflik dan berakhir pada kepunahan harimau Sumatera.

Setiap tahun konflik antara harimau Sumatera dan manusia terus meningkat dan telah memakan korban pada dua belah pihak, penyebab utamanya adalah hutan dan gambut sebagai habitatnya terus dihancurkan salah satunya oleh APP. Menurut Dirjen PHKA bahwa sepanjang tahun 2011 saja, setidaknya terdapat 40 ekor harimau Sumatera yang mati.

Perusakan habitat harimau Sumatera yang menjadi target operasi APP telah mendapat tanggapan pemutusan kontrak di tingkat pasar global. Setidaknya terdapat 11 perusahaan global yang telah mempelajari laporan terakhir Greenpeace tidak lagi ingin dikaitkan dengan jejak buruk perusahaan tersebut.

 

Penengakan hukum yang harus dilakukan pemerintah Indonesia atas laporan ramin tersebut penting untuk memastikan bahwa bisnis kehutanan masih berjalan sesuai dengan aturan hukum dan usaha penyelamatan harimau Sumatera menjadi nyata.

Sejak satu bulan terakhir sudah lebih dari seribu orang bergabung dalam aksi mendorong Kementerian Kehutanan RI menegakkan hukum dan mendesak APP menghentikan praktik penghancuran hutan habitat harimau Sumatera dan ramin di hutan alam dan gambut. Dibutuhkan banyak lagi dukungan Anda untuk memastikan penyelamatan habitat hutan satwa dilindungi yang terancam punah. Ayo ikut beraksi!