Pertemuan PBB tentang pembangunan berkelanjutan yang diselenggarakan di Rio De Janeiro baru saja usai. Pertemuan yang sering disebut dengan Rio+20 ini merupakan pertemuan yang membahas isu pembangunan, sosial dan lingkungan. Banyak orang menaruh harapan besar pada pertemuan ini. 20 tahun lalu ditempat yang sama, para pemimpin dunia bersepakat untuk meletakkan dasar-dasar pembangungan berkelanjutan, pembangunan yang diharapkan kuat mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan dan keadilan sosial.

Masa depan yang kita inginkan, adalah tema pertemuan Rio+20. Namun demikian, masa depan yang diinginkan tersebut tidak kita temukan dalam naskah hasil pertemuan, kehadiran pemimpin-pemimpin dunia telah menjadi stempel “greenwashing”. Pada saat pemimpin dunia memberikan stempelnya dalam hasil pertemuan Rio+20, sekitar 20.000 orang melakukan protes di jalan utama Rio mendorong kepemimpinan pada pemimpin dunia untuk melakukan perubahan pada "masa depan yang kita inginkan".

Presiden SBY adalah salah satu yang paling bersemangat mendorong kesuksesan pertemuan Rio+20.  Kehadiran Presiden SBY di Rio+20 ingin mengukuhkan bahwa Indonesia ingin menjadi contoh pembangunan berkelanjutan. Upaya ini tentu diapreasiasi oleh Greenpeace. Komitmen Presiden SBY untuk mendedikasikan sisa masa jabatannya, melakukan yang terbaik bagi perlindungan hutan Indonesia patut untuk didukung. Indonesia telah berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen dan pengurangan emisi sampai dengan 41 persen pada tahun 2020. Adalah tantangan besar untuk benar-benar mengimplementasikan komitmen tersebut. Greenpeace telah menyampaikan dukungan kepada Presiden SBY pada pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu. Direktur Greenpeace Internasional menyampaikan langsung dukungan dan dorongan kepemimpinan presiden SBY, untuk tidak membiarkan pertemuan Rio+20 ini sia-sia dan Indonesia harus menjadi pelopor. Dukungan ini disampaikan Kumi Naidoo pada pertemuan singkat bersama presiden SBY sebelum penyampaian pidato Presiden SBY tanggal 20 Juni 2012 di acara “Side Event” pemerintah Indonesia.

Kembali ke realitas pertemuan Rio+20, bagi sebagian aktivis masyarakat sipil ini bukan Rio+20 melainkan Rio-20. Tidak ada kemajuan berarti yang seharusnya menjadi lompatan besar revolusi pembangunan yang lebih adil bagi lingkungan dan masyarakat marjinal. Pertemuan utama Rio+20 sendiri terisolasi sejauh lebih dari 40KM dari lokasi dimana  masyarakat sipil berkumpul. Dalam tenda-tenda, masyarakat sipil membahas ide-ide kreatif dan harapan menghadapi tantangan krisis lingkungan, keadilan dan ekologi. Masyarakat adat datang dari berbagai pelosok untuk menyampaikan realitas perubahan iklim serta realitas ancaman perampasan ruang hidup, namun para pemimpin dunia mereka memilih “mengisolasikan” diri dan mendekat pada konglomerasi global yang telah mengarahkan pertemuan Rio+20.

Hampir 10.000 orang mengunjungi kapal Greenpeace Rainbow Warrior untuk mengungkapkan harapan akan masa depan yang mereka impikan. Mereka tahu para pemimpin mereka telah gagal untuk menciptakan masa depan yang lebih adil, jauh dari harapan masa depan. Kita perlu membangun gerakan yang belum pernah telihat sebelumnya kalau kita tidak ingin masa depan yang kita inginkan hanya menjadi mimpi.