Berlayar dengan Rainbow Warrior selama hampir  dua minggu lebih mulai dari Jayapura hingga kini  di laut Flores telah membuka mata saya akan betapa luasnya lautan kita. Meskipun saya baru menjelajahi sebagian kecil saja dari lebih 17.000 pulau kita, menapaki setitik kecil dari total luas pantai sepanjang lebih dari 90.000 kilometer, dan hanya berkesempatan menyelami beberapa tempat dari total 70.000 kilometer persegi kawasan terumbu karang yang terdapat di Indonesia, namun saya sangat bangga akan kekayaan laut bangsa ini yang tiada duanya. Saya tidak sendirian dalam hal ini, kru kapal Rainbow Warrior yang berasal dari berbagai suku bangsa  juga mengungkapkan kekagumannya terhadap keindahan alam Indonesia ketika kami berhenti di beberapa tempat seperti Jayapura, Teluk Cendrawasih, Jamursba Medi, dan Raja Ampat.

Bangsa bahari, itulah julukan kepada Indonesia kita kala itu. Sejarah mencatat banyak kerajaan-kerajaan nusantara, seperti Majapahit dan Sriwijaya yang termasyhur karena kekuatan armada maritimnya yang mampu berlayar jauh ke berbagai belahan dunia hingga benua Afrika, dan karena kekuatan maritim di lautan itulah, kerajaan tersebut sempat menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan yang disegani terutama di kawasan Asia. Tapi itu hanya kejayaan sejarah di masa lalu, kenyataan saat ini menunjukkan sebaliknya, kita lemah sekali dalam melindungi kekayaan dan wilayah laut kita.

Tadi malam saya bersama seluruh kru Rainbow Warrior menonton film Huhate di Larantuka Film ini menceritakan bagaimana nelayan di Larantuka, Flores menerapkan praktik perikanan yang lestari dan ramah lingkungan menggunakan teknik pole and line. Teknik penangkapan ikan ini hanya menggunakan pancing dan umpan saja,  untuk memastikan  hanya spesies ikan tuna atau cakalang saja yang ditangkap, dan tidak akan ada tangkapan sampingan seperti hiu, lumba-lumba atau penyu, seperti yang bisa terjadi jika menggunakan jaring cincin, dan pukat harimau.

Teknik ini adalah solusi tepat yang harus didorong luas guna memastikan masa depan perikanan kita tetap terjaga. Namun sayangnya, para nelayan ini malah menghadapi masalah yang lebih besar akibat penangkapan ikan yang tidak lestari yang banyak terjadi di sekitar laut mereka. Penangkapan ikan berlebihan oleh kapal industri dan kapal asing skala besar dengan menggunakan purse seine seolah-olah memagari pergerakan ikan dan mengambil semua makhluk yang ada di laut tanpa terkecuali dan tanpa menyisakan apapun untuk nelayan kecil ini. Dan fakta ini banyak terjadi di tempat lain di seluruh Indonesia, bukan di Larantuka saja.

Mungkin kebanyakan dari kita dapat dengan mudah membeli atau mengkonsumsi lezatnya hasil laut dari pasar, swalayan, restoran, atau lewat produk kalengan yang banyak tersedia. Namun kita semua perlu melihat lebih jauh lagi ke depan, bagaimana kita memperlakukan laut saat ini akan berdampak besar kepada hidangan di meja makan kita di masa mendatang. Sepanjang perjalanan bersama Rainbow Warrior kami menjumpai beberapa nelayan yang mengeluhkan hasil tangkapan yang mulai berkurang, sulit didapat, dan kalaupun ada, ukurannya tidaklah sebesar dulu. Laut kita memang luas, namun ikan didalamnya semakin berkurang.

Cara kita memperlakukan  tata kelola laut yang carut marut perlu segera diperbaik.  Kekayaan alam laut Indonesia luar biasa, mulai dari mangrove, terumbu karang, pesisir, pantai dan sumber daya perikanan semuanya ada di pesisir dan lautan kita. Tak banyak bangsa di negara ini yang dianugerahi sumber daya alam seperti ini, karena itu kita perlu bekerja lebih keras menjaganya, kita perlu membangkitkan lagi semangat bahari, semangat mencintai lautan, dan mengembalikan kejayaan bahari Indonesia seperti masa lalu.

Bergabunglah bersama Greenpeace dalam upaya untuk melindungi lautan, jadilah Ocean Defender,  Pembela Lautan, dan mari kita bekerja keras untuk Lindungi Lautan Kita demi Masa Depan. 

Jangan lupa kunjungi Rainbow Warrior yang akan berlabuh di Bali dan Jakarta.