Kesibukan yang tidak biasa telihat di sebuah halaman bank pemerintah di Manokwari, Papua barat, kesibukan para mahasiswa dan  banyak  foto-foto tentang  hutan Indonesia sudah terpajang di sana. Dan sebuah spanduk besar bertuliskan “Selamatkan Hutan Papua untuk Kehidupan”.  Kamis, 26 April 2012 Greenpeace bersama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua mengelar pameran foto bertajuk “rekam jejak manusia, alam dan hutan Papua.”

 

Foto-foto tentang keindahan hutan, potensi alam tanah Papua, ancaman penghancuran surga Papua  yang saat ini sedang terjadi terlihat jelas dalam 60 foto yang bercerita dipameran ini. Rangkaian cerita yang terlihat dari foto ini bisa membuka mata dan membuat kening pengnjung berkerit  bahwa keindahan papua tengah terancam. Tidak saja tentang hutan Papua, foto-foto yang menceritakan hancurnya hutan di Kalimantan dan Sumatera juga kami tampilkan. Dari foto-foto tersebut kami bisa melihat betapa hancurnya hutan di propinsi lain di Indonesia, sebuah kenyataan pembukaan hutan secara besar-besaran  yang  menjadi perkebunan kelapa sawit

Juru kampanye hutan Greenpeace Charles Tawaru mengatakan “Setelah hutan Sumatra dan Kalimantan dijarah habis-habisan, maka yang tersisa saat ini hanyalah Papua, sebagai pemilik hutan alam yang relatif masih utuh. Tetapi keindahan hutan yang dimiliki Papua saat ini terancam karena hutan di Papua sudah menjadi incaran banyak pihak.”

Dari data kementrian kehutanan tahun 2000, luas hutan di Papua (Papua dan Papua barat) adalah 42,22 juta Ha. Pada tahun 2011 Kementerian Kehutanan menunjukkan luas hutan di papua adalah 34,03 juta Ha. Dari ke dua fakta tersebut, Greenpeace melihat hutan yang hilang pada periode 2000-2009 adalah 8,19 juta hektar atau rata-rata 910.000 hektar hutan hilang setiap tahunnya.  Sebuah kenyataan yang sangat menyedihkan, di tambah lagi ketika aku mendengar tentang mega proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate)

Proyek-proyek besar yang sedang berjalan di Papua seperti MIFEE sangat tidak melihat bagaimana kehancuran hutan Papua akan terjadi, tidak saja menghancurkan hutan proyek-proyek itu pun akan mendatangkan penderitaan bertambah untuk rakyat papua. Karena ketika hutan itu di hancurkan sektor kehidupan yang lain akan berdampak untuk rakyat papua. Hutan adalah sumber kehidupan untuk mereka. Semoga ada yang melihat itu semua dan mengkaji ulang proyek tersebut adalah suatu keharusan sebelum terlambat.

Masyarakat papua bisa maju sama seperti rakyat Indonesia lainnya dengan tetap menjaga hutan mereka yang lestari dan  memanfaatkannya dengan bijak. Untuk mendatangkan keuntungan bukan dengan cara menghancurkan hutan Papua tapi menjaganya.

Hujan lebat tidak mengurangi semangat dari acara ini, tarian dari para aktivis Komunitas Pesisir (KOMPES) dan Group tarian menyajikan aksi teatrikal dan tarian balada cendrawasih membawa semangat untuk terus berjuang bersama menyelamatkan hutan Papua. Burung cendrawasih hanya ada di Papua. Hutan Papua rumah untuk burung kebanggaan Papua yang tengah terancam habitatnya.

Rangakaian acara ini tidak hanya mengajak kita untuk membuka mata, tapi juga membuka hati dan pikiran kita tentang kenyataan yang terjadi saat ini di depan mata kita. Teman aku harap kalian tidak hanya berhenti saat kalian bertanya apa yang harus kita lakukan? tapi aku mau kalian ikut bersama kami melakukan suatu langkah nyata untuk hutan Papua dan Hutan Indonesia.  Ayo bergerak hutan ini sudah berteriak untuk di selamatkan Sekarang! Aku bisa menjaga hutanku, Kamu?