Pada tanggal 20 Februari 2016 saya membaca sebuah artikel berita online salah satu media nasional yang judulnya ‘Hanya Jakarta yang Siap Bangun Insinerator’. Terlepas kenapa hanya Jakarta yang siap kawan-kawan bisa baca lebih lanjut. Namun yang menarik perhatian saya adalah salah satu concern yang seorang peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sampaikan dalam artikel tersebut.

“Wahyono mengingatkan agar pemerintah tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di beberapa kota yang salah perhitungan dalam menetapkan baku mutu pencemaran. Akibatnya, warga di sekitar kawasan insinerator menjadi terpapar senyawa berbahaya tersebut.

Warga di sekitar kawasan insinerator terpapar senyawa berbahaya? Sudah terjadi di Indonesia? Dimana kajiannya? Bukankah masyarakat harusnya diberikan informasi atas hal tersebut dan bukan hanya itu, tapi juga hak untuk menolak proyek (apapun) yang bisa membahayakan kesehatan mereka?? 

Terlebih lagi untuk warga di 7 kota (Jakarta, Bandung, Tangerang, Semarang, Surabaya, Solo dan Makassar) yang akan menjadi ‘pilot project’ pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah yang direncanakan menggunakan teknologi thermal seperti insinerator, gasifikasi thermal dan pyrolisis.

Laporan Greenpeace pada tahun 2001 mengungkapkan bahwa penduduk yang tinggal dekat insinerator berpotensi terkena bahan kimia berbahaya melalui udara yang tercemar atau hasil pertanian (sayuran, telur dan susu) yang terkontaminasi. Peningkatan kadar dioxin [iv]  telah ditemukan dalam jaringan tubuh warga dekat insinerator di Inggris, Spanyol dan Jepang yang kemungkinan besar akibat paparan zat berbahaya dari insinerator.

Di Finlandia, terdapat peningkatan kadar merkuri pada rambut penduduk yang tinggal dekat insinerator. Pada anak-anak yang tinggal dekat insinerator ‘modern’ di Spanyol ditemukan peningkatan kadar urinary thioethers , sebuah biomarker dari paparan bahan kimia beracun. Selain penduduk setempat, terdapat pula beberapa penelitian yang menunjukkan peningkatan kadar Dioxin pada jaringan tubuh pekerja di instalasi insinerator, baik yang baru atau lama.

Belum cukupkah bukti agar pemerintah berhati-hati dan menentukan langkah secara bijak?

Beberapa hari sebelumnya di tanggal 10 Februari 2016, saya juga membaca berita lain terkait insinerator dengan judul “Gunakan Insinerator Untuk Sampah, Ini Yang Harus Disiapkan” . Yang menarik perhatian saya adalah apa yang disampaikan tim BPPT

“Incinerator atau tungku pembakar beresiko untuk melepaskan gas berbahaya bila penggunaannya tak benar. Gas yang dikeluarkan berupa furan, SOx, NOx, dan yang paling berbahaya, dioksin. Supaya gas berbahaya ini tak lolos, tungku harus mencapai suhu 1000 derajat Celsius saat pembakaran berlangsung.”

Namun, menurut Rudi, karakter sampah rumah tangga Indonesia sulit untuk membuat suhu ideal ini tercapai. Sebanyak 60-70 persen dari total sampah yang menumpuk di tempat penampungan bersifat organik atau basah. Sampah-sampah ini memiliki kadar kalor yang rendah, dan sulit terbakar. Belum lagi, kalau tak langsung dibakar dan terkena hujan, kadar airnya akan terus bertambah.”

There it is! Yang saya tangkap dari penggalan di atas yaitu bahwa tidak ada jaminan gas-gas berbahaya tersebut tidak akan lolos ke atmosfir dan mencemari udara yang kita hirup. Dan jangan lupa, bahan-bahan kimia yang sedang kita bicarakan diantaranya bersifat persisten, bioakumulatif dan berbahaya dalam jumlah yang kecil sekalipun, tidak ada batas aman. Lagipula tidak hanya gas berbahaya yang insinerator dan sejenisnya hasilkan, tapi juga abu sisa pembakaran yang juga terkontaminasi bahan beracun dan juga limbah cair. Kecuali...

“Supaya bisa terbakar dengan baik, harus menambah bahan bakarnya (batu bara atau solar),” kata dia. Namun, hal ini berarti ada lagi tambahan biaya yang harus dikeluarkan.

“Padahal, untuk membangun tungku pembakar berkapasitas 1.000 ton, pemerintah sudah harus merogoh kocek Rp 1,3 triliun. Belum lagi biaya perawatan yang bisa mencapai miliaran.”

Pada tahap ini saya kira kita semua sudah familiar dengan bahaya dari membakar bahan bakar fosil. Tidak perlu kita bahas disini. Agar bekerja secara efektif dalam membakar sampah, insinerator dan sejenisnya bergantung pada jenis sampah berbasis karbon seperti kertas, atau berbasis petroleum seperti plastik dan produk lainnya yang kebanyakan mengandung bahan beracun berbahaya dan sampah makanan.

Dengan semangat gerakan #BebasSampah2020 yang menggelora yang tentunya kedepan akan melibatkan usaha masif Pengurangan (Reduce), Reuse, Recycle dan juga pemilahan dan pengkomposan, tentunya produksi sampah akan terkurangi. Tapi lantas apa yang akan dibakar? Solar dan Batubara? Dan dengan fakta potensi bahayanya dan begitu mahalnya teknologi ini (yang ngomong-ngomong pakai duit pajak kita) pantaslah kita semua bertanya, apakah layak?

Tapi masalah sampah sudah begitu menumpuk? Ah, itu dia.. Sederhana saja, ada teknologi lain yang lebih aman, salah satunya anaerobic digestor yang juga menghasilkan energi. Tapi sebelum itu, tentu kita semua harus belajar dari kesalahan kita dalam mengelola sampah dan kemudian mengambil langkah-langkah strategis jangka panjang untuk menghindarkan kita dari masalah yang sama. Langkah-langkah yang melibatkan dan memastikan pertanggungjawaban produsen dan konsumen.

Produsen harus bertanggungjawab terhadap sampah produknya terutama yang mengandung bahan kimia beracun berbahaya, ia harus mendesain produk dan packaging yang seminimal mungkin menjadi sampah, dan ia harus menghapuskan penggunaan semua bahan kimia beracun berbahaya dari proses produksi dan produk mereka. Konsumen pun harus mulai mengkonsumsi secara bertanggungjawab dan berkelanjutan. Dan.. untuk menciptakan itu semua, komitmen politik yang kuat dan langkah-langkah kebijakan yang tepat harus diambil oleh pemerintah.

Masalah pencemaran bahan kimia beracun berbahaya industri yang menimpa sungai-sungai sumber air kita di Sungai Citarum, Ciujung, Ciliwung, Brantas, Sumatera, Kalimantan, Papua dan lainnya masih menunggu untuk diselesaikan, jangan sampai udara kita juga dicemari oleh bahan kimia beracun berbahaya dari teknologi kotor insinerator dan sejenisnya. Semangat dan komitmen masyarakat sudah bergelora, tidak ada yang tidak mungkin.



[iv] Bahan kimia paling beracun yang diketahui oleh ilmu pengetahuan sejauh ini. Insinerator merupakan salah satu sumber utama emisi Dioxin di dunia.