fog on riau river

Bulan Juni tahun lalu, saya menulis blog Kami Menghirup Asap Sementara Politisi Sibuk Berdebat dan Perusahaan Mencuci Tangan tentang bagaimana kami warga Provinsi Riau menderita akibat kepulan asap dari pembakaran hutan dan lahan. Waktu itu ribuan titik api mengepung daratan Riau dan kabut asap menyelimuti hampir seluruh wilayah Riau. Kami, tidak terkecuali anak-anak dan orang tua menghirup asap asap berhari-hari bahkan berminggu lamanya, dan hal ini terjadi kesekian kalinya dalam 7 tahun terakhir. Tahun lalu, sepuluh perusahaan sempat disebut pemerintah akan dihukum agar jera dan tak mengulanginya lagi.

Hari ini, tujuh bulan kemudian, tak pernah terpikir saya akan kembali menulis hal yang sama. Hari ini, di akhir bulan Februari, asap pagi ini terasa paling sesak dibandingkan satu bulan terakhir. “Musim” asap sebenarnya sudah kembali melanda bumi lancang kuning sejak akhir Januari lalu. Dan menurut saya, hari ini adalah puncaknya bagi warga Kota Pekanbaru.

titik api riau awal 2014

Data dari satelit Terra Aqua yang dipakai pemerintah sebagai rujukan menunjukkan titik api tertinggi terjadi pada Senin lalu (24 Februari) sebanyak 1,234 kejadian. Bengkalis adalah kabupaten yang paling besar kebakaran lahannya. Dan  dari apa yang saya baca di media, pemerintah lokal mulai merasa frustrasi. Jika pada awal Februari mereka masih bisa memadamkannya, namun sejak pekan lalu kobaran api gambut semakin membara.

Apa sebenarnya yang memicu pembakaran lahan, hutan dan gambut di Riau termasuk di Jambi, Aceh dan Kalimantan?

Dua pekan lalu saya beserta jurukampanye hutan Greenpeace Rusmadya Maharuddin bersama wartawan investigatif dari sebuah TV nasional mendatangi lagi lokasi kebakaran tahun lalu yang begitu besar.  Setelah memutar ulang video kebakaran dahysat yang juga saya saksikan sendiri waktu itu, kami memutuskan untuk berangkat menuju Kabupaten Rokan Hulu yang berbatasan dengan Kabupaten Bengkalis.

Setelah empat jam perjalanan, kami sampai di lokasi. Apa yang terlihat di bekas kebakaran tahun lalu? Semuanya bersih. Tak ada asap. Kami melihat hamparan itu kini berubah menjadi kebun sawit yang diperkirakan usia tanamannya kurang dari satu tahun. Masih kecil-kecil, tertanam rapi. Dan di antara barisan baby palm itu telah berdiri bangunan satu pos sekuriti yang di dindingnya tertulis nama sebuah perusahaan.  Jadi membakar lahan gambut yang kali ini menyebabkan jatuhnya korban ISPA sebanyak 22.301 jiwa, terbakarnya rumah warga, ratusan kepala keluarga mengungsi adalah untuk membuka kebun sawit baru.

Bisakah kamu membayangkan siklus hidup seperti kami di sini?

Kamu bisa membantu kami untuk mengakhiri siklus ini. Melindungi hutan adalah panggilan bagi kita semua, bukan hanya warga Riau atau masyarakat adat yang hidup di sekitar hutan. Banyak cara praktis untuk melindungi hutan, contohnya dengan penanaman pohon atau mengurangi konsumsi kertas. Namun mencegah perusakannya juga penting, karena itu kami mengajak kamu untuk  bergabung bersama kami dalam gerakan Protect Paradise untuk menjaga hutan Indonesia. Ini untuk kami, anak-anak kami dan untuk masa depan kita juga termasuk untuk satwa langka seperti Harimau Sumatera yang terus terdorong menuju kepunahan akibat habitatnya terus dimusnahkan. Bersuaralah, jangan biarkan paru-paru kami sesak lagi tahun depan karena harus menghidup udara penuh asap.

Baca juga : Menanti Kebijakan Perlindungan Total Hutan Gambut dari Presiden

riau forest fire