Saya tidak pernah menyangka bahwa bahaya bisa datang dari pakaiannya, dan hal ini luput dari perhatian saya. Mungkin tidak hanya saya, tetapi juga jutaan ibu-ibu lain diluar sana yang tidak mengerti tentang apa saja kandungan bahan kimia berbahaya yang diam-diam tersimpan dalam pakaian anak kita. 

 

Huntara baru saja berumur dua tahun. Di umurnya yang masih sangat kecil, saya cenderung menjadi “picky mother”. Saya rasa banyak Ibu yang punya kebiasaan yang sama dengan saya.  Kita berusaha melindungi anak kita dengan sangat berhati-hati dalam memilih semua kebutuhannya.  Mulai dari memilih makanan organik hingga penggunaan detergen pakaian khusus bayi.  

Saat saya membaca laporan “Monster Kecil” pada pakaian anak sepintas saya lega tidak menjadi konsumen merek-merek ternama yang - setelah produknya diuji- terbukti mengandung bahan kimia berbahaya. Namun, tunggu sebentar...  apakah ini berarti anak saya Huntara tidak terdampak? Bagaimana dengan pakaian anak lainya? Dengan merek-merek lain atau bahkan yang tak bermerek sekalipun yang banyak beredaran di pasaran di Indonesia?

Saya tidak pernah menyangka bahwa bahaya bisa datang dari pakaiannya, dan hal ini luput dari perhatian saya. Mungkin tidak hanya saya, tetapi juga jutaan ibu-ibu lain diluar sana yang sama tidak mengertinya dengan saya tentang apa saja kandungan bahan kimia berbahaya yang diam-diam tersimpan dalam pakaian anak kita.  

Tak banyak anak Indonesia yang menggunakan merek-merek pakaian ternama. Si kecil Huntara juga tidak. Meski demikian ternyata masalah terletak tidak saja pada merek-merek ternama tersebut.  Bahan-bahan kimia berbahaya ternyata masih  dipakai secara luas di industri pakaian/tekstil. Contohnya, bahan kimia Nonylphenol Ethoxylate (NPE).  Mereka diimajinasikan bagaikan monster-monster kecil yang dibuang ke sungai kita diakhir proses produksi tekstil.  Ia juga bercokol di dalam pakaian yang tersebar di seluruh dunia lalu dengan mudah dapat terlepas ke perairan saat proses pencucian.  Monster kecil ini mampu menyerupai hormon estrogen wanita dan mengganggu keseimbangan hormon mahluk hidup.  Bahkan telah ditemukan bahwa bahan kimia ini dapat membuat seekor anak ikan jantan menjadi berkarakteristik betina. Ah, seram sekali.

 

Jadi bayangkan saja apabila sungai-sungai yang tercemar itu digunakan untuk air minum atau bahkan ikan-ikan yang ditangkap dari sungai tersebut kemudian beredar di pasaran dan menjadi santapan kita, juga anak kita sehari-hari.

Itu baru satu dari sekian banyak bahan kimia yang beredar di pasaran.  Kampanye Detox Greenpeace meminta seluruh industri pakaian dan tekstil melakukan reformasi besar-besaran.  Saya berharap merek-merek ternama tersebut memimpin pergerakan dalam mengakhiri penggunaan bahan kimia berbahaya.  Kesuksesan merek-merek tersebut dapat menciptakan tren yang lebih lanjut akan bergulir menjadi reformasi pada seluruh industri pakaian dan tekstil – termasuk pada pakaian yang dipakai si kecil di rumah, apapun mereknya!

Saya mengajak Anda semua, juga khususnya para orangtua yang peduli kepada masa depan anak kita juga kondisi sungai yang menjadi gantungan hidup banyak masyarakat disekitarnya untuk bersuara lantang mengatakan tidak untuk penggunaan bahan kimia berbahaya dalam produk anak-anak (http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/toxics/Monster-Kecil/).